Jadwal janji wawancara usai mengajar dimajukan oleh Fakhran karena ada jadwal manggung bersama band-nya, No Slide. Fakhran adalah satu contoh pekerja di ibu kota yang tetap menjalani aktivitas bersama komunitas punk.
Meski terkadang ada semacam benturan pemahaman dengan orang-orang sekitaranya, namun bagi Fakhran, sama sekali tak ada yang salah dengan punk dan mereka yang terlibat di dalamnya.
Lihat juga:Punk Tak Pernah Mati |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat kuliah ia semakin mendalami punk. Ia sering berdiskusi soal punk dan sangat sering datang ke gigs atau acara punk untuk mengetahui lebih dalam.
Muhammad Fakhran, anak punk yang kini menjadi dosen di dua kampus di Jakarta. (CNN Indonesia/Andika Putra) |
Kepada anak didiknya, Fakhran juga mengaku tak pernah menyembunyikan identitas punknya. Termasuk mengakui bahwa ia adalah seorang pemain bass band punk.
Ia juga mengaku kerap menyisipkan nilai punk baik secara langsung maupun tidak di sela-sela materi kuliah. “Gue minta mahasiwa jujur kerjain tugas, kalau mengutip tulis dari mana dikutip, jangan asal copy paste. Itu konsep do it yourself (DIY) yang gua terapin dari punk. Kalau ada mahasiswa yang ketahuan copy paste, akan gua hina," kata Fakhran.
Selain bergabung dengan komunitas punk dalam negeri, Fakhran mengikuti forum diskusi Punk Schoolars Network (PSN) yang bermarkas di Inggris sejak 2012. Perkumpulan ini berisikan para akademisi yang juga anggota punk.
“Tiket pulang pergi Rp 14 juta, mahal banget," kata Fakhran.
Kini bersama bandnya, No Slide, Fakhran sedang fokus menggarap album setelah merilis Extended Play (EP). No Slide menurutnya banyak menulis lirik lagu dengan tema pendidikan.
Fakhran bangga bisa menjaga eksistensi punk sembari menjadi seorang pendidik sekaligus menunjukkan bahwa punk tidak selalu negatif.
"Enggak semua yang meraka lihat dan baca soal punk itu salah. Mungkin punk enggak sesuai dengan apa yang mereka inginkan, tapi akan ada sesuatu hal yang bisa mereka banggakan nanti tentang kami," kata Fakhran.
Stefanus Guru SD Bertato
Setali tiga uang dengan Fakhran, Stefanus Hamonangan juga seorang punk, musisi dan akademisi. Ia memiliki band punk bernama Destination dan berprofesi sebagai guru SD pada salah satu sekolah swasta di Jakarta Selatan.
Bagi Stef, profesi guru dan punk punya kesamaan, yakni sebuah panggilan hidup.
Stef mengaku, nilai-nilai punk sangat cocok dengan dirinya. Karena itu lepas SMA, Stef mulai menindik telinga dan membuat tato.
Sempat ada penolakan dari orang tuanya. “Ibu gua sempat melarang waktu itu, keluarga gua memiliki agama yang kuat, apa lagi pemberitaan soal punk saat itu selalu negatif," kata Stef.
Namun setelah dijelaskan, orang tua Stef bisa memaklumi dan tak mempermasalahkan jalan hidup yang ditempuhnya.
Ketika mendalami subculture punk saat kuliah, Stef sadar bahwa punk bukan soal penampilan tapi pemikiran. Bagaimana punk bisa berkontribusi pada lingkungan sekitar dari hal yang paling sederhana. Seperti peduli sesama di tempat tinggal atau membuang sampah pada tempatnya.
Lihat juga:Ekonomi Berdikari, Bertahan Hidup ala Punk |
"Dari situ gua merasa terpanggil untuk menjadi guru, bukan sekadar profesi tapi panggilan. Sama ketika punk memanggil gua," kata Stef.
Belum lulus kuliah, Stef memulai profesi guru formal pada tahun 2011 dengan mengajar di salah satu SMP sawsta di Jakarta. Setelah lulus pada tahun 2012 ia menjadi guru salah satu SD swasta di Jakarta Barat sampai tahun 2014. Setelah itu pindah ke sekolah swasta lain untuk menjadi guru SMP.
Stefanus Hamonangan guru SD yang tetap menjalankan nilai-nilai punk dan tak malu mengakuinya. (CNN Indonesia/Andika Putra) |
Stef mengaku tak pernah menutupi perihal rajah di tubuhnya jika ada yang bertanya. Kejujuran ini menurutnya didapat dari punk.
“Gua bilang kalau gua mengajar ilmu, bukan mengajarkan soal tato," kata Stef.
Sekolah ditempatnya mengajar saat ini lebih bisa memaklumi dan tak mempermasalahkan soal atau tindik di telinganya. Sejumlah guru juga mengetahui bahwa Stef adalah musikus band punk.
Stef melanjutkan, "Gua sisipkan ideologi punk ke siswa saat ngajar. Seperti enggak boleh sombong dan harus berbagi, ya sama rata sama rasa. Gua juga selalu apresiasi karya meraka jelek, yang penting itu karya sendiri, sesuai dengan konsep DIY." (sur)
Muhammad Fakhran, anak punk yang kini menjadi dosen di dua kampus di Jakarta. (CNN Indonesia/Andika Putra)
Stefanus Hamonangan guru SD yang tetap menjalankan nilai-nilai punk dan tak malu mengakuinya. (CNN Indonesia/Andika Putra)