Soal Yerusalem, Trump Singgung Keamanan Internasional

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Sabtu, 09/12/2017 16:34 WIB
Soal Yerusalem, Trump Singgung Keamanan Internasional Keputusan Trump akan Yerusalem sebagai ibu kota Israel dinilai bukan hanya sekadar persoalan pemindahan ibu kota, tapi juga masalah keamanan internasional. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Keputusan Presiden AS Donald Trump secara sepihak soal Yerusalem sebagai ibu kota Israel dinilai bukan hanya sekadar persoalan pemindahan ibu kota tapi lebih dari itu menjadi masalah keamanan internasional.  

Ungkapan itu diungkapkan Badrus Sholeh, Pengajar FISIP UIN Syarif Hidayatullah dalam sebuah diskusi yang berlangsung di Menteng, Jakarta, pada Sabtu (9/12). Diskusi tersebut juga menghadirkan Helmy Faishal Zaini, Sekretaris Jenderal PB NU dan Abdul Mu'ti, Sekretaris Jenderal PP Muhammadiyah.

Badrus mengatakan, keputusan Trump bisa jadi sebuah strategi untuk melihat seberapa kuat dunia Islam, dan dunia Arab. Namun, posisi Trump akan terancam popularitasnya di AS. Trump dinilai nggak lihat dampak jangka panjang dari keputusannya ini.  



"Ini kesempatan baik untuk Indonesia, untuk masuk lebih kuat, negosiasi saat pertemuan OKI. Artinya bahwa posisi Indonesia mendukung Palestina baik level pemerintah dan sipil, saya kira Indonesia akan dapat dukungan besar di OKI," ujarnya menambahkan. 

Lebih jauh, ia menambahkan, posisi AS di dunia internasional lagi turun. Nggak hanya ekonomi, tapi kepemimpinan Amerika juga nggak produktif. Di Timur Tengah malah bikin ketegangan yang luar biasa. Badrus menambahkan, leadership AS di banyak wilayah sudah dipertanyakan.

Tanggapan NU dan Muhammadiyah 

Secara terpisah, Helmy Faishal Zaini, Sekretaris Jenderal PB NU mengatakan, NU akan mengajak tokoh agama di Indonesia untuk menetapkan bahwa ini masalah nggak hanya masalah umat Islam, tapi ini merupakan kemanusiaan.

Menurutnya, yang dilakukan Trump tak bisa lepas dari membaca krisis politik yang terjadi di Arab, di mana kita tahu bahwa pasca kepemimpinan Salman ini, juga menghadapi tantangan dari saudara-saudara paman-pamannya kalau melihat pakemnya kerajaan selalu diberikan ke yang tua bukan anaknya. Sementara anaknya kan masih muda, ada krisis politik Arab sangat bergantung sekali kepada kekuatan AS.

"Ini dalam konteks Yerusalem, Arab nggak bersuara, nggak menentang. Maka untuk itu di tengah situasi ini, perlu bangun disebut solidaritas internasional, perlu dimula meski dalam posisi lemah, tapi OKI bisa jadi tangga upaya galang lebih luas lagi," ujarnya dalam diskusi yang turut disiarkan di radio Smartfm. 


PBNU, kata Helmy, mengajak semua tokoh agama dan tokoh bangsa untuk meletakkan masalah ini masalah kemanusaian kemerdekaan sehingga nggak melebar ke agama yang merugikan bangsa Indonesia.

Ketegangan politik

Sementara itu, Abdul Mu'ti, Sekretaris Jenderal PP Muhammadiyah mengungkapkan kebijakan ini menguntungkan Trump tapi tidak menguntungkan Amerika, makanya reaksi dalam negeri Amerika cukup kuat.

Menurutnya, Trump mau menaikkan popularitas karena ada tekanan dari dalam negeri. Namun, yang kemudian AS tidak sadari keputusan Trump ini menaikan popularitas Iran. Misalnya ketika sangsi nuklir dicabut, negara Uni Eropa bangun politik dengan Iran, dan ketika Iran bisa jual minyak secara bebas kemudian ekonomi bangkit, dan itu bikin Saudi panik.  

Sekutu AS, kata dia, tinggal Saudi. Beberapa negara Timteng dengan Saudi basa-basi. Ketika Qatar pragmatis berbisnis minyak dengan Iran, itu akan diikuti negara Timteng, dan menjadi pukulan luar biasa bagi Saudi karena ekonomi makin terpuruk.

"Ini sikap politik hanya untungkan Trump, dan nggak menguntungkan Saudi. Ini dampak politik akan panjang di Amerika. Trump nggak mikir jangka panjang, jangan-jangan Trump nggak mengerti, hanya memenuhi janji kampanye, tapi dampak-dampak dari sikap politik Amerika nggak dicermati seksama oleh Trump," tuturnya.
(rah/rah)