Hal ini disampaikan terkait ucapan politikus PSI Tsamara Amany tentang Presiden Rusia Vladimir Putin saat mengomentari Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon.
Tsamara menyebut Putin sebagai sosok yang tak memberi kebebasan berpendapat dan membiarkan korupsi merajalela.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlepas dari itu, Sergey mengaku pemerintah Rusia tetap berkomitmen untuk konsisten dalam memberantas kejahatan korupsi tanpa pandang bulu. Namun, ia tak menampik di Rusia masih terjadi tindak pidana korupsi.
[Gambas:Twitter]
Di tempat yang sama, Sekretaris Jendral PSI Raja Juli Antoni mengaku tetap menghormati Vladimir Putin. Meskipun, ia menyebut bahwa Putin bukan pemimpin yang tepat bagi Indonesia yang demokratis.
"Mengkritik Putin bukan berarti membenci pemerintah dan masyarakat Rusia," ucap dia.
Ia pun memastikan bahwa pernyataan Tsamara soal Putin dan Rusia di media sosial berdasarkan data yang valid dari berbagai lembaga Internasional yang kredibel.
"Ada data dari berbagai lembaga Internasional yang kredibel, seperti The Economist, European Court of Human Right, dan Freedom House," kata Raja.
"Enggak," jawab Wiranto, saat ditanya soal keberadaan pembahasan soal pernyataan Tsamara itu.
Dia menyebut pertemuan itu dilakukan dalam rangka perkenalan Vorobieva selaku Dubes Rusia untuk Indonesia yang baru. Topik pembahasannya pun hanya menyangkut masalah hubungan kerja sama antara Indonesia dengan Rusia.
"Kita enggak bicara menyangkut kepentingan dalam negeri masing-masing," imbuh Wiranto.
[Gambas:Twitter]
Dikutip dari akun Twitter PSI @psi_id, Jumat (6/4), Tsamara menyinggung soal kondisi Rusia melalui video berdurasi kurang dari satu menit.
Isi pernyataannya ditujukan sebagai balasan atas cuitan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon. Sebab Fadli sempat menyatakan kalau pemimpin Indonesia selanjutnya diharapkan mempunyai karakter seperti Putin.
Dalam pernyataan di video itu Tsamara menyebut Vladimir Putin bukan contoh pemipin yang baik karena ia membungkam kebebasan pers, membungkam oposisi, dan membiarkan korupsi merajalela.
Akibatnya, dia dikritik oleh salah satu media massa Rusia, Russia Beyond The Headline (RBTH), karena dianggap kurang wawasan soal Rusia.
(arh/gil)