Pelatihan untuk Guru Demi Revolusi Industri 4.0 Masih Kurang

Dika Dania Kardi, CNN Indonesia | Kamis, 03/05/2018 04:01 WIB
Pelatihan untuk Guru Demi Revolusi Industri 4.0 Masih Kurang Ketum PGRI menyatakan pelatihan bagi guru, terutama dalam menghadapi kebutuhan Revolusi Industri 4.0 dinilainya masih kurang. (Ilustrasi/CNN Indonesia/Bintoro Agung)
Jakarta, CNN Indonesia -- Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menilai pelatihan yang diberikan kepada guru untuk merespons kebutuhan Revolusi Industri 4.0 masih kurang.

"Pelatihan guru masih sangat kurang. Padahal inti dari kualitas guru bukan pada pelaksanaan sertifikasi guru," ujar Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi, Rabu (2/5) seperti dikutip dari Antara.

Pernyataan Unifah tersebut terkait peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap 2 Mei. Menurut Unifah, hal yang utama pada pengembangan keprofesian berkelanjutan justru hampir tidak tersentuh.



Dia mengatakan Program Sistem Informasi Manajemen Pengembangan Keprofesian dan Berkelanjutan (SIM PKB) merupakan kebijakan pejabat sebelumnya yang dinilai sarat dengan kamuflase. Pasalnya, guru bukan dilatih tapi diberi soal yang harus diisi setiap hari dan kalau jawabannya jelek diberi rapor merah.

"Bukan diperbaiki kekurangan dan dilatih. Pendekatan pelatihan masih diperlukan dalam klaster-klaster. Guru-guru yang sudah sangat maju dapat menjadi tutor sebaya. Jangan gantungkan semua pelatihan guru secara online dan diserahkan kepada guru sendiri seperti dalam SIM PKB. Ini menjerumuskan," kata Unifah.


Unifah juga memaparkan kondisi darurat guru pun memberikan dampak terhadap darurat pendidikan. Dampaknya, kata Unifah, seperti bola salju.

"Masalah di atas merupakan masalah klasik yang utamanya sebenarnya sederhana, yaitu kemauan mengubah regulasi. Hal ini yang membuat guru tidak merdeka dan tidak berdaulat, sehingga menghasilkan proses pendidikan yang tidak berkualitas," kata dia soal kebutuhan para guru. (Antara/kid)