Dominasi Jokowi-Prabowo Tanda Akhir Masa Politikus Lama

Lalu Rahadian, CNN Indonesia | Kamis, 09/11/2017 04:50 WIB
Dominasi Jokowi-Prabowo Tanda Akhir Masa Politikus Lama Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, di Istana Merdeka, beberapa waktu lalu. (Foto: CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemilu 2019 disebut sebagai penanda akhir dari era dominasi politikus lama. Indikasinya sudah dimulai sejak saat ini ketika pilihan pemimpin dalam berbagai survei hanya berkutat pada nama Jokowi dan Prabowo.

"Kita bisa mengatakan memang pemimpin-pemimpin lama masih mendominasi. Pemimpin baru belum ada yang mampu menyainginya. Ini menunjukkan era pemimpin lama akan segera berakhir karena hanya dua nama itu," ujar Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research Centre (SMRC) Djayadi Hanan, di Kantor DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Jakarta, pada akhir pekan lalu.


Djayadi memandang sosok politikus baru belum menjadi pilihan utama masyarakat untuk Pemilu mendatang. Namun, mereka berpotensi merajai peta politik Indonesia mulai Pemilu 2024.


"Memang pemimpin baru dianggap masyarakat baru akan mulai populer pada 2024 ke sana," ujarnya.

Hasil sejumlah survei yang dilakukan sepanjang 2017 membuktikannya. Nama-nama seperti Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Gatot Nurmantyo, Hary Tanoesoedibjo, Anies Baswedan, hingga Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, rata-rata mendapat pilihan kurang dari 2 persen responden.

Untuk Pemilu 2019 sendiri, Djayadi memprediksi bahwa masyarakat tidak akan bosan hanya dengan dua figur dominan itu. Keberadaan dua figur akan membuat masyarakat semakin terpancing menggunakan hak pilihnya, karena konsolidasi barisan pendukung Jokowi dan Prabowo akan semakin kuat dilakukan.

"Kalau nanti cuma dua yang bertarung maka akan terjadi konsolidasi kuat di masing-masing pendukung. Itu berarti akan meningkatkan jumlah partisipasi masyarakat yang ikut Pemilu 2019," katanya.


Jokowi dan Prabowo juga diprediksi hendak memaksimalkan sosok calon wakil presiden untuk pemilu 2019. Menurut Djayadi, figur cawapres yang tepat dapat mendongkrak elektabilitas pasangannya di pemilu.

"Kalau kinerja Jokowi sangat baik seperti kinerja SBY tahun 2009 maka konfigurasi wakil mungkin tidak menjadi faktor penting bagi Jokowi," ujarnya.

Merlalui survei SMRC yang dilakukan pada September sampai awal Oktober 2017, dua nama mendominasi sebagai pilihan calon presiden yakni Jokowi menempati posisi teratas dengan 48,8 persen, dan Prabowo dengan 43,5 persen.

Selain itu, Survei PolMark dilakukan pada 9-20 September 2017 dengan 2.250 orang responden dari 32 provinsi menunjukkan, dua nama itu kembali mendominasi. Jokowi mendapat suara 41,2 persen, Prabowo meraih suara 21 persen.


Dalam survei tersebut, politikus lama hanya meraih suara tipis. Diantaranya, Jusuf Kalla (1,9 persen), Megawati Soekarnoputri (1,1 persen), Surya Paloh (0,4 persen), Yusril Ihza Mahendra (0,4 persen), dan Muhaimin Iskandar (0,1 persen).

Sementara, sosok politikus baru membuntuti Jokowi dan Prabowo, meski dengan gap suara yang jauh. Yakni, AHY (2,9 persen), Anies Baswedan (2,2 persen), Hary Tanoe (2 persen), dan Gatot Nurmantyo (2 persen). (arh/arh)