"Mereka justru mengeksploitasi sentimen yang membuat orang lebih mudah termakan hoaks, karena orang yang pertama menyebarkan hoaks kan karena dia punya sentimen," katanya, dalam acara diskusi yang digelar Digital Culture Syndicate, di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (14/3).
Pria yang akrab disapa Savic Ali itu mengatakan pihaknya telah melakukan pemantauan di media sosial. Sebagian besar hoaks berasal dari akun-akun yang terafiliasi dengan partai politik (parpol) tertentu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka ini enggak akan bisa bergerak kalau tak ada perintah dari elite parpol," ujarnya.
"Hoaks muncul di Indonesia dari perebutan kekuasaan dan hasrat saling menyingkirkan dalam pertempuran zero sum game," katanya.
Syafiq menganggap saat ini para elite parpol tak bisa diharapkan sebagai aktor untuk mengedukasi publik agar menjauhi hoaks.
"Kita tidak bisa berharap banyak kepada politisi, wong mereka menghasilkan regulasi yang benar saja enggak bisa, apalagi hapus hoaks," ujarnya.
Ia menuntut agar para elite politik bertanggung jawab terkait banyaknya penyebaran hoaks di media sosial saat ini.
Menurutnya hoaks bisa berdampak untuk mendelegitimasi pemerintahan yang sah. Lebih parahnya, hoaks dapat menimbulkan rasa kebencian, perpecahan dan hilangnya rasa kabangsaan di tengah masyarakat saat ini.
"Buahnya krisis legitimasi. Sehingga membuat masyarakat saling tak percaya dan tak akan mampu hidup bersama lagi," tutup dia.