OPM Diduga Perkosa Guru, Pemkab Mimika Kirim Heli Evakuasi

Martahan Sohuturon, CNN Indonesia | Selasa, 17/04/2018 16:05 WIB
OPM Diduga Perkosa Guru, Pemkab Mimika Kirim Heli Evakuasi Polri-TNI mengevakuasi 17 guru lain di Aroanop menggunakan helikopter menuju Timika. Foto: Thinkstock/Zabelin
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Kabupaten Mimika mengevakuasi guru kontrak yang bertugas di Kampung Aroanop, Distrik Tembagapura pasca insiden pemerkosaan seorang guru yang diduga dilakukan oleh anggota kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Bupati Mimika Eltinus Omaleng menyatakan akan mengirim helikopter ke Aroanop buat menjemput guru-guru kontrak masih berada di lokasi itu.

"Memang betul ada kejadian itu. Guru-guru laki-laki diikat tangannya lalu dipopor dengan senjata. Sementara guru perempuan dipukul, ditelanjangi, bahkan ada yang diperkosa. Ini sangat keterlaluan dan tidak beradab," kata Omaleng seperti dilansir dari Antara, Selasa (17/4).



Menurut Omaleng, masyarakat Aroanop tahu soal kejadian itu dan berupaya membebaskan para guru tangan kelompok bersenjata. Bahkan pelaku sempat dikejar oleh warga sampai ke dalam hutan.

"Masyarakat tidak senang dengan kelakuan bejat mereka. Kami minta KKSB (Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata) tidak boleh membuat kekacauan di tengah masyarakat. Omong kosong mau lindungi masyarakat kalau menggunakan cara-cara yang tidak bermoral seperti itu," kata Omaleng.

Selain melakukan kekerasan terhadap para guru di Aroanop, anggota KKSB dilaporkan juga merusak Puskesmas dan gedung SD Inpres.



Omaleng mengatakan, anggota kelompok bersenjata itu kabur ke kampung-kampung di wilayah lembah Aroanop, seperti Jagamin, Anggigi, Ainggongin. Mereka dipukul mundur oleh pasukan gabungan TNI saat menyerbu Kampung Banti 1, Banti 2, Utikini, Kimbeli dan Opitawak pada 31 Maret hingga 2 April lalu.

Sebelum pasukan TNI tiba di Banti, anggota kelompok bersenjata itu membakar Rumah Sakit Waa-Banti milik Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), gedung SD-SMP Negeri Banti dan rumah-rumah masyarakat.Bahkan ternak babi milik masyarakat juga ikut dijarah oleh anggota kelompok bersenjata.

"Mereka bakar gedung sekolah, rumah sakit, rumah-rumah masyarakat dikasih hancur, ternak babi diangkat semua. Pelakunya mereka yang disebut KKSB itu. Saat pasukan TNI masuk, mereka-mereka yang tadinya pegang senjata api itu kabur semua," ujar Omaleng.


Bupati Omaleng bersama Kapolres Mimika Ajun Komisaris Besar Agung Marlianto dan Komandan Kodim 1710 Mimika Letkol Inf Windarto berencana menemui warga Kampung Banti pada Rabu (18/4). Mereka akan membicarakan pembebasan lahan buat pembangunan Kantor Koramil, Kantor Polsek dan Kantor Distrik Tembagapura di Kampung Banti 1 dan Banti 2.

Selain itu, rencananya akan dibangun pos tinjau TNI di sejumlah lokasi dekat Tembagapura, seperti Kampung Opitawak dan Tagabra guna mencegah masuknya kelompok bersenjata ke wilayah itu.

"Saya bersama Kapolres dan Dandim akan berangkat ke Tembagapura untuk menemui masyarakat guna membicarakan hal ini. Kita ingin masyarakat di sana maupun PT Freeport tidak lagi terganggu dengan adanya KKSB," kata Omaleng.

Beberapa waktu lalu Pemkab Mimika telah mengirim beras dan bahan pangan lainnya ke Banti, Kimbeli dan Opitawak untuk membantu masyarakat yang kekurangan pangan sejak anggota kelompok bersenjata menduduki kampung-kampung mereka.


Sebelumnya Kepala Bidang Humas Polda Papua Komisaris Besar Ahmad Musthofa Kamal mengatakan guru yang diperkosa anggota OPM berinisial GR.

Dia mengajar di sebuah sekolah dasar setempat. Kamal mengatakan korban saat itu sedang dalam perjalanan menuju lokasi upacara adat bakar batu. Acara itu digelar masyarakat Opini dalam rangka perpisahan antara warga Opitawak dengan Banti yang mengungsi ke Aroanop.

Dalam perjalanan GR dicegat kelompok bersenjata. Dia lantas diperkosa secara bergiliran oleh enam orang anggota kelompok bersenjata itu.

"Dari laporan yang kami terima pelaku pemerkosaan diduga kelompok bersenjata yang berada di wilayah Tembagapura," kata kamal kepada CNNIndonesia.com kemarin.

Di Aroanop terdapat delapan guru perempuan dan sembilan guru laki-laki yang sudah diidentifikasi untuk segera dievakuasi menggunakan helikopter.


Sejauh ini kami belum mendapat keterangan resmi dari pihak OPM terkait dugaan adanya tindak pemerkosaan guru di Tembagapura tersebut.

(ayp)