ANALISIS

Menimbang Kans Cawapres Nonpartai untuk Jokowi

Feri Agus, CNN Indonesia | Jumat, 20/04/2018 19:05 WIB
Menimbang Kans Cawapres Nonpartai untuk Jokowi Jokowi masih mencari calon wakil presiden untuk mendampinginya di Pilpres 2019. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bursa kursi calon wakil presiden pendamping Joko Widodo semakin sengit. Ketua PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, Ketua PPP Romarhumuziy alias Romi, dan Ketua Golkar Airlangga Hartarto terus merapat ke presiden sambil memperkenalkan diri ke masyarakat.

Pengamat politik dari Universitas Padjajaran Idil Akbar mengatakan ada dua langkah yang bisa diambil para ketum partai koalisi agar dipinang menjadi pendamping Jokowi.

Pertama, dengan terus berhubungan intens dengan Jokowi di luar acara-acara resmi. Langkah ini diambil untuk bisa dekat secara emosional dengan sang presiden.


Kemudian yang kedua, mereka bisa mengancam Jokowi untuk keluar dari koalisi bila tak dipilih menjadi cawapres. Meskipun, menurut Idil cara kedua ini agak tak mungkin ditempuh lantaran bisa memunculkan konflik di masing-masing partai.

"Satu-satunya cara adalah dengan melakukan pendekatan emosional dengan Jokowi dan itu yang sampai sekarang dilakukan," ujar Idil kepada CNNIndonesia.com.

Pendekatan secara emosional tampaknya menjadi pilihan utama para ketua partai. Apalagi, dalam beberapa waktu belakangan baik Cak Imin, Romi, dan Airlangga berkesempatan tampil bersama Jokowi.

Ketiganya bergiliran bersama Jokowi baik saat kunjungan kerja, acara partai, kegiatan harian sampai acara resmi kenegaraan. Cak Imin secara sepihak bahkan meresmikan posko pemenangan 'JOIN', singkatan dari Jokowi-Cak Imin.

Jokowi sendiri belum memberikan kepastian akan memilih Airlangga, Cak Imin, ataupun Romi. Pun dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, yang pengaruhnya cukup menentukan karena Jokowi merupakan kader partai berlambang banteng itu.

Meski terus mendekatkan diri pada Jokowi, namun belum ada jaminan salah satunya akan dipilih Jokowi sebagai pendamping di Pilpres.

Peneliti Saiful Mujani Research Consulting ( SMRC) Sirojudin Abbas bahkan menilai kecil kemungkinan Jokowi dan PDIP memilih tiga pemimpin partai itu.

Baik Jokowi dan PDIP, kata Abbas, akan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang sampai pemilihan presiden selanjutnya.

Keduanya akan melihat terlebih dulu potensi bakal cawapres itu untuk maju sebagai capres pada Pilpres 2024. Sebab, menurut Abbas, mustahil PDIP mau memberikan 'karpet merah' kepada kader di luar partai maju sebagai capres selepas Jokowi.

"Oleh karena itu perhitungannya akan sangat hati-hati, baik presiden Jokowi maupun PDIP," kata Abbas saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Kekhawatiran PDIP, menurut Abbas, wajar mengingat usia para ketua partai itu masih muda sehingga sangat terbuka untuk maju sebagai capres di Pemilu 2024.

"Jelas dong, harus diperhitungkan betul. Saya yakin PDIP tidak mau memberikan peluang keunggulan itu ke partai lain, keunggulan untuk maju jadi calon presiden 2024," ujarnya.

Atas dasar itu, Abbas menyatakan sangat mungkin Jokowi memilih sosok profesional di luar partai sebagai pendampingnya. Sosok tersebut, kata Abbas, tentu yang bisa membawa dukungan besar publik kepada Jokowi.

Menurut Abbas, sosok profesional ini bisa berasal dari bidang ekonomi dan bisnis, bidang hukum, bidang sosial keagamaan, militer atau purnawirawan.

"Tetapi itu tadi, kalau nama-namanya banyak beredar, hanya yang akan menentukan itu nanti konteksnya (pemerintahan yang akan dibangun Jokowi sepanjang 2019-2024)," kata Abbas.

"Konteks makro yang ingin diatasi oleh presiden dalam 5 tahun ke depan seperti apa. Nah konteks makro itu yang jadi salah satu faktor dalam menentukan tokoh dari kalangan mana, dari usia berapa, dari profesi apa yang cocok mendampingi pak Jokowi," ujarnya menambahkan.

Idil pun tak menutup kemungkinan Jokowi memilih pendamping di luar partai koalisi.

Menurut Idil, kemungkinan itu terbuka sebagai solusi untuk mencegah perpecahan antar partai koalisi. Namun, kata Idil, hal tersebut tergantung pembicaraan antar partai koalisi dan kesepakatan bersama tentang pendamping Jokowi.

"Saya yakin kemudian yang ada adalah bagaimana komitmen koalisi itu di dalam pencalonan capres, dan juga kesepakatan yang kemudian dihadirkan di dalam konteks itu," kata dia.

Terlepas dari kans Cak Imin, Romi, dan Airlangga menjadi pendamping Jokowi, Abbas memprediksi ketiga ketua partai itu tetap akan bermanuver sampai masa pendaftaran capres-cawapres dimulai pada Agustus mendatang.

Sebab, menurut Abbas, manuver itu tak semata-mata agar dipilih menjadi pendamping Jokowi, melainkan juga untuk meningkatkan elektabilitas partainya masing-masing.

"Oleh karena itu yang dilakukan Cak Imin, atau Romi, atau Airlangga saat ini jangan dibaca semata-mata untuk memperjuangkan posisi wakil presiden," ujar dia.

"Tetapi perlu dibaca sebagai cara ketum-ketum partai politik itu mengkonsolidasi organisasinya dari pusat sampai daerah, dan memperbaiki posisi elektabilitas partainya," kata Abbas melanjutkan.

Menurut Abbas, langkah Cak Imin, Romi, dan Airlangga mempromosikan diri penting agar partai dapat menangguk suara besar di Pemilu 2019, baik pemilihan legislatif maupun presiden.

"Jika mereka melakukan itu saat ini, maka efek elektoralnya untuk PKB, PPP maupun Golkar itu bisa diperbesar untuk keunggulan di pemilu serentak nanti," ujar Abbas.
(wis)