Detik-Detik Mengerikan Gempa Guncang Pangandaran

Tiara Sutari, CNN Indonesia | Minggu, 17/12/2017 23:37 WIB
Detik-Detik Mengerikan Gempa Guncang Pangandaran Beberapa rumah di Dusun Japuh, Desa Wonoharjo, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran rata dengan tanah setelah terjadi gempa tektonik pada Jumat (15/12) kemarin. (CNN Indonesia/Tiara Sutari).
Pangandaran, CNN Indonesia -- Sri Hartanti (32) tengah tertidur bersama suaminya, Bayu Septian Aji (30) di rumahnya ketika gempa berkekuatan 6,9 skala richter mengguncang Pulau Jawa bagian selatan pada Jumat (15/12) malam. Sri panik ketika gempa terjadi.

"Saya sama suami lagi tidur. Pas gempa saya langsung tarik suami saya buat lari keluar," kata Sri saat ditemui CNNIndonesia.com di perumahan kawasan Cikangkung, Desa Ciembulan, Pangandaran, Jawa Barat, Minggu (17/12).

Kepanikan dan ketakutan kian melanda Sri dan suaminya ketika tengah berlari ke luar rumah. Sebab, tak terbayang seandainya Sri dan suaminya sampai telat ke luar rumah.



Ketika hendak menyelamatkan diri, tiba-tiba pintu, tembok, dan atap rumahnya ambruk. Saat itu Sri dengan cepat mendorong suaminya. Dia juga berhasil menghindar dari tembok yang roboh.

"Jadi suami saya dorong saya, tapi kaki suami saya kena batu ketindih. Dia luka sedikit, tapi tidak sampai parah," kata Sri.

Rumah Sri cuma satu dari sekian banyak rumah di perumahan ini yang rata tanah akibat guncangan lindu tengah malam itu. Bahkan satu blok perumahan di sini hancur menyisakan puing-puing beton bangunan yang rubuh. Padahal, perumahan di kawasan ini baru ditempati sekitar 10 bulan.

Tak jauh berbeda dengan Sri, Marlina (46) juga harus kehilangan tempat tinggal usai rumahnya hancur akibat gempa. Berbeda dengan rumah Sri yang baru 10 bulan ditempati, rumah Marlina telah berdiri dan ditempati sejak 19 tahun lalu.


Keadaan rumah Marlina yang berada di Desa Jepuh, Pangandaran ini benar-benar rata tanah akibat gempa kemarin. Padahal rumah Marlina kokoh berdiri ketika tsunami menerjang Pangandaran 2006 silam.

"Rumah saya ini kuat, pas tsunami saja sehat wal’afiat, tapi waktu kena gempa dia malah ambruk semuanya," kata Marlina.

Saat gempa terjadi, Marlina mengaku sedang menonton televisi di ruang tengah. Suaminya sudah tertidur, sementara anaknya sedang main ponsel. Ketika itu, guncangan lindu terasa amat kuat.

Marlina panik. Dia pontang-panting membangunkan suaminya dan berteriak agar anaknya segera keluar dari rumah.

"Itu sudah kedengaran ada suara bruk bruk bruk kaya tembok retak pas gempa ke satu. Pas gempa kedua saya sudah di luar. Eh pas gempa berhenti, di depan mata saya langsung, rumah saya turun ke bawah. Ambruk semua," ujar Marlina.


Marlina mengaku, gempa kali berbeda dengan tsunami 2006 lalu, karena sangat meninggalkan luka yang dalam. Tsunami memang menimbulkan kengerian karena banyaknya korban jiwa, tapi kata dia, untuk bencana kali ini betul-betul meninggalkan luka buatnya.

"Ya bayangkan saja, rumah saya ambruk di depan mata saya. Turun ke bawah merosot semua temboknya," kata dia.

Sementara itu, para korban gempa di Kabupaten Pangandaran yang rumahnya hancur dan rusak mengaku belum mendapat kepastian terkait ganti rugi atas rumah dan barang berharga milik mereka akibat gempa.

Sehari setelah kejadian diakui Marlina lurah dan camat sempat meninjau ke lokasi, namun mereka hanya memotret dan meminta Marlina harus banyak bersabar.

"Cuma foto doang, habis itu bilang saya harus sabar," kata dia. (osc/osc)