Anies pun terbayang momen ketika bangsa Indonesia menyambut kemerdekaan dengan menggelar rapat akbar antara pemimpin negara dan rakyat di Lapangan Ikada pada September 1945 silam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Keberagaman adalah kenyataan, fakta, sesuatu yang kita bawa di dalam diri sejak lahir dan itu tidak bisa diubah. Tetapi, tunggal atau persatuan adalah hasil perjuangan. Persatuan," kata Anies.
Sebelumnya, mantan Gubernur DKI Djarot Saiful Hidayat mengeluarkan pergub pada tanggal 13 Oktober 2017 yang melarang Monas sebagai tempat untuk kegiatan keagamaan.
Anies menyebut pergub yang ditekennya merupakan komitmen jajaran Pemprov DKI di bawah kepemimpinannya untuk melayani semua warga Jakarta, tanpa pandang bulu.
"Termasuk, ketika berencana merayakan hari besar keagamaan. Sudah merupakan kewajiban kami untuk mendukung dan memfasilitasi. Itu yang seharusnya pemerintah kerjakan," kata Anies.
Oleh sebab itu, Anies berjanji akan memudahkan perizinan untuk kegiatan keagaaman di Monas.
"Kami akan fasilitasi dan pastikan bahwa pelaksanaan sila pertama Pancasila hadir dan dimungkinkan untuk setiap warga, termasuk ketika saudara-saudara kita berencana merayakan paskah," ujar Anies.
Ditemui terpisah, Humas 'Paskah Bersama II' Ronny Rompas mendukung langkah Anies yang disebutnya mengembalikan fungsi Monas untuk kegiatan keagamaan.
Menurut Ronny, Pendeta Gilbert Lumoindong yang mengisi acara Paskah Bersama II pun terbiasa berkhotbah di alam terbuka saat perayaan Paskah, sebagaimana dianjurkan dalam Alkitab.
"Memang kita melihat Monas itu bagi orang-orang tertentu menjadi momok belakangan ini. Sehingga, menjadi ketakutan orang-orang dan kita membuktikan dengan memimpin ibadah untuk kota dan masyarakatnya, untuk gubernur, dan untuk presiden yang kebetulan di sini strategis dekat Istana Negara," kata Ronny.
(ard)