Miras Oplosan Cicalengka Disebut Sudah Lama 'Gentayangan'

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Selasa, 10/04/2018 08:10 WIB
Miras Oplosan Cicalengka Disebut Sudah Lama 'Gentayangan' Petugas membawa jerigen yang berisi bahan miras oplosan saat melakukan penggerebekan di Cicalengka, Kabupaten Bandung, Minggu (8/4). (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Warga Cicalengka menyebut bahwa minuman keras (miras) oplosan sudah lama beredar di kawasan itu. Korban pun sudah banyak berjatuhan sejak lama. Razia tak menghalangi penjualnya untuk tetap hadir.

Gian Lesmana (36), warga Cicalengka, mengatakan, kasus korban miras oplosan sudah banyak terjadi sebelumnya.

"Banyak, dari dulu sudah banyak korban. Sudah lama penjualnya [ada], tapi tiap ada razia muncul lagi," kata Gian di RSUD Cicalengka, Bandung, Senin (9/4).


Gian merupakan kerabat dari Iwan dan Supriono, korban miras oplosan Cicalengka. Keduanya mengeluhkan sakit sejak Minggu (8/4) malam.

"Mereka minumnya bertiga. Supriono kemarin malam masuknya [ke Rumah Sakit]. Iwan tadi (kemarin) pagi," ujarnya.

Supriono dan Gian adalah rekan satu personil band Serdadu Bambu. Nama pertama biasa memainkan calung.

Di tempat yang sama, Sandi Yana (33), warga Cicalengka, yang kehilangan dua saudaranya akibat miras oplosan, menyebut ada perbedaan antara miras yang biasa didapat dengan yang saat ini memakan korban.

Keluarga korban meninggal akibat miras oplosan menangis di depan ruang Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cicalengka, Kabupaten Bandung, Senin (9/4).Keluarga korban meninggal akibat miras oplosan menangis di depan ruang Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cicalengka, Kabupaten Bandung, Senin (9/4). (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

Dia mengaku mengonsumsi miras jenis ginseng itu sejak lima tahun lalu. Cairan kuning yang dikemas dalam kemasan botol plastik 600 ml itu harganya Rp20 ribu, atau naik Rp5 ribu dari harga lima tahun lalu. Menurutnya, mudah mendapati penjual minuman jenis ini di Cicalengka.

"Pertama kali minum rasanya panas, suka bikin haus. Tapi kalau yang sekarang beda, bukan gingseng, padahal [sama-sama] oplosan," kata dia.

Akibat miras ini, Sandi menyebut dua saudaranya, Hari dan Kiki, meninggal dunia di rumah sakit tersebut. Selain itu, ia juga masih memiliki keponakan bernama Gugun yang kini dalam kondisi kritis.

Hingga Senin (9/4) sore, korban tewas diduga akibat konsumsi miras oplosan di Kabupaten Bandung mencapai 23 orang. Jumlah pasien miras oplosan di dua RS mencapai 58 orang.

Direktur RSUD Cikopo Cicalengka Yani Sumpena mengatakan ada 52 pasien mendapatkan penanganan medis setelah mengonsumsi minuman keras oplosan. Sebanyak 20 pasien diantaranya meninggal dunia.

"Pasien yang datang usianya mulai 19 sampai 52 tahun, dari 52 pasien, ada satu orang wanita meninggal," katanya.

Ia menuturkan, korban yang tercatat meninggal dunia di RSUD Cikopo Cicalengka sebanyak 19 orang dan satu orang sudah meninggal saat datang ke rumah sakit.

Keluarga membawa jenazah korban meninggal akibat keracunan miras oplosan, di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (9/4). Keluarga membawa jenazah korban meninggal akibat keracunan miras oplosan, di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (9/4). (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

Sebanyak tiga pasien dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung karena kondisinya membutuhkan penanganan medis lebih intensif, lima orang sudah diperbolehkan pulang, dan 24 orang masih dirawat inap.

Direktur RSUD Majalaya Grace Mediana mengatakan korban tewas di tempatnya mencapai tiga orang. Mereka merupakan warga Kecamatan Rancaekek, Cikancung, dan Kecamatan Paseh.

RSUD Majalaya, kata dia, menerima pasien korban minuman keras oplosan sebanyak enam orang, tiga meninggal dunia, dua orang dirawat dan satu orang minta pulang paksa.

"Tiga meninggal dunia, dua orang masih dirawat dan satu orang pulang paksa," katanya.

Pasien yang mendapatkan penanganan medis di rumah sakit tersebut mengeluhkan sakit yang sama yakni mual, muntah-muntah dan pusing. Seluruhnya mendapatkan penanganan medis secara intensif sesuai prosedur yang berlaku. (hyg/arh)


ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA