Elite Politik Dinilai Punya Andil Suburkan Hoaks

RZR, CNN Indonesia | Kamis, 15/03/2018 02:29 WIB
Elite Politik Dinilai Punya Andil Suburkan Hoaks Ilustrasi hoaks. (Foto: CNN Indonesia/Fajrian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aktivis Gusdurian Syafiq Alielha menilai elite politik justru menjadi aktor di balik layar untuk memantik sentimen SARA dalam penyebaran kabar bohong alias hoaks demi kepentingan politiknya masing-masing.

"Mereka justru mengeksploitasi sentimen yang membuat orang lebih mudah termakan hoaks, karena orang yang pertama menyebarkan hoaks kan karena dia punya sentimen," katanya, dalam acara diskusi yang digelar Digital Culture Syndicate, di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (14/3).

Pria yang akrab disapa Savic Ali itu mengatakan pihaknya telah melakukan pemantauan di media sosial. Sebagian besar hoaks berasal dari akun-akun yang terafiliasi dengan partai politik (parpol) tertentu.


Namun ia tak mengungkapkan parpol yang terkait dengan para penyebar hoaks dan ujaran kebencian tersebut.

"Mereka ini enggak akan bisa bergerak kalau tak ada perintah dari elite parpol," ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan kabar bohong alias hoaks yang marak beredar di media sosial tak lepas dari pertarungan para elite politik yang semakin memanas di Indonesia tiga tahun belakangan ini.

"Hoaks muncul di Indonesia dari perebutan kekuasaan dan hasrat saling menyingkirkan dalam pertempuran zero sum game," katanya.

Syafiq menganggap saat ini para elite parpol tak bisa diharapkan sebagai aktor untuk mengedukasi publik agar menjauhi hoaks.

Elite politik dinilai justru terus menerus memproduksi hoaks untuk menyebar kebencian terhadap lawan politiknya hingga tujuannya tercapai.

"Kita tidak bisa berharap banyak kepada politisi, wong mereka menghasilkan regulasi yang benar saja enggak bisa, apalagi hapus hoaks," ujarnya.

Ia menuntut agar para elite politik bertanggung jawab terkait banyaknya penyebaran hoaks di media sosial saat ini.

Menurutnya hoaks bisa berdampak untuk mendelegitimasi pemerintahan yang sah. Lebih parahnya, hoaks dapat menimbulkan rasa kebencian, perpecahan dan hilangnya rasa kabangsaan di tengah masyarakat saat ini.

"Buahnya krisis legitimasi. Sehingga membuat masyarakat saling tak percaya dan tak akan mampu hidup bersama lagi," tutup dia.

(pmg/pmg)