Bambang Pharmasetiawan, menantu almarhum, mengatakan, Daoed di mata keluarga adalah sosok yang tak tergoyahkan keyakinannnya.
Wujudnya bisa dilihat dalam hal konsistensi Daoed di dunia pendidikan dan kebudayaan. Tak hanya itu, dia juga keras kepala dalam hal kesehatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah itu, (Daoed) malah semakin produktif. Beliau menulis macam-macam buku," kata Bambang, saat ditemui di rumah duka, di Jalan Bangka VII Dalam Nomor 14, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Rabu (24/1).
Buku Emak merupakan kumpulan tulisan setebal 408 halaman tentang ibundanya, Siti Jasiah. Sang Emak diketahui buta huruf latin, meski bisa membaca huruf Arab. Meski buta huruf, sang ibunda dengan segala upayanya berhasil membesarkan Daoed menjadi 'orang'.
Setelah meluncurkan buku terakhirnya, suami dari Sri Soelastri itu mulai sakit-sakitan. Meski kondisinya makin lemah, ia bersikeras tak mau dibawa ke rumah sakit.
"Sangat konsisten dan terkadang keras kepala. Sulit sekali saya mengajak ke rumah sakit," ungkapnya.
Setelah dibujuk oleh semua keluarga dengan ragam cara, akhirnya Daoed, yang juga adalah ayah dari Sri Sulaksmi Damayanti, masuk ke Rumah Sakit Medistra, Jakarta, Sabtu (20/1). Namun kondisinya tak kunjung membaik.
Hingga kemudian pada Selasa (23/1) malam, Bambang berpesan kepada anak laki-lakinya untuk berbisik sesuatu kepada Daoed yang tengah terbaring.
"Tolong bisikkan, 'kita semua sudah ikhlas'. Tidak berapa lama beliau (Daoed) sudah tiada," tuturnya. Daoed pun meninggal di usia 91 tahun.
Di lokasi itu, kata Bambang, Daoed sudah memesan tanah kubur sejak beberapa tahun lalu untuk dirinya, istri, dan mertua perempuan. (arh/gil)