Eks Napiter Nilai Ramadan Tak Jamin Aksi Teror Mereda

Tiara Sutari, CNN Indonesia | Kamis, 17/05/2018 14:15 WIB
Eks Napiter Nilai Ramadan Tak Jamin Aksi Teror Mereda Eks napi teroris bom Bali I, Ali Fauzi menilai, ramadan berpotensi tak menghentikan aksi teror jika melihat ideologi mereka. (CNN Indonesia/M Andika Putra).
Jakarta, CNN Indonesia -- Rentetan aksi teror di sejumlah tempat di Surabaya, Jawa Timur menyusul kemudian aksi penyerangan yang dilakukan oleh sejumlah teroris di Mapolda Riau dianggap masih belum selesai. Dua kejadian teror itu terjadi hanya selang beberapa hari dari kerusuhan oleh narapidana teroris di Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Mantan Kepala Instruktur Perakitan Bom Jamaah Islamiyah (JI) Ali Fauzi mengatakan, jika berkaca pada ideologi yang dianut, tak menutup kemungkinan masih akan ada serangan-serangan teror yang dilakukan oleh jaringan yang berafiliasi ISIS ini. Ramadan dianggap tak menutup potensi terjadinya aksi teror.

"Kalau lihat mindset ideologi mereka yang diusung, bisa jadi (masih ada)," kata Ali Fauzi ditemui di kawasan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (17/5).



Bagi para pelaku teror, bulan ramadan sebagai bulan penuh berkah, apalagi jika ditamabah dengan amalan-amalan lain. Bukan tidak mungkin, kata Ali, mereka menganggap amalan pahala akan semakin berlipat.

Melakukan amaliah melalui aksi jihad dalam perspektif mereka akan menambah daftar panjang amalan yang diperbuat.

"Karena mereka lihat ini (bulan ramadan) banyak pahala, apalagi melakukan tindakan amaliah," katanya.

Meski begitu, mantan napi teroris ini menyebut masyarakat tak perlu takut dengan ancaman serangan para teroris. Sebab kata dia, selama masyarakat masih bahu-membahu dipastikan tak akan ada tempat bagi para teroris di Indoneisa.

"Selama masih rukun dan kerja sama semua masyarakat, tidak perlu takut, tak ada tempat bagi para pelaku teror," katanya.


Meski begitu, Ali juga mengingatkan saat ini cukup sulit mendeteksi para pelaku jihad teroris ini. Mereka kebanyakan telah berkamuflase hidup berdampingan dengan masyarakat.

Tak heran, kata Ali, saat ini banyak pelaku teror yang justru dikenal baik oleh masyarakat sekitar sebagai orang biasa tanpa menunjukan gerakan mencurigakan.

"Mereka pakai ilmu kamuflase, dia hidup menyerupai masyarakat biasa. Kalau di sekitar kebanyakan pegawai, dia berbaur jadi pegawai, kalau pedagang dia juga berbaur jadi pedagang," kata adik terpidana kasus bom Bali I, Ali Imran (seumur hidup), serta Amrozi dan Ali Ghufron (sudah dieksekusi mati).

[Gambas:Video CNN] (osc)