Blunder Wiranto dalam Perpecahan di Tubuh Hanura

Dias Saraswati, CNN Indonesia | Jumat, 19/01/2018 18:50 WIB
Blunder Wiranto dalam Perpecahan di Tubuh Hanura Keputusan Wiranto menyerahkan jabatan Ketua Umum Hanura kepada Oesman Sapta Odang dinilai sebagai akar persoalan dualisme partai. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dualisme partai politik kembali terjadi, kali ini menimpa Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) yang terbelah antara kubu Manhattan dengan Oesman Sapta Odang (OSO) selaku Ketua Umum, dan kubu Ambhara yang diketuai Marsdya (Purn) Daryatmo.

Sejumlah pengamat politik menilai perpecahan di tubuh Hanura ini tak lepas dari sosok Ketua Dewan Pembina sekaligus pendiri partai, Wiranto. 

Menurut Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, akar permasalahan dualisme kepemimpinan di Hanura tak bisa dilepaskan dari keputusan Wiranto menyerahkan jabatan Ketua Umum Hanura kepada OSO.


Wiranto menyerahkan kursi ketua Hanura setelah dirinya menerima tawaran menjadi Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan.

Selama Wiranto memimpin Hanura, partai relatif jarang mengalami konflik internal. Kalaupun ada, konflik tidak akan berlangsung lama. 


Situasinya kini bertolak belakang. Perpecahan kepemimpinan terjadi di era OSO.

Menurut Burhanudin, ini karena kontrol Wiranto terhadap partai semakin berkurang seiring dengan kesibukannya sebagai menteri.

Dengan kata lain, penyerahan kepemimpinan kepada OSO menjadi blunder politik tersendiri bagi Wiranto.

"Pada titik (berkurangnya kontrol) itu terjadi miss komunikasi parah di internal Hanura yang berujung pada dualisme kubu," kata Burhanudin kepada CNNIndonesia.com, kemarin.

Pengamat politik dari Univeritas Negeri Jakarta, Ubedilah Badrun menuturkan setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan dualisme di Hanura.

Pertama, lambanya para pengurus menyelesaikan masalah internal sehingga justru memperkeruh persoalan.

Kedua, faktor ego dari masing-masing kubu yang ingin mempertahankan kepentingan, kekuasaan, maupun pengaruhnya di Hanura, yang berakibat meruncingnya konflik internal di Hanura.

Terakhir, kurang cepatnya Wiranto menyikapi konflik di internal Hanura.


"Itu salah satu kesalahan Pak Wiranto karena tidak cepat menyatukan, cenderung membiarkan. Itu jadi catatan, karena sebetulnya dua kubu ini beberapa hari lalu masih berharap kepada Pak Wiranto untuk bersikap," kata Ubedilah.

Wiranto sendiri sampai saat ini belum bersikap tegas. Ditemui di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, hari ini, Jumat (19/1), Wiranto menyatakan tidak mendukung baik kubu OSO maupun Daryatmo.

"Saya enggak ke mana-mana (kubu OSO atau kubu Daryatmo) gimana toh, kamu ini," ujar Wiranto.

Blunder Wiranto dalam Perpecahan di Tubuh Hanura Acara pengukuhan DPP Hanura dengan ketua umum Oesman Sapta Odang. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Malapetaka di Tahun Politik

Pengamat politik dari Indonesia Public Institute Karyono Wibowo menuturkan dualisme di internal Hanura akan membuat partai itu tidak fokus dalam menghadapi momentum politik Pilkada 2018 dan Pemilu 2019 mendatang.

Jika kedua kubu tidak segera melakukan konsolidasi untuk kembali bersatu, menurut Karyono akan sangat berdampak pada stabilitas dan menurunnya elektabilitas partai.

Hal sama juga diungkapkan Ubedilah. Menurutnya dualisme yang terjadi di Hanura menyebabkan para pengurus partai lebih fokus menyelesaikan konflik itu ketimbang mempersiapkan diri menghadapi Pilkada dan Pemilu.

"Energi politik itu lebih banyak difokuskan menangani persoalan internal partai," kata Ubedilah.

"Tidak optimal bekerja untuk arena politik pilkada dan pemilu," imbuhnya


Dualisme kepemimpinan di Hanura sampai saat ini belum menemui titik terang.

Karyono mengatakan, jika tak tercapai kesepakatan antara kedua kubu, maka cara lain untuk mendapatkan pengakuan hukum adalah dengan merebut dukungan dari Presiden Joko Widodo.

Upaya ke arah sana memang sudah terjadi, yakni dengan cara menyatakan dukungan kepada Jokowi sebagai calon presiden di Pemilu 2019.

Kubu OSO sudah menyatakan dukungan itu sejak jauh hari. Belakangan, hal serupa dilakukan oleh Hanura yang dipimpin oleh Daryatmo.

"Secara politik harus dibaca ada kepentingan agar presiden Jokowi mendukung merestui kepemimpinan pak Daryatmo," ujarnya.

Senada, Burhanuddin menyebut dukungan kedua kubu kepada Jokowi merupakan sinyalemen untuk meminta dukungan dari mantan Wali Kota Solo itu.

"Kedua kubu ingin dapat legitimasi melalui SK di Kumham, jadi keduanya sedang berupaya meyakinkan pemerintah, bahwa mereka lah (kubu OSO atau Daryatmo) yang paling legitimate," tutur Burhanuddin. (wis)