Amien Rais, Calon 'King Maker' Prabowo yang Patut Diwaspadai

Feri Agus, CNN Indonesia | Senin, 16/04/2018 11:43 WIB
Amien Rais, Calon 'King Maker' Prabowo yang Patut Diwaspadai Amien Rais punya pengalaman segudang di panggung politik nasional. Dan itu bisa mendongkrak peluang Prabowo memenangkan Pilpres 2019. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Amien Rais diyakini bakal menjadi seorang king maker atau peracik strategi bagi kelompok oposisi untuk memenangkan pemilihan presiden 2019. Peran itu diprediksi akan diambil oleh Amien menyusul keputusan Prabowo Subianto yang lebih memilih menjadi bakal calon presiden ketimbang king maker.

Amien sendiri dalam kapasitasnya sebagai Ketua Penasihat Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) sudah mengisyaratkan pilihan bakal mendukung Prabowo di Pilpres 2019.

"Saya enggak bisa mengatasnamakan (PA 212). Tapi sepertinya para ulama dan habib PA 212 sudah jelas. Saya enggak mendahului, cuma arahnya bukan ke Pak Jokowi," kata Ketua Dewan Kehormatan PAN itu.

Pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun menyebut sosok Amien Rais menjadi penting di tubuh oposisi karena memiliki asam garam dalam percaturan politik Indonesia.

Amien merupakan salah satu tokoh yang mendorong perubahan saat rezim Orde Baru di ujung tanduk. Mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional itu menyuarakan agar Presiden ke-2 RI Soeharto mundur dari singgasana yang diduduki selama 32 tahun.

"Ketika menjadi oposisi ia berhasil bersama Gusdur, Megawati, mahasiswa dan lain-lain menumbangkan rezim Soeharto," kata Ubed, sapaan akrabnya, saat dihubungi CNNIndonesia.com akhir pekan lalu.

Ubed mengatakan Amien juga sukses menjadi king maker saat itu, yang berhasil mengantarkan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur menjadi presiden ke-4 RI, setelah BJ Habibie didesak mundur di awal-awal reformasi. Kala itu Amien menduduki posisi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

"Ketika menjadi King Maker ia berhasil menjadikan Gus Dur presiden," ujarnya. Namun, Amien juga yang kemudian melengserkan Gus Dur dari kursi RI 1.

Kiprah Amien bukannya tanpa catatan kegagalan. Pada 2004, misalnya, Amien yang saat itu berpasangan dengan Siswono Yudhohusodo dalam kontes Pilpres, hanya berada di posisi keempat dengan perolehan 17,3 juta suara.

Tetapi kegagalan itu sekaligus menjadi tabungan Amien dalam berpolitik sehingga, kata Ubed, dengan segudang pengalaman yang dimiliki Amien, pendukung Jokowi selaku calon petahana harus waspada dan bisa mengantisipasi.

Nilai lebih Amien selain pendiri PAN, juga sosok sepuh di kalangan Muhammadiyah.

"Oleh karenanya peluang Amin Rais dan kawan-kawan mendukung Prabowo memiliki signifikansi untuk membuat Prabowo memenangi kontestasi pilpres 2019," kata dia.

Selain menjadi Ketua Penasihat PA 212, Amien juga masih menjabat sebagai Ketua Majelis Kehormatan PAN. Namun hingga kini PAN belum memutuskan sikap siapa yang bakal didukung dalam Pilpres 2019.

Terkait itu, menurut pengamat politik dari Universitas Padjajaran Idil Akbar, pilihan paling realistis bagi Gerindra untuk rekan koalisi adalah PKS.

Idil mengatakan koalisi Gerindra dan PKS tak akan sulit terwujud lantaran kedua partai itu sudah mesra sejak Pilpres 2019. Kedua partai itu membangun Koalisi Merah Putih bersama Golkar, PAN, PPP kubu Djan Faridz, dan PBB. Namun, di tengah jalan pemerintahan Jokowi, Golkar dan PAN membelot.

"(Kebersamaan) itu saya kira menguatkan mereka secara emosional," tutur Idil.

Menurut Idil, meskipun hanya PKS, peluang Gerindra memenangkan Prabowo masih terbuka. Idil menyebut Gerindra maupun PKS memiliki struktur organisasi yang solid. Mesin politik kedua partai yang berdiri di era Reformasi ini juga patut diperhitungkan.

"Jadi kekuatannya itu lebih pada pergerakan PKS, kalau sudah begitu tergantung pula seberapa jauh militansi kedua partai ini untuk memenangkan Prabowo," kata Idil.

Idil mengatakan bila PKS siap berkoalisi dengan Gerindra dan mendukung Prabowo, posisi bakal calon wakil presiden yang paling diperdebatkan. PKS, jelas Idil akan menyorongkan kadernya menjadi pendamping Prabowo. Catatannya koalisi ini hanya melibatkan Gerindra-PKS.

PKS sendiri sudah memiliki 9 kader bakal capres dan cawapres. Kesembilan nama itu adalah Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Fungsionaris PKS M. Anis Matta, Gubernur Sumatra Barat Irwan Prayitno.

Selain itu ada nama Presiden PKS Muhammad Sohibul Iman, Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri, Anggota DPR Tifatul Sembiring, Anggota DPR Al Muzammil Yusuf MS, dan Anggota DPR Mardani Ali Sera.

Peluang PKS menjadikan kadernya sebagai cawapres akan kecil bila partai politik lainnya, seperti PAN, Demokrat maupun PKB bergabung dalam koalisi. Hal tersebut juga dengan catatan ketiga partai itu sepakat Prabowo sebagai capres.

Jika skenario itu terjadi, Idil menyatakan sosok bakal pendamping Prabowo akan diperdebatkan oleh PKS, PAN, Demokrat maupun PKB. Dalam kondisi itu, menurut Idil, opsi paling bisa diterima adalah mencari bakal cawapres di luar kader partai politik untuk mendampingi Prabowo.

"Saya kira ada komunikasi yang terjalan untuk menentukan siapa yang jadi wakil. Kemungkinan ketika ada partai lain membuka kemungkinan itu," kata Idil tanpa menyebut nama tokoh di luar partai yang berpeluang mendampingi Prabowo. 
(wis)