Salah satu opsi yang ingin ditawarkan Sandi adalah mengajak para sopir angkot yang terkena imbas penutupan Jalan Jatibaru, bergabung dengan program OK Otrip.
Sandi tak menjelaskan detail soal bagaimana para sopir bisa bergabung, atau keuntungan apa yang akan didapat para sopir tersebut. Namun, dia optimis kesejahteraan para sopir bisa meningkat jika bergabung dengan OK Otrip.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
OK Otrip adalah program yang bertujuan mewujudkan sistem transportasi terintegrasi di Jakarta. Program ini ingin mengintegrasikan bus TransJakarta dengan angkot dan bus feeder.
OK Otrip sudah diujicoba di sejumlah titik di Jakarta, beberapa waktu lalu.
“Kita dorong dialog terbuka, setiap kebijakan kan memang perlu dievaluasi, dimonitor, dan kalau memang perlu ya bisa modifikasi,” kata Sandi.
Para sopir angkot di Tanah Abang dengan trayek trayek 03, 05, 08, dan 010, pada Senin (22/1) menggelar demonstrasi di depan Balai Kota Jakarta meminta Gubernur DKI Jakarta Anies bertanggung jawab atas nasib pengemudi angkot yang jalurnya kini telah diambil untuk PKL.
Saat itu, Koordinator Aksi, Andreas mengatakan kebijakan penutupan jalan Jatibaru membuat pendapatan para supir menurun hingga 60 persen.
“Kami juga harus bantu tingkatkan penghasilan mereka, sudah ada beberapa opsi salah satunya pengaturan ganjil genap pengemudi di sana, ini masih kita timbang-timbang. Belum ada yang pasti,” ujar Sandi. (wis)