"Sejak kemarin saat terjadinya siklon cempaka, saya langsung perintahkan BPBD untuk memonitor perkembangannya dan minta untuk bersiaga dengan kemungkinan yang akan terjadi," kata Wakil Gubernur Banten, Andhika Hazrumy, Jumat (01/12).
Aparatur pemerintah desa dan kelurahan juga tak luput diminta Andhika untuk selalu siaga 24 jam mengantisipasi efek sikon tropis dahlia yang bisa saja mengakibatkan bencana alam dan menelan korban jiwa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Imbauan itu dikeluarkan setelah BMKG mendeteksi pertumbuhan siklon tropis pada 27 November lalu yang dinamai Cempaka.
Siklon Cempaka memicu hujan lebat di wilayah Banten hingga Jawa Timur dengan kecepatan angin mencapai 30 knot dan gelombang setinggi 1,5 meter hingga 6 meter di perairan Indonesia.
Meredanya badai Cempaka langsung disusul dengan kemunculan muncul siklon tropis Dahlia yang terdeteksi pada Rabu, 29 November 2017 sekitar pukul 19.00 WIB di Bengkulu bagian Selatan.
Dampaknya terjadi di Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Selat Sunda, DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat, berupa cuaca ekstrem yaitu hujan sedang sampai lebat yang disertai angin kencang dengan kecepatan maksimal mencapai 20 knots (35 km/jam), disertai kilat petir.
Di Perairan Enggano, Perairan Barat Lampung, Selat Sunda bagian Selatan, Perairan Selatan Banten hingga Jawa Barat dan selatan Jawa, berpotensi menciptakan gelombang dengan ketinggian 4 meter hingga 6 meter.
"Mengingat cuaca ekstrem, maka demi keselamatan agar tidak melakukan aktifitas di perairan seperti berenang," kata Lulu Jamaludin, Humas Badan Relawan Wisata Tirta (Balawista) Banten.
Bendera merah pertanda sebagai larangan bagi siapa pun bermain di sekitar pantai.
Sedangkan untuk olahraga air, seperti selancar hanya diperbolehkan untuk kaum profesional saja. Itu pun harus didampingi tim penyelamat.
"Mohon kiranya kepada para pengelola objek wisata dapat selalu memberikan arahan agar berhati-hati," katanya. (wis/yan/djm)