Tausiah politik menurut Tjahjo adalah memberikan materi yang berkaitan dengan penyegaran dan penguatan iman, serta memberikan pandangan yang mulia sesuai dengan kitab suci.
"Kalau konteks di rumah ibadah, di masjid ya berarti harus ada konteks sesuai dengan Alquran dan Hadist. Kalau di gereja harus sesuai dengan kitab suci, injil, Alkitabnya dong. Masak, menyimpang, ya, enggak bisa dong," kata Tjahjo setelah memberikan pidato di acara Musrembang Kalimantan di Petamburan, Jakarta Barat, Kamis siang (26/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Amien Rais: Pengajian Harus Disisipi Politik |
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin sebelumnya menyatakan ceramah bernuansa politik di rumah ibadah tidak diperbolehkan.
Agama, menurut Lukman, seharusnya mempersatukan masyarakat supaya tercipta kehidupan rukun dan damai, bukan malah menimbulkan perpecahan. Karena itu, Lukman mengingatkan para penceramah tidak memanipulasi agama buat kepentingan politik praktis.
"Jangan memperalat agama, jangan memanipulasi, dan eksploitasi agama dalam pengertian sisi luarnya itu untuk digunakan sebagai faktor pembenar atau kepentingan politik praktis pragmatis," kata Lukman.
"Sekarang ini kita harus menggerakkan seluruh kekuatan bangsa ini untuk bergabung dan kekuatan dengan sebuah partai. Bukan hanya PAN, PKS, Gerindra, tapi kelompok yang membela agama Allah, yaitu hizbullah. Untuk melawan siapa? untuk melawan hizbusy syaithan," ujar Amien dalam tausiahnya.
(wis/gil)