Untuk itu, saat ini internal Partai Golkar tengah mengkaji sosok yang tepat dan mencari alternatif untuk mendampingi Jokowi.
"Sekarang prosesnya, karena kita sudah adakan Munas, Rapimnas, dan memberi kewenangan memilih Cawapres itu pada Pak Jokowi," katanya di Kantor DPP Golkar, Jakarta, Rabu (2/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia juga mengakui jika JK dan Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto termasuk figur yang memiliki faktor pelengkap Jokowi. JK dianggap memiliki pengalaman dan faktor kewilayahan.
"Ya ini yang sedang dikaji, coattail effect kalau ini terjadi. Apa faktor-faktor yang bisa membuat suatu analisa penguatan bagi partai Golkar," kata Aziz
Sebab, menurut Aziz belum ada dampak signifikan terhadap elektabilitas partainya setelah mendukung Jokowi.
Uji materi
Namun, Aziz mengungkap bahwa keputusan partai Golkar terkait siapa yang akan diusung sebagai Cawapres Jokowi masih menunggu hasil uji materi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. Pengujian dilakukan terkait ketentuan masa jabatan Presiden dan Wakil Presiden.
Gugatan terhadap UU tersebut diajukan oleh Federasi Serikat Pekerja Singaperbangsa dan Perkumpulan Rakyat Proletar. Mereka menggugat pasal 169 huruf n dan pasal 227 huruf i yang mengatur bahwa pencalonan diri sebagai presiden atau wapres maka calon terkait belum pernah menjabat dua kali pada masa jabatan yang sama.
Berdasarkan survei terakhir Litbang Kompas, elektabilitas Golkar berada di kisaran 7-9 persen meski sudah menyatakan dukungan kepada Jokowi. Posisi Golkar juga masih berada di bawah Gerindra dan PDIP yang menduduki peringkat pertama. (eks)