Bak Film Usang, Prabowo Diminta Gerindrakan Anies dan Gatot

Arif Hulwan Muzayyin, CNN Indonesia | Senin, 16/04/2018 05:07 WIB
Bak Film Usang, Prabowo Diminta Gerindrakan Anies dan Gatot Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan), di Jakarta Selatan 10 Februari 2018. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto disarankan untuk menjadi 'king maker' karena publik sudah jenuh dengan sosoknya. Untuk mencegah runtuhnya elektabilitas partai, ia didorong mencari sosok lain yang potensial sebagai calon Presiden dan menjadikannya kader Partai Gerindra.

Hal itu dikatakan Direktur Eksekutif Voxpol Center Research & Consulting Pangi Syarwi Chaniago, melalui pesan singkatnya, Minggu (15/4).

Menurutnya, kekhawatiran soal tenggelamnya Gerindra jika Prabowo tak maju pada Pilpres 2019 masih bisa diperdebatkan. Namun, adalah sebuah kenyataan bahwa Prabowo memiliki peluang tipis untuk menang dari Jokowi.

Pangi mendorong munculnya sosok baru yang potensial mengalahkan Jokowi. Misalnya, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Sosok itu nantinya bisa diidentifikasikan ke Gerindra dan tetap bisa mengerek elekabiltas partai.

"Jalan tengahnya bisa saja dengan mengkaderkan atau meng-Gerindra-kan Gatot dan Anies Baswedan sebagai capres atau cawapres justru kemungkinan bisa menyelamatkan elektabilitas Gerindra menjadi lebih besar," terangnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menyebut deklarasi Prabowo sebagai capres membuat partainya mendapat berkah elektabilitas.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, di Glodok, Jakarta, 3 Maret.Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, di Glodok, Jakarta, 3 Maret. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Kenapa harus sosok baru? Menurut Pangi, ada kecenderungan publik yang jenuh dengan sosok Prabowo dan pertarungannya dengan Jokowi. Selain itu, elektabilitasnya pun sudah mencapai puncaknya. Namun, itu belum bisa juga mengalahkan elektabilitas Jokowi.


"Ibarat film, Prabowo adalah film lama, sudah usang. Oleh karena itu, mendaur ulang pertarungan lama yaitu head to head Jokowi-Prabowo, pada capres pilpres 2019 dan ini menjadi tidak menarik lagi untuk ditonton," papar dia.

"Padahal, masyarakat ingin pertarungan aktor baru sehingga film menjadi menarik dan seru," tambahnya.

Terlebih, lanjut Pangi, ada ketakutan kubu Jokowi bahwa munculnya sosok baru, seperti Gatot, akan mengubah peta pertarungan Pemilu 2019.

"Ketakutan 'geng' Jokowi justru apabila Gatot maju dan Prabowo menjadi king maker-nya," ucap dia.

Indikasi ketakutan itu adalah ketika kubu Jokowi bersorak saat Prabowo mendeklarasikan diri sebagai capres dari Gerindra. Asumsinya, Pilpres dimenangkan secara mudah karena hanya mengulang pertarungan lama dan posisi Jokowi saat ini adalah petahana.

Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Jakarta, Kamis (19/1/2017).Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Jakarta, Kamis (19/1/2017). (Foto: ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)
Indikasi lainnya adalah pertemuan Prabowo dengan Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan, beberapa waktu lalu.

Pangi pun mendorong Prabowo bertindak seperti Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang sadar setelah kalah berulang kali dalam Pilpres dan menyerahkan posisi capres pada 2014 ke Jokowi.

"Sudah saatnya Prabowo realistis [tentang] momentumnya yang sudah lewat," ujar dia.

Pada gelaran Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas), di Hambalang, Bogor, Partai Gerindra memutuskan untuk mengusung Prabowo Subianto sebagai capres. Namun, partai lainnya belum memastikan tiket yang sama bagi mantan Danjen Kopassus itu. (arh)