"Masih kami cari," kata Kepala Bidang Humas Polda Jabar Ajun Komisaris Besar Trunoyudo Wisnu Andiko, saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (9/4).
Trunoyudo menyebut total korban 27 orang. Sebanyak 14 korban di antaranya tewas. Nama S sebagai penjual miras oplosan didapat dari korban selamat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ahli forensik akan menganalisis penyebab kematian korban dengan cara otopsi. Tim teknis akan melihat lambung korban apa yang menyebabkan [kematian]-nya," ujar Trunoyudo.
Tentang kandungan miras oplosan itu sendiri, Trunoyudo menyebut pihaknya masih menunggu analisis dari laboratorium forensik.
"Untuk mengetahui apa yang dikonsumsi [oleh korban] itu harus diurai. Ini sedang didalami oleh ahli forensik kita," katanya.
Terpisah, Polres Bandung masih menyelidiki kasus tersebut melalui pemeriksaan terhadap sejumlah saksi.
"Ada empat saksi diperiksa, saat ini masih diperiksa oleh penyidik," kata Kepala Kepolisian Resor Bandung Ajun Komisaris Besar Indra Hermawan kepada wartawan di RSUD Cikopo Cicalengka, Minggu (8/4) dikutip dari Antara.
Di samping itu, kepolisian juga menutup tempat penjualan miras di Jalan By Pass Bandung-Garut tersebut.
Diantaranya, kematian sembilan orang akibat miras oplosan jenis ginseng di Depok, pada Rabu (4/4).
Selain itu, kasus miras oplosan yang menewaskan 10 orang di Padalarang, Bandung Barat, Minggu (7/1). Minuman racikan korban yang merupakan para pekerja pabrik ini merupakan campuran alkohol, H202 (peroksida), byclin, dan sabun pembersih mesin serta serbuk suplemen.
Kasus miras oplosan mematikan juga terjadi di Ciamis, Rabu (3/1). Ketika itu, miras jenis ciu yang diracik dengan pil Dextro Metorphan tersebut menewaskan empat orang.
"Itu sudah dilakukan jauh sebelumnya. Kembali ke masyarakatnya juga yang meraciknya. Kita minta lewat Bhabinkamtibmas di setiap wilayah untuk menyosialisasikannya," aku dia. (sur)