Reaksi Panitia Soal Ricuh Gelaran Pesta Rakyat di Monas

Mesha Mediani, CNN Indonesia | Sabtu, 28/04/2018 20:42 WIB
Reaksi Panitia Soal Ricuh Gelaran Pesta Rakyat di Monas Panitia Pesta Rakyat 'Untukmu Indonesia' di Monas memberi tanggapan akan keriuhan yang berlangsung dengan pengunjung mencapai 150 ribu orang pada Sabtu (28/4). (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pesta Rakyat bertajuk 'Untukmu Indonesia' yang berlangsung di Monumen Nasional (Monas) sejak Sabtu (28/4) pagi, akhirnya bubar pada pukul 18:15 WIB.

Melalui pengeras suara, unit pelaksana teknis (UPT) Monas menginstruksikan panitia dan warga untuk meninggalkan lokasi karena seluruh pagar akan segera ditutup.

Digelar hampir seharian, acara yang diusung Forum Untukmu Indonesia itu dihadiri oleh sekitar 150 ribu pengunjung yang berasal dari area Jabodetabek. Beberapa di antaranya sempat berdesakan dan jatuh pingsan. Sejumlah pengunjung juga ada yang 'emosi' karena tak mendapatkan makanan gratis meski sudah antri.


Menanggapi ini, salah seorang panitia, Simon Simaremare mengakui acara tersebut sempat sedikit tak tertib. Namun, kata dia, panitia sudah merapikan dan tambahkan petugas. Salah satu caranya dengan membuat pembatas tali agar lebih teratur.

"Massa banyak begitu kan kita sudah bilang (harus) teratur, tapi ya namanya masyarakat tetap saja ingin segera duluan di depan. Ya kita harus maklumlah. Begitulah warga kita. Membludak. Makanya saya bilang, inilah yang harus kita pikirkan bagaimana warga kita bisa lebih tertib seperti negara maju," ujarnya saat dihubungi CNNIndonesia.com, pada Sabtu (28/4).


Tak hanya riuh karena berdesakan dan insiden pembagian makan gratis, gelaran itu juga sempat membuat kemacetan parah di ruas jalan sekitar Monas dan membuat TransJakarta melakukan pengalihan rute di beberapa koridor sebagai antisipasi.

Terkait kemacetan panjang yang mengular tak hanya di sekitaran Monas, bahkan dari arah Senen menuju Salemba/Kampung Melayu maupun Senen menuju Cempaka Putih/Pulo Gadung tersebut, Simon mengatakan hal itu biasa terjadi.

"Karena hari ini ratusan ribu orang tentu punya dampak yang bikin macet. Kalau Anda lihat kemacetan hari ini dibandingkan hari kerja, memang lebih macet hari ini. Tetapi tidak ada (macet) yang surprising hari ini," kata Simon.

Acara yang digagas Forum Untukmu Indonesia itu ramai diserbu warga karena bukan sekadar panggung hiburan tapi juga disebutkan memberikan banyak hal dengan cuma-cuma, dari mulai sembako, makanan, sunatan massal, makeover, dan lainnya. Panitia dikabarkan memberikan satu juta kupon untuk warga Jabodetabek melalui RT/RW setempat.

Reaksi Panitia Soal Riuh Gelaran Pesta Rakyat di MonasPembagian sembako di pesta rakyat 'Untukmu Indonesia'. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)



Agenda besar yang dihadiri ratusan ribu warga itu mengakibatkan sampah plastik bekas makanan dan minuman memenuhi sekitar area Monas hingga jalan protokol yang mengitarinya seperti Jalan Medan Merdeka Barat, Jalan Medan Merdeka Selatan, dan Jalan Medan Merdeka Utara.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com hingga sore hari, belum ada petugas dari panitia Forum Untukmu Indonesia untuk membersihkan lokasi. Hanya tampak sedikit Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) alias pasukan oranye yang membantu menyingkirkan sampah tersebut.

Menanggapi ini, Simon beralasan tim kebersihannya baru akan bergerak malam hari ketika para pengunjung telah meninggalkan lokasi.

"Memang dalam sebuah event besar, akan ada excess. Salah satu tadi excess-nya adalah sampah, dan itu kita bantu bersihkan," kata Simon. 

Reaksi Panitia Soal Riuh Gelaran Pesta Rakyat di MonasUsai acara pesta rakyat 'Untukmu Indonesia' di Monas, Sabtu (28/4). (Foto: CNN Indonesia/Mesha Mediani)


Pesta Rakyat

Menanggapi kejelasan acara yang diusungnya, Simon mengatakan Forum Untukmu Indonesia sebagai penyelenggara adalah kumpulan masyarakat dengan berbagai profesi yang berkeinginan untuk menyatukan bangsa.

"Kita inisiasi acara yang melibatkan komponen masyarakat dari anak muda, senior, sampai berbagai agama. Tetapi sebagian besar agamanya nasrani," kata Simon.

Ia pun mengaku tak ambil pusing atas tudingan sejumlah pihak yang menyebut bahwa acara yang digelarnya adalah pemurtadan yang dikemas kegiatan sosial.

"Memang saya dengar desas desus seperti itu. Biasalah, tetapi bisa dilihat dari pagi tidak ada kegiatan sebagaimana yang orang tuduhkan," ujarnya. (rah/asa)