Hal itu dikatakan Direktur Eksekutif Voxpol Center Research & Consulting Pangi Syarwi Chaniago, melalui pesan singkatnya, Minggu (15/4).
Menurutnya, kekhawatiran soal tenggelamnya Gerindra jika Prabowo tak maju pada Pilpres 2019 masih bisa diperdebatkan. Namun, adalah sebuah kenyataan bahwa Prabowo memiliki peluang tipis untuk menang dari Jokowi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jalan tengahnya bisa saja dengan mengkaderkan atau meng-Gerindra-kan Gatot dan Anies Baswedan sebagai capres atau cawapres justru kemungkinan bisa menyelamatkan elektabilitas Gerindra menjadi lebih besar," terangnya.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, di Glodok, Jakarta, 3 Maret. (CNN Indonesia/Hesti Rika) |
"Ibarat film, Prabowo adalah film lama, sudah usang. Oleh karena itu, mendaur ulang pertarungan lama yaitu head to head Jokowi-Prabowo, pada capres pilpres 2019 dan ini menjadi tidak menarik lagi untuk ditonton," papar dia.
"Padahal, masyarakat ingin pertarungan aktor baru sehingga film menjadi menarik dan seru," tambahnya.
"Ketakutan 'geng' Jokowi justru apabila Gatot maju dan Prabowo menjadi king maker-nya," ucap dia.
Indikasi ketakutan itu adalah ketika kubu Jokowi bersorak saat Prabowo mendeklarasikan diri sebagai capres dari Gerindra. Asumsinya, Pilpres dimenangkan secara mudah karena hanya mengulang pertarungan lama dan posisi Jokowi saat ini adalah petahana.
Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Jakarta, Kamis (19/1/2017). (Foto: ANTARA FOTO/M Agung Rajasa) |
Pangi pun mendorong Prabowo bertindak seperti Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang sadar setelah kalah berulang kali dalam Pilpres dan menyerahkan posisi capres pada 2014 ke Jokowi.
"Sudah saatnya Prabowo realistis [tentang] momentumnya yang sudah lewat," ujar dia.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, di Glodok, Jakarta, 3 Maret. (
Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Jakarta, Kamis (19/1/2017). (