Wiranto Ingin Indonesia Punya Pabrik Suku Cadang Sukhoi

Christie Stefanie, CNN Indonesia | Jumat, 22/09/2017 17:47 WIB
Menko Polhukam Wiranto menyebut Indonesia harus mendapatkan keuntungan berupa alih teknologi dari negosiasi pembelian pesawat Sukhoi SU-35. Indonesia bernegosiasi dengan Rusia untuk membeli 11 unit pesawat Sukhoi SU-35. (AFP PHOTO / ERIC PIERMONT)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia akan memperketat syarat negosiasi pesawat Sukhoi SU-25 dengan Rusia agar tetap diuntungkan dalam proses jual beli, misalnya saja dengan mendapatkan alih teknologi.

"Kita nanti diberi kesempatan membangun pabrik suku cadang sukhoi di Indonesia," ujar Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto usai menghadap Presiden Joko Widodo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jumat (22/9).

Ia mengatakan, hal itu diperlukan agar Indonesia menjadi pusat pemasaran Sukhoi beserta perlengkapannya di Asia.


Wiranto juga menyebut masih terbuka kemungkinan pembayaran Sukhoi menggunakan industri perang militer buatan Indonesia seperti jaket antipeluru.

Pemerintah Indonesia dan Rusia sebelumnya telah sepakat membeli 11 unit Sukhoi SU-35 dengan sistem imbal beli, dengan total nilai pengadaan sebesar US$ 1,14 miliar. Komoditas yang akan ditukar mencakup kelapa sawit, kopi, dan tembakau.

"Maka akan menghidupkan industri dalam negeri dan memberi peluang mengekspor barang dengan harga wajar," kata mantan Panglima ABRI ini.

Ia menyatakan, Rusia terbuka dengan syarat-syarat yang diajukan Indonesia dan dengan proses negosiasi diharapkan selesai akhir tahun.

"Mereka ternyata setuju, kan mereka butuh. Kita juga bisa menandatangani untuk menambah armada sukhoi," ucapnya.

Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo juga menyinggung masalah pengadaan pesawat tempur Sukhoi SU-35.

Lamanya proses pengadaan Sukhoi tersebut, menurut Gatot telah menyebabkan Skudaron Udara 14 Lanud Iswahyudi, Jawa Timur tidak beroperasi selama 18 bulan karena pesawat tempur F-5 E/F Tiger II telah purna tugas.

"18 bulan skuadron itu ditutup karena F5 tidak bisa terbang lagi, calon penggantinya itu Sukhoi 35 sampai sekarang belum ada kejelasan," kata Gatot, Jumat (8/9).


(vws)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK