Pria asli Klender, Jakarta Timur ini sudah dua puluh tahun menggeluti punk. Lebih dari separuh masa itu dihabiskannya di jalan, menggelandang dan mencari uang sekadar untuk makan.
Bermodal gitar kecil, Mumu pindah dari satu tempat ke tempat lain di jalanan untuk mengais rezeki.
Lihat juga:Syiar Islam Kaum Punk Pulogadung |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Sekarang gue bantu-bantu parkir aja, sablon kaos, kadang tato juga,” kata Mumu saat ditemui CNNIndonesia.com di kawasan Klender, Jakarta Timur.
Muhidin alias Mumu, tak lagi jadi punk jalanan karena sudah berkeluarga. (CNN Indonesia/Priska Sari Pratiwi) |
Lirik lagu-lagu punk dalam kaset itu ia dalami. “Dari situ gue makin tertarik,” ujarnya.
Ia pun mulai berkenalan dengan banyak anak punk di jalanan. Ia mulai mengikuti gaya hidup mereka. Mumu juga mulai mengamen dari satu bus ke bus yang lain. Uang yang terkumpul ia gunakan untuk makan, membeli rokok, hingga minuman keras.
Mumu juga mulai aktif mengikuti berbagai acara musik punk atau gigs. Dari sekadar berkenalan hingga berujung mabuk-mabukan menjadi rutinitasnya. Rumah orang sudah jarang ditengoknya, ia lebih memilih tidur di jalanan.
Kehidupan jalanan di ibu kota mulai ditinggalkannya saat mengenal perempuan yang kini jadi istrinya. Awalnya, keluarga sang pacar tak merestui hubungan mereka karena gaya hidup punk yang dinilai tidak bisa menjamin masa depan.
Mumu pun bertekad membuktikan pada calon mertuanya, bahwa ia tak seperti yang mereka bayangkan. Caranya dengan memperbanyak kegiatan produktif. Kehidupan jalanan mulai ditinggalkan secara perlahan. Aktivitas yang menghasilkan uang mulai ditelateni seperti menyablon atau membuat tato.
Mumu berusaha menunjukkan bahwa ia bisa menafkahi keluarga. Hasilnya lumayan dan bisa membuat keluarga sang pacar percaya. Ia kemudian menikah hingga memiliki seorang anak.
Meski telah berkeluarga, Mumu masih akif di komunitas punk. Yang ia tinggalkan hanya kehidupan jalanan. Mumu mengatakan, saat ini memang ada pergeseran aktivitas punk jalanan, terutama bagi mereka yang mulai berkeluarga.
Lihat juga:Ekonomi Berdikari, Bertahan Hidup ala Punk |
Namun untuk acara kumpul-kumpul seperti hadir dalam acara musik, masih tetap jadi agenda wajib bersama teman-temannya.
Kepada buah hatinya yang baru masuk sekolah dasar, Mumu juga tak segan menjelaskan apa itu punk. Ia bahkan jujur pada anaknya jika ia keluar rumah untuk mengikuti acara komunitas punk meski kadang diprotes.
“Sekarang pola pikirnya ya enggak bisa lagi selamanya nongkrong, karena sudah punya keluarga,” katanya.
[Gambas:Video CNN] (sur)
Muhidin alias Mumu, tak lagi jadi punk jalanan karena sudah berkeluarga. (CNN Indonesia/Priska Sari Pratiwi)