Usai berbincang dan makan siang bersama 37 pegiat literasi inspiratif, Jokowi menyempatkan diri keluar Istana dan melihat kendaraan-kendaraan unik yang digunakan pegiat sebagai perpustakaan keliling. Kendaraan-kendaraan yang dimodifikasi itu diparkir di halaman Istana, dari mulai dari angkot, bemo, pedati, hingga sepeda motor.
Hal menarik terjadi ketika Jokowi berbincang dengan Sugeng Haryono, pegiat literasi asal Lampung. Ia hadir di Istana Negara bersama motor Honda GL Max tahun 1986. Motor tua itu sehari-hari digunakan Sugeng untuk bekerja menjual jasa tambal ban dan dijadikannya perpustakaan keliling.
Lihat juga:Jokowi Gratiskan Biaya Kirim Buku ke Daerah |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pak permintaan saya langsung dari Lampung, boleh coba motornya," kata Sugeng.
Jokowi meliha-lihat sepeda motor yang dijadikan perpustakaan keliling. (CNN Indonesia/Christie Stefanie) |
"Idenya dari keprihatinan sendiri. Saya tanya pada orang kampung di mana perpustakaan. Terus dijawab 'perpustakaan itu apa?' Di situlah dari hati saya ide motor pustaka itu ada," ujarnya.
"Biayanya sendiri dari hasil tambal ban sekitar Rp1,5 juta," kata Sugeng.
Setelah kendaraan jadi, ia pun mulai mengelilingi desa-desa di pelosok Lampung. Ia biasa menetap dua hari di satu desa sebelum berpindah ke daerah lainnya. Sekali jalan, ia biasanya membawa 100-120 buku.
Sugeng adalah salah salah satu pegiat literasi yang diundang Jokowi ke Istana dalam rangka Hari Pendidikan Nasional. Mereka berkeluh kesah pada Jokowi soal mahalnya harga buku hingga biaya pengiriman yang mahal.
Jokowi dalam kesempatan ini menjanjikan akan menggratiskan biaya pengiriman buku ke daerah hingga meminta buku disebarkan ke sejumlah daerah yang membutuhkan.
Jokowi meliha-lihat sepeda motor yang dijadikan perpustakaan keliling. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)