Nathan, Bocah Korban Bom Surabaya Masih Kritis

Feri Agus Setyawan, CNN Indonesia | Senin, 14/05/2018 00:58 WIB
Nathan, Bocah Korban Bom Surabaya Masih Kritis Petugas mengangkut korban bom Surabaya, Minggu (13/5). (REUTERS/Beawiharta)
Surabaya, CNN Indonesia -- Nathan (8), salah satu korban luka ledakan bom bunuh diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Jalan Ngagel, Surabaya, Minggu (13/5) pagi tadi, masih bertahan namun dalam kondisi kritis.

Ketika kejadian, Nathan datang bersama kakaknya, Vincencius Evan (11), dan orang tuanya untuk beribadah Minggu.

Salah satu jamaat Gereja Santa Maria, Aini, menyampaikan bahwa Nathan mengalami luka cukup serius dan tengah dirawat di Rumah Sakit (RS) Bedah Surabaya. Airin sekaligus membantah kabar yang menyebut Nathan telah meninggal dunia.

"Nathan ini memang lagi kritis terus diamputasi, tapi masih hidup," kata dia, saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, di RS Bhayangkara Surabaya.

Aini menuturkan bahwa Nathan merupakan teman sekolah anaknya di SD Santa Clara. Menurut dia, keduanya sama-sama duduk di bangku kelas 2 dan kerap main bersama.

"Nathan satu sekolah dengan anak saya di SD Santa Clara," imbuh dia.

Nathan masih dirawat intensif sama seperti ibunya, Wenny, di RS Bedah, Surabaya. Sementara kakak Nathan, Evan, tewas saat dibawa ke rumah sakit. Menurut Aini, Evan tak tertolong lantaran mendapat luka yang serius akibat ledakan bom bunuh diri pagi tadi.

"Evan mungkin tak tahan, sudah tidak kuat, meninggal. Evan sekolah di SD Petra, kelas 6," ujarnya.

Dari informasi yang didapat, satu keluarga itu datang bersama sesaat sebelum terduga pelaku meledakan bom di depan pintu masuk Gereja Santa Maria.

Menurut Aini, ayah mereka menurunkan istrinya serta Nathan dan Evan di depan pintu masuk, sementara dia memarkirkan mobilnya. Nahas, saat tengah memarkirkan mobil, bom meledak di pintu masuk gereja.

"Kan itu diturunin papanya. Papanya masih parkir mobil. Diturunin, papanya parkir, dia masuk [dan bom meledak]," kata dia.

Aini mengaku beruntung lantaran pagi tadi dirinya bersama suami dan kedua anaknya tak pergi ke gereja karena kesiangan. Rumahnya sendiri hanya berjarak 1 kilometer dari gereja tersebut.

Sedikitnya ada 13 orang meninggal dunia dari ledakan bom bunuh diri di tiga gereja berbeda di Surabaya. Enam di antara korban itu diduga pelaku yang merupakan satu keluarga, sementara tujuh orang lainnya adalah masyarakat yang berada di sekitar gereja.


(arh/arh)