'Punya Airlangga dan Idrus, Jokowi Bak Dewan Pembina Golkar'

Abi Sarwanto, CNN Indonesia | Sabtu, 20/01/2018 20:35 WIB
'Punya Airlangga dan Idrus, Jokowi Bak Dewan Pembina Golkar' Presiden Joko Widodo (kanan depan) dan menteri Sosial yang juga Sekjen Partai Golkar Idrus Marham, di Istana Negara, Jakarta. Keberadaan dua pejabat utama Beringin di Kabinet Kerja dinilai merupakan strategi politik Jokowi menghadapi Pemilu 2019. (Foto: CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perombakan kabinet Joko Widodo-Jusuf Kalla atau reshuffle yang memasukan nama Sekretaris Jenderal Golkar Idrus Marham sebagai Menteri Sosial, dinilai semakin menunjukan peran Jokowi di Partai Golkar.

Dengan masuknya Idrus, kader beringin yang berada di kabinet bertambah setelah sebelumnya Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto lebih dahulu menjabat sebagai Menteri Perindustrian.

Hal ini membuat Jokowi sudah seperti Dewan Pembina 'Beringin'.

"Kalau sekarang sih Joko Widodo sudah seperti Ketua Dewan Pembina Golkar ya. Sebab Ketum dan Sekjen Golkar sudah ada di kabinet," kata Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Puoyono dalam pesan singkatnya kepada wartawan, Sabtu (20/1)

Meski begitu, ia menilai, Golkar memang pantas mendapat jatah menteri karena kekuatan politik yang lebih kuat di parlemen daripada partai politik pendukung pemerintah lainnya. Apalagi, Golkar sudah menyatakan dukungan kepada Joko Widodo pada Pilpres 2019.

Dia menduga, Jokowi ragu soal komitmen PDIP untuk mengusungnya pada Pilpres 2019. Jokowi, kata dia, pun berupaya mengakuisi Partai Golkar secara bulat.

Ditempatkannya Golkar di Kementerian Sosial, menurut Arief, juga menjadi bagian strategi Pilpres 2019. Sebab, Kemensos dapat dijadikan alat meraup suara dengan berbagai bantuan sosialnya.

Selain itu, kata dia, masuknya Jenderal TNI (Purn) Moeldoko disebut menjadi salah satu sinyal untuk persiapan di 2019.

"Bisa jadi sebuah ancang-ancang untuk membentuk Tim Pemenangan Joko Widodo di Pilpres dan malah bisa jadi Moeldoko akan jadi Cawapresnya Joko Widodo," ia menduga.

Posisi Airlangga yang rangkap jabatan di kabinet menuai kontroversi tersendiri. Hal itu lantaran Jokowi pernah menyatakan tidak ingin menterinya rangkap jabatan di partai politik. Jokowi pun dianggap menganakemaskan Golkar.

Sebelumnya, Jokowi mengungkapkan bahwa alasannya tetap mempertahankan Airlangga di Kabinet Kerja adalah demi kepentingan kecepatan kinerja.

"Ini kan tinggal satu tahun saja. Kalau ditaruh orang baru, ini belajar kalau enggak cepat, bisa setahun menguasai (bidang) itu," ujar Jokowi menjelaskan alasannya usai upacara pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (17/1).

"Dan, kita lihat di Kemenperin Pak Airlangga menguasai, dan mengerti betul yang berkaitan dengan makro industri di negara kita, menyiapkan strategi industri hilirisasi. Jangan sampai waktu (singkat) seperti ini kita ubah, dan baru belajar. Ini kementerian yang tidak mudah."

(arh)