Polri Tutup Mulut Soal Pesanan Amunisi Mematikan

Martahan Sohuturon , CNN Indonesia | Rabu, 11/10/2017 12:29 WIB
Polri Tutup Mulut Soal Pesanan Amunisi Mematikan Polri tak mau menanggapi pernyataan TNI soal pesanan amunisi mematikan dan memilih menghormati Menko Polhukam Wiranto. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menolak menanggapi pernyataan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang menyebut bahwa amunisi pesanan Korps Brigade Mobil (Brimob) memiliki kemampuan luar biasa dan mematikan.

Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto memilih bungkam dan tidak mengomentari pernyataan yang dilontarkan Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal TNI Wuryanto di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (10/10).

Setyo mengatakan, Polri menghormati keputusan yng telah diambil oleh Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto dan meminta wartawan menanyakan perihal isu lain, seperti pengadaan senjata dan amunisi Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin).

“Saya menghormati Menko Polhukam. Kalau (isu) yang selain soal senjata saya mau, kalau senjata Perbakin boleh,” kata Setyo di sela-sela acara Apel Kasatwil 2017 di Akademi Kepolisian, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (11/10).

“Jadi apa yang sudah diputuskan Menko Polhukam, kami sangat menghormati,” imbuhnya.


Wuryanto sebelumnya mengatakan amunisi tajam yang dipesan oleh Korps Brigade Mobil Polri memiliki kemampuan luar biasa dan mematikan.

Dia mengatakan setidaknya ada dua keunggulan yang dimiliki amunisi tajam tersebut.

Pertama, amunisi tersebut bisa meledak dua kali. "Meledak pertama, kemudian meledak yang kedua, dan menimbulkan pecahan-pecahan dari tubuh granat berupa logam kecil yang melukai maupun mematikan," kata Wuryanto di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (10/10).

Keunggulan kedua, lanjut Wuryanto, amunisi tersebut bisa meledak sendiri tanpa ada impact atau benturan setelah 14-19 detik dilepaskan dari laras.

"Jadi ini luar biasa. TNI sendiri sampai saat ini tidak punya senjata dengan kemampuan seperti itu," ucap Wuryanto.


Wuryanto menjelaskan, amunisi tersebut biasanya digunakan untuk menghancurkan perkubuan. Dengan menggunakan amunisi tersebut, orang-orang yang ada di belakang perkubuan bisa langsung dihancurkan.

Sebanyak 280 pucuk senjata dan 5.932 amunisi untuk Korps Brimob Polri tertahan di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Jumat (29/9). Senjata itu tersimpan dalam kotak kayu di area Cargo UNEX.

Senjata itu dikabarkan belum memiliki rekomendasi dari Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. Kemudian BAIS TNI dan Bea Cukai memeriksa senjata tersebut di Bandara Soekarno-Hatta.

Kini, ratusan pucuk senjata dan ribuan amunisi tersebut telah disimpan oleh TNI lantaran dinilai tak sesuai dengan spesifikasi kebutuhan Polri.