Cerita Megawati Tentang Wanita Dilarang Berpolitik oleh Suami

Bimo Wiwoho, CNN Indonesia | Kamis, 08/03/2018 22:50 WIB
Cerita Megawati Tentang Wanita Dilarang Berpolitik oleh Suami Megawati mengaku lemas saat mendengar pengakuan seorang perempuan yang tak diizinkan berpolitik oleh suaminya. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengaku lemas hingga tak bisa berbicara saat mengetahui seorang perempuan harus berhenti dari politik karena takut ditinggal sang suami.

Megawati menceritakan hal itu saat memberikan orasi ilmiah sebelum diberi gelar Doktor Honoris Causa di kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri, Jatinangor, Sumedang Jawa Barat, Kamis (8/3).

Mulanya, seorang perempuan yang diceritakan itu mendatangi Megawati untuk menyatakan niatnya berpolitik. Megawati lantas menanyakan seberapa kuat tekad dan rencana ke depannya.


"Dengan penuh semangat dia menjawab 'saya ingin berkarier di bidang politik. ini kalau bisa tentunya sampai sebuah karir yang baik,'" kata Megawati menirukan si perempuan yang dimaksud.

Kala itu, Megawati menilai si perempuan bakal serius dan aktif menjalani karier di bidang politik.

Akan tetapi, semua prediksi yang ada di benak Megawati menjadi buyar. Si perempuan, kata Megawati, pada akhirnya meminta izin mengundurkan diri dari PDI Perjuangan.

Megawati heran dan lantas bertanya balik. Sebab, menurutnya perempuan itu tidak patut mengundurkan diri karena sudah menjalani karier politik dengan baik.

Dia mengaku mendapat jawaban yang membuatnya lemas tak berarti.

"Suami saya mengatakan harus memilih antara suami dan karier politik," ucap Mega menirukan si perempuan.

"Saya lalu lemas. Saya merasa tidak bisa bersuara. Tidak bisa memberikan usul dan saran karena itu sudah masuk ke ranah keluarga," kata Mega.

Megawati lalu mengatakan bahwa saat ini sangat sulit mencari perempuan yang serius berkarier di bidang politik.

Dia pun mengapresiasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang mengharuskan partai politik untuk memiliki pengurus perempuan 30 persen dari total Jumlah pengurus. Namun, kata Mega, hal itu tetap sulit untuk memancing minat lebih banyak perempuan untuk berpolitik.

"Tapi pada tataran lapangan sampai hari ini, untuk mencari kaum wanita yang benar-benar mau terjun di bidang politik. Alasannya sungguh memprihatinkan," katanya. (wis/wis)