Bingkai Kenangan Tentang Rizieq dan Ahok di Reuni Alumni 212

Ramadhan Rizki, CNN Indonesia | Jumat, 01/12/2017 09:58 WIB
Bingkai Kenangan Tentang Rizieq dan Ahok di Reuni Alumni 212 Peserta Reuni 212 menyatakan kerinduan mereka bertemu sesama peserta yang pernah dilakukan pada 2016. Ada pengagum Rizieq Shihab hingga para 'pembela' agama. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ari berlari dari halaman parkir menuju lobi utama Wisma Persaudaraan Haji Indonesia (PHI), Cempaka Putih, Jakarta Pusat untuk menghindari hujan. Hujan lebat yang mengguyur Jakarta pada Kamis sore (30/11) membuat beberapa bagian baju coklat dan celana hitam miliknya basah.

Pria berumur 29 tahun itu mengatakan kehujanan saat mengendarai sepeda motor dari kediamannya di Bekasi, ke Cempaka Putih.

"Hujan terus, rata hujannya dari Bekasi, bulan-bulan musim hujan nih," keluhnya.


Ari merupakan salah satu dari ratusan Alumni 212 yang hadir di Wisma PHI Cempaka Putih untuk mengikuti Kongres Alumni 212.

Alumni 212 merujuk pada orang-orang yang terkumpul dari massa kelompok Aksi 212 atau Aksi Damai Bela Islam 2 Desember 2016 yang menuntut mantan Gubernur DKI Jakarta Ahok untuk bertanggungjawab terhadap pernyataannya yang dianggap menghina agama Islam.


Setahun berlalu, alumni 212 menggelar kongres dan akan menyelenggarakan reuni di Lapangan Monas pada Sabtu (2/12) esok.

Ari mengaku antusias mengikuti rangkaian acara ini. Ia dari jauh hari sudah mendapatkan pengumuman bahwa Alumni 212 akan berkumpul lagi dari rekannya yang juga pernah ikut aksi 212.

"Dari dua minggu lalu saya dapat kabar nih mau ada silaturahmi lagi, saya senang dan mau ikut, deh," ungkapnya

Ari mengaku diajak oleh dua rekannya yang sudah tiba terlebih dulu di Wisma PHI. Ia yang sehari-harinya bekerja desainer situs itu berencana mengikuti rangkaian acara reuni Alumni 212 dari Kamis hingga Sabtu secara penuh.

"Saya mau nginep, sampai nanti hari Sabtu (Acara puncak reuni alumni 212)," ujarnya.

Ari sendiri mengaku ikut rangkaian acara reuni Alumni 212 karena ingin menyambung silaturahmi dengan sesama alumni 212 yang lain dari berbagai daerah.

"Saya datang mau silaturahmi, kebetulan kan kita menjalin kontak dengan peserta Alumni 212 dari daerah lain juga, yang waktu tahun lalu ketemu di Monas, saya rindu atmosfer saat aksi tahun lalu," ucapnya.

Cerita Kenangan soal Rizieq dan Ahok di Reuni Alumni 212Aksi 212 pada Desember 2016. (Foto: AFP PHOTO / GOH Chai Hin)

Ari, saat aksi 212 tahun lalu mengatakan, dirinya begadang untuk membuat atribut spanduk yang dibawa ke lapangan Monas sebagai sarana aksi.

Menggunakan motor bebeknya pula, Ari bersama belasan orang temannya konvoi dari Bekasi menuju Monas sehabis salat Subuh.

Berbekal sarapan nasi uduk dan teh hangat, mereka sampai di Monas sekitar pukul 07.00 WIB dan langsung berbaur dengan masa aksi.

"Saat itu jadi peserta aja, tapi kita siapin spanduk sendiri tuh," ujarnya.

Pria yang aktif di pengajian salah satu majelis taklim di dekat kediamannya itu mengaku mengidolakan Nabi Muhammad dan Habib Rizieq Shihab. Ia mengatakan alasannya ikut aksi 212 tahun lalu karena mendapatkan inspirasi dari keduanya.

"Saya lihat Nabi Muhammad selalu membela umatnya dan agamanya, sama halnya dengan habib (Rizieq), saya ikuti ceramahnya di TV dan Youtube, makanya tahun lalu saya datang karena ingin membela agama saya dan membela Indonesia juga," katanya.

Setelah aksi 212 berakhir, Ari mengaku masih terus mengikuti aksi-aksi Bela Islam lainnya. Ia mengatakan pernah ikut aksi 112 yang diselenggarakan pada 11 Februari awal tahun ini dan aksi 212 jilid II pada 21 Februari awal tahun ini.

Ari mengaku mengikuti kedua aksi lanjutan itu karena masih ingin terus membela agama Islam dan masih rindu terhadap atmosfer perjuangan di aksi 212 jilid I tahun lalu.

Sama seperti aksi 212, ia bersama belasan temannya membuat spanduk secara mandiri untuk memeriahkan acara tersebut.


Ari juga menyatakan akan terus mengikuti reuni 212 dan pelbagai Aksi Bela Islam lainnya meskipun mantan Gubernur DKI Jakarta Ahok sudah masuk penjara.

Ia mengaku tujuan utamanya mengikuti aksi-aksi tersebut bukan semata-mata karena permasalahan kasus Ahok, namun karena ingin menjaga silaturahmi dan tetap ingin mempertahankan Islam.

Peserta dari Bandung

Sama halnya dengan Ari, salah satu peserta Kongres Alumni 212 lainnya, Ita mengaku datang jauh-jauh dari Kota Bandung mengikuti rangakaian acara reuni Alumni 212 ini untuk temu kangen dengan beberapa teman-teman yang dijumpainya saat mengikuti aksi 212 tahun lalu.

Lulusan baru di salah satu satu kampus swasta di Bandung ini mengaku masih sering berkomunikasi dengan para alumni 212 lainnya di grup-grup Whatsapp.

"Kita masih sering komunikasi, kan banyak ketemu kenalan dengan massa aksi 212 tahun lalu," ujarnya.

Ita menceritakan kiprahnya di aksi 212 tahun lalu, awalnya hanya sebagai peserta. Ia bersama puluhan teman sekampusnya datang ke Jakarta untuk ikut aksi ini menggunakan mobil travel

Akan tetapi saat aksi berlangsung, ia bersama temannya berinisiatif untuk membantu pihak panitia konsumsi yang berada di tenda-tenda untuk menyalurkan makanan dan minuman kepada para peserta aksi.

Cerita Kenangan soal Rizieq dan Ahok di Reuni Alumni 212Aparat keamanan yang mengawal Aksi 212 pada 2016 lalu. (Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

"Datangnya ikut aksi itu cuma sebagai peserta aja, tapi karena waktu itu kelihatannya panitianya minim dan kelihatan ribet, jadi kita inisiatif buat bantu-bantu salurkan kasih-kasih konsumsi yang sudah disediakan gitu," ungkapnya.

Ita merasa sangat senang dan bermanfaat dengan perannya saat Aksi 212 tahun lalu itu. Ia bercerita, para peserta aksi merasa senang dan mengucapkan terima kasih saat menerima makanan yang disalurkannya.

"Iya rasanya senang banget, kita bermanfaat banget rasanya, banyak peserta yang senang, kita juga senang," ujarnya.

Dari situlah Ita berkenalan dengan beberapa panitia Aksi 212 dan beberapa peserta aksi. Ita mengaku aksi itu tak hanya berjuang membela agama islam, namun juga bermanfaat menambah jejaring persaudaraan.


Ita mengaku tak banyak mengikuti Aksi Bela Islam lainnya karena kesibukannya di bangku perkuliahan. Saat itu ia memasuki semester akhir yang mewajibkannya menyelesaikan tugas akhir.

Ita baru dua kali ikut Aksi Bela Islam dan tak berfokus pada kasus yang menimpa mantan gubernur DKI Jakarta Ahok. Ia mengatakan mengikuti aksi Bela Islam ini karena prihatin terhadap kondisi agama islam.

"Saya cuma mau membela agama saya mas, enggak cuma soal Ahok, lagian kan saya orang Bandung," pungkasnya. (asa)