TNI: Amunisi Tajam Pesanan Brimob Polri Bisa Mematikan

Dias Saraswati , CNN Indonesia | Selasa, 10/10/2017 14:35 WIB
TNI: Amunisi Tajam Pesanan Brimob Polri Bisa Mematikan
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal TNI Wuryanto mengatakan amunisi tajam yang dipesan oleh Korps Brigade Mobil Polri memiliki kemampuan luar biasa dan mematikan.

Wuryanto mengatakan setidaknya ada dua keunggulan yang dimiliki amunisi tajam tersebut.

Pertama, amunisi tersebut bisa meledak dua kali. "Meledak pertama, kemudian meledak yang kedua, dan menimbulkan pecahan-pecahan dari tubuh granat berupa logam kecil yang melukai maupun mematikan," kata Wuryanto di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (10/10).
Keunggulan kedua, lanjut Wuryanto, amunisi tersebut bisa meledak sendiri tanpa ada impact atau benturan setelah 14-19 detik dilepaskan dari laras.

"Jadi ini luar biasa. TNI sendiri sampai saat ini tidak punya senjata dengan kemampuan seperti itu" ucap Wuryanto.

Wuryanto menjelaskan, amunisi tersebut biasanya digunakan untuk menghancurkan perkubuan. Dengan menggunakan amunisi tersebut, orang-orang yang ada di belakang perkubuan bisa langsung dihancurkan.
TNI: Amunisi Tajam Pesanan Brimob Polri Bisa MematikanKepala Korps Brimob Polri Irjen Murad Ismail menunjukkan jenis senjata pelontar granat ketika memberikan keterangan di Mabes Polri. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Di sisi lain, Wuryanto mengatakan sampai saat ini amunisi yang dimiliki oleh TNI masih sesuai dengan standar militer yang diatur dalam Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1976 tentang Peningkatan Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api.

Standar amunisi yang dimiliki militer adalah amunisi dengan kaliber di atas 5,56 mm. Sedangkan untuk amunisi nonmiliter standarnya kaliber di bawah 5,56 mm.
Terkait penahanan terhadap senjata yang dipesan Brimob itu, kata Wuryanto, murni untuk menerapkan aturan.

Lebih lanjut, Wuryanto mengatakan TNI meminta ada peraturan presiden soal pengadaan senjata dan amunisi yang bisa dijadikan sebagai dasar hukum.

Polemik impor senjata dan amunisi Brimbob muncul setelah tertahannya kargo berisi senjata yang tiba dengan pesawat maskapai Ukraine Air Alliance, di Bandara Soekarno Hatta, pada Jumat (29/9) pukul 23.30 WIB.

Kargo itu berisi senjata  dan amunisi. Tercatat ada 280 pucuk senjata Stand Alone Grenade Launcher (SAGL) kaliber 40 x 46mm yang dikemas dalam 28 kotak (10 pucuk/kotak), dengan berat total 2.212 kg.

Sementara amunisi dalam kargo itu adalah amunisi RLV-HEFJ kaliber 40x 46mm, yang dikemas dalam 70 boks (84 butir/boks) dan 1 boks (52 butir). Totalnya mencapai 5.932 butir dengan berat 2.829 kg.
Kargo tersebut membutuhkan rekomendasi dari Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI dan lolos proses kepabeanan.

Wuryanto mengatakan amunisi tajam sebanyak 5.932 butir pesanan Brimob itu telah dipindahkan ke gudang amunisi Mabes TNI.

Amunisi tajam tersebut sesuai katalog yang ikut disertakan. Dalam katalog tersebut, dijelaskan amunisi tersebut merupakan amunisi tajam yang memiliki radius mematikan 9 meter dan jarak capai 400 meter.
Jadi ini luar biasa. TNI sendiri sampai saat ini tidak punya senjata dengan kemampuan seperti ituKapuspen TNI Mayor Jenderal Wuryanto

Sementara itu sebelumnya Kepala Korps Brimob Polri Inspektur Jenderal Murad Ismail mengatakan, bahwa 280 pucuk senjata dan 5.932 butir amunisi yang diimpornya bukan termasuk senjata berbahaya.

Menurutnya, penggunaan amunisi itu lebih untuk memberi efek kejut pada situasi rusuh.

"Saya tegaskan (senjata ini) bukan untuk membunuh, tapi untuk mengejutkan," kata dia, di Mabes Polri, Jakarta, Sabtu (30/9) lalu.

Murad menjelaskan, senjata ini dipakai dalam situasi huru-hara dan sifatnya tidak membahayakan. Misalnya, Polisi menembakkan senjata ini ketika sasaran bersembunyi bersembunyi di balik pohon, agar sasaran kabur.
Amunisinya pun jenisnya peluru tabur. Larasnya tidak memiliki alur yang biasa ada pada senjata mematikan. Jarak tembaknya paling jauh 100 meter. Penggunanya pun sudah terlatih.

"Semua komandan yang pakai ini sudah pernah kita latih di Cikeas cara penggunaannya," ujar Murad.

Ia menambahkan, senjata tersebut akan disebar di sejumlah daerah rawan konflik, seperti Poso, Sulawesi Tengah, dan Papua.