LIPUTAN KHUSUS

Cerita Muhidin dan Arti Tanggung Jawab Punk Jalanan

Priska Sari Pratiwi, CNN Indonesia | Senin, 18/12/2017 14:33 WIB
Muhidin atau Mumu membuktikan bahwa punk jalanan juga berani bertanggung jawab dengan menikah dan mencari nafkah untuk keluarga dan tak merugikan orang lain. Muhidin (nomor dua dari kiri) bisa membuktikan pada keluarganya bahwa ia bisa bertanggung jawab meski dengan menjadi anak punk jalanan. (CNN Indonesia/Priska Sari Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perawakannya kurus, tinggi sedang. Tangannya dipenuhi tato. Rambutnya cepak bagian atas telinga. Sementara di bagian tengah hingga ke belakang dibiarkan panjang. Muhidin namanya, namun lebih suka dipanggil Mumu.

Pria asli Klender, Jakarta Timur ini sudah dua puluh tahun menggeluti punk. Lebih dari separuh masa itu dihabiskannya di jalan, menggelandang dan mencari uang sekadar untuk makan.

Bermodal gitar kecil, Mumu pindah dari satu tempat ke tempat lain di jalanan untuk mengais rezeki.
Ia menuturkan, saat itu rambutnya ditata ala mohawk, baju hitam kumal seperti tak pernah kenal deterjen, serta mengenakan aksesoris mencolok lain yang kerap membuat banyak orang berfikir dua kali untuk dekat-dekat.


Hampir 20 tahun berlalu, hampir tak ada yang berubah dari Mumu. Namun saat ini ia sudah lebih bersih. Pakaiannya tak sekumal dulu dan sedikit berwarna terang. Pria 34 tahun ini juga tak lagi mengamen menadah recehan.

“Sekarang gue bantu-bantu parkir aja, sablon kaos, kadang tato juga,” kata Mumu saat ditemui CNNIndonesia.com di kawasan Klender, Jakarta Timur.

Mumu, adalah salah satu anak punk ibu kota yang menghabiskan hampir separuh hidupnya di jalanan. Stigma berandal dan pembuat onar menjadi cap tak terelakkan yang disematkan padanya. Bahkan penolakan sempat datang dari keluarganya sendiri saat awal ia memutuskan jadi anak punk. Namun Mumu tak ambil pusing.
“Gue tunjukin, dari jalanan begitu balik, (mulut) enggak bau minuman, enggak rusuh, gue tunjukin bisa melakukan yang produktif. Akhirnya diterima,” katanya. Bagi Mumu, seperti apapun penampilannya, yang penting tidak merugikan orang lain.
Belajar Arti Tanggung Jawab dari Mumu, Anak Punk JalananMuhidin alias Mumu, tak lagi jadi punk jalanan karena sudah berkeluarga. (CNN Indonesia/Priska Sari Pratiwi)
Ia menuturkan awal perkenalannya dengan gaya hidup punk yakni lewat musik. Pada era Soeharto, Mumu kerap mendengar lagu punk yang liriknya sarat akan kritik pada pemerintah saat itu. Ia pun rajin mengoleksi kaset punk.

Lirik lagu-lagu punk dalam kaset itu ia dalami. “Dari situ gue makin tertarik,” ujarnya.  

Ia pun mulai berkenalan dengan banyak anak punk di jalanan. Ia mulai mengikuti gaya hidup mereka. Mumu juga mulai mengamen dari satu bus ke bus yang lain. Uang yang terkumpul ia gunakan untuk makan, membeli rokok, hingga minuman keras.

Mumu juga mulai aktif mengikuti berbagai acara musik punk atau gigs. Dari sekadar berkenalan hingga berujung mabuk-mabukan menjadi rutinitasnya. Rumah orang sudah jarang ditengoknya, ia lebih memilih tidur di jalanan.

Kehidupan jalanan di ibu kota mulai ditinggalkannya saat mengenal perempuan yang kini jadi istrinya. Awalnya, keluarga sang pacar tak merestui hubungan mereka karena gaya hidup punk yang dinilai tidak bisa menjamin masa depan.

Mumu pun bertekad membuktikan pada calon mertuanya, bahwa ia tak seperti yang mereka bayangkan. Caranya dengan memperbanyak kegiatan produktif. Kehidupan jalanan mulai ditinggalkan secara perlahan. Aktivitas yang menghasilkan uang mulai ditelateni seperti menyablon atau membuat tato.

Mumu berusaha menunjukkan bahwa ia bisa menafkahi keluarga. Hasilnya lumayan dan bisa membuat keluarga sang pacar percaya. Ia kemudian menikah hingga memiliki seorang anak. 

Meski telah berkeluarga, Mumu masih akif di komunitas punk. Yang ia tinggalkan hanya kehidupan jalanan. Mumu mengatakan, saat ini memang ada pergeseran aktivitas punk jalanan, terutama bagi mereka yang mulai berkeluarga.
Ketimbang hidup di jalanan dengan mengamen, saat ini anak-anak punk lebih berfikir produktif. “Sekarang lebih produktif yang dibahas mau bikin acara apa, mau produksi apa, makanya sekarang mulai jarang juga anak punk di jalanan,” ujarnya.

Namun untuk acara kumpul-kumpul seperti hadir dalam acara musik, masih tetap jadi agenda wajib bersama teman-temannya.

Kepada buah hatinya yang baru masuk sekolah dasar, Mumu juga tak segan menjelaskan apa itu punk. Ia bahkan jujur pada anaknya jika ia keluar rumah untuk mengikuti acara komunitas punk meski kadang diprotes.

“Sekarang pola pikirnya ya enggak bisa lagi selamanya nongkrong, karena sudah punya keluarga,” katanya.
[Gambas:Video CNN] (sur)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK