LIPUTAN KHUSUS

Gofar Hilman, Punk Jalanan yang Jadi Penyiar Kenamaan

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Senin, 18/12/2017 15:06 WIB
Gofar Hilman menolak disebut mantan anak punk meski tak lagi di jalanan dan sudah hidup mapan. Baginya punk bukan sekedar tampilan atau kelas sosial. Penyiar Hard Rock FM Gofar Hilman pernah hidup di jalanan dengan mengamen. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Punk seakan sudah mendarah daging untuk penyiar radio Hard Rock FM, Gofar Hilman. Pernah menggelandang di jalanan, kini hidupnya bisa dibilang berkecukupan. Namun bukan berarti nilai-nilai punk pudar. Punk bukan cuma musik atau tampilan fisik. Punk bagi Gofar telah mengajarkan banyak hal untuk hidup.

Gofar menuturkan, pertama kali mengenal punk saat ia kelas lima sekolah dasar tahun 1994. Saat itu kerabatnya ada kerap yang memperdengarkan musik punk. Setahun setelahnya, Gofar sudah berlatih musik punk meski baru kelas enam.
Saat SMP ia bersama beberapa temannya, membentuk band Social Distress.

“Rutin manggung ketika SMA dan dari situ gua melalui berbagai macam fase pengetahuan soal punk. Pertama gue kira adalah sejenis musik, tapi ternyata itu kultur,” kata Gofar saat bertemu. CNNIndonesia.com.


Lulus SMA pada 1998, Gofar tak kuliah karena alasan biaya. Agar tak membebani orang tua, Gofar berjualan kaset punk, kaos band punk, ikat pinggang dan jaket punk. Beralaskan terpal, ia berjualan hampir pada setiap acara musik punk di Jakarta. Acara musik di Malang atau Surabaya pun ia kejar demi berjualan.

Ia juga mengamen di jalanan untuk menyambung hidup. Tidur di jalanan saat itu sudah menjadi keseharian.

"Itu bertahan sampai tahun 2003, karena tahun itu gua kerja di sebuah kantor yang berhubungan dengan pemerintahan. Tahun 2008 gua jadi pegawai negeri sipil (PNS), tapi itu bentar doang sekitar satu bulan," kata Gofar.
Gofar Hilman, Punk Jalanan yang Jadi Penyiar Kenamaan (EMBG)Gofar Hilman berharap punk tak dilihat sebelah mata. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Berbekal pengetahuan musik, Gofar bersama temannya, Ucup, membuka usaha. Usahnya berkembang dari semula hanya toko rekaman, kini juga merambah ke bisnis restoran.

Sementara dunia penyiaran digeluti pria 34 tahun ini sejak 2012.

Dengan segala pencapaiannya saat ini, Gofar menegaskan, bukan berarti dia bisa disebut sebagai mantan anak punk. Menurutnya punk tidak dinilai dari fisik atau status sosial, tetapi pemikiran.

“Gue masih pakai ideologi punk di kehidupan meski enggak semua,” katanya.
Sejak awal, Gofar mengaku mendapat pelajaran dari punk untuk selalu bertanya atas apa yang diterima, “Jangan telan mentah-mentah”,” ujarnya.

Ideologi anarkis selalu diterapkannya walau merasa belum pantas untuk bisa disebut sebagai anarkis. Konsep kesetaraan juga selalu diterapkannya. “Gue belajar banyak soal rendah hati, gue berasal dari bahwa dan hal itu enggak akan pernah hilang,” katanya.

Selain itu, Gofar juga mengaku masih kerap menggelar acara bertema food not boms untuk mengampanyekan pada negara lebih penting menyediakan kebutuhan pokok rakyat ketimbang mempersenjatai militer.

Gofar berharap, punk tak dilhat sebelah mata saja. Jika melihat ada anak punk mengamen dengan cara memaksa atau mabuk di tempat umum, bukan berarti semua anak punk bertingkah sama.
Di era keterbukaan saat ini di mana informasi bisa mudah diakses, orang bisa mencari tahu apa itu punk sehingga tak lagi melihatnya sebagai hal negatif. Kalau aneh mungkin bisa saja orang melihatnya karena belum terbiasa. “Aneh akan hilang kalau terbiasa,” katanya. (sur)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK