ANALISIS

Menilik Kans Reinkarnasi Militansi NII di Era ISIS

Bimo Wiwoho, CNN Indonesia | Minggu, 20/05/2018 10:59 WIB
Polisi menyebut penyerang Mapolda Riau pada Rabu pagi lalu (16/5) adalah anggota kelompok Negara Islam Indonesia (NII) yang telah berbaiat kepada ISIS. Keluarga Ipda Auzar yang bertugas di Direktorat Lalu Lintas Polda Riau meninggal dunia akibat ditabrak mobil pelaku penyerangan di Mapolda Riau. (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekelompok terduga teroris sempat menyerang Mapolda Riau pada Rabu pagi lalu (16/5). Akibat kejadian tersebut, satu polisi meninggal dunia akibat ditabrak mobil terduga teroris. Dua anggota polisi seorang jurnalis turut terluka akibat serangan tersebut.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Polri, Inspektur Jenderal Setyo Wasisto mengatakan bahwa terduga teroris yang menyerang Mapolda Riau bukan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Menurutnya, mereka adalah anggota kelompok Negara Islam Indonesia (NII) yang telah berbaiat kepada ISIS.

"Keterangan dari kelompok ini adalah kelompok Negara Islam Indonesia atau NII yang berafiliasi dengan ISIS Dumai," ujar Setyo, Rabu (16/5).


Pernyataan Setyo tersebut dibantah oleh atasannya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Tito mengatakan bahwa kelompok terduga teroris yang menyerang Mapolda Riau merupakan kelompok JAD. Menurut Tito, kelompok terduga teroris di Riau itu memiliki kaitan dengan kelompok di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok dan teror bom bunuh diri di Surabaya.


"Kalau ikuti acara yang saya sampaikan beberapa hari terakhir, saya sudah sampaikan semua yang melaksanakan kegiatan ini namanya jaringan JAD," kata Tito di Mapolda Riau, Pekanbaru pada Kamis (17/5).

Meski pernyataan Setyo mengenai keterlibatan kelompok NII telah dibantah Tito, tetap saja terlanjur menjadi sorotan oleh sejumlah pihak. Khususnya mereka yang selama ini memang berkutat mempelajari gerakan kelompok Islam radikal di Indonesia.

"Tidak menutup kemungkinan kelompok NII bergabung dengan ISIS. Saya masih mempelajari itu," ucap peneliti terorisme Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh, Al Chaidar saat dihubungi CNNIndonesia.com, Sabtu (19/5).

Riwayat Kelompok NII Kartosoewirjo

Keberadaan Kelompok Negara Islam Indonesia (NII) tak lepas dari kekecewaan terhadap hasil Perundingan Renville Desember 1947. Perundingan tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa Belanda mengakui wilayah Indonesia hanya sebatas Sumatera, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Selebihnya, termasuk Jawa Barat dan Jawa Timur, merupakan milik Belanda.


Republik Indonesia lalu memindahkan bala tentaranya ke wilayah yang diakui oleh Belanda. Tentara dari Jawa Barat yakni Kodam Siliwangi dan Kodam Brawijaya Jawa Timur, dipindahkan ke Jawa Tengah bergabung dengan Kodam Panembahan Senopati (kini Kodam Diponegoro). Dengan demikian, Jawa Barat mengalami kekosongan militer.

Menurut sejarawan Deliar Noer, tidak semua pasukan dari Jawa Barat hijrah ke Jawa Tengah. Dalam bukunya bertajuk Partai Islam di Pentas Nasional, Deliar menyebut masih banyak kekuatan bersenjata yang menamakan dirinya Hizbullah dan Sabilillah menetap di Jawa Barat. Khususnya wilayah Garut, Tasikmalaya dan sekitarnya.

Mereka dipimpin oleh pimpinan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) yakni Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Kartosoewirjo sendiri merupakan mantan anggota Sarekat Islam. Dia sempat tinggal bersama pemimpin Sarekat Islam yang tersohor, HOS Cokroaminoto bersama Alimin, Musso, Semaun, dan Soekarno.

Penyerangan di Mapolda RiauFoto: AFP PHOTO / DEDY SUTISNA
Penyerangan di Mapolda Riau


Deliar mengatakan bahwa Hizbullah dan Sabilillah berperan membantu militer Indonesia dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan. Namun, mereka tidak ikut hijrah ke Jawa Tengah lantaran ada pertimbangan yang bersifat pribadi: merasa bertanggung jawab terhadap kampung halaman dan sanak saudara. Karenanya, mereka tidak ikut hijrah ke Jawa Tengah.

Dalam kondisi demikian, Kartosoewirjo mengubah angkatan tersebut menjadi gerakan baru bernama Darul Islam atau Tentara Islam Indonesia. Sejak itu, DI/TII kerap melakukan teror terhadap tentara Belanda yang mana telah Negara Pasundan di Jawa Barat sebagai bagian dari wilayahnya berdasarkan Perjanjian Renville.

Belanda melancarkan Agresi Militer ke II ke Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 19 Desember 1948. Pemimpin Indonesia seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Agus Salim, serta Sutan Sjahrir ditangkap dan diasingkan secara terpisah ke Sumatera. Militer Indonesia kemudian membalikkan kedudukan melalui Serangan Umum 1 Maret 1949. Setelah itu, konflik Indonesia-Belanda berangsur mereda akibat tekanan dari PBB. Tentara Belanda pun mulai meninggalkan Indonesia.


Meski kedaulatan Indonesia mulai diakui oleh Belanda, DI/TII menolak bergabung. Kartosoewirjo justru memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia di Tasikmalaya pada 7 Agustus 1949. DI/TII tidak terima ketika pasukan Kodam Siliwangi mulai kembali ke Jawa Barat. Menurut mereka, tentara Indonesia sudah terkontaminasi oleh golongan komunis yang memberontak di Madiun 1948 silam.

Sejarawan Universitas Indonesia Mohammad Iskandar mengatakan bahwa DI/TII Jawa Barat kerap melakukan teror dalam rentang 1949-1962. Mereka melakukan aksi teror sekaligus mengambil kebutuhan logistik dari masyarakat sekitar.

"Saya sendiri termasuk yang ikut mengungsi ke pinggiran kota menjelang sore hari dan kembali ke kampung setelah Shalat Subuh. Masyarakat yang anti DI/TII banyak yang diteror dan dibunuh oleh DI/TII," ujar Iskandar saat dihubungi CNNIndonesia.com, Sabtu (19/5).

Geliat DI/TII semakin berani sepanjang 1950-an. Menurut Iskandar, hal itu terjadi lantaran kekuatan DI/TII dan TNI sudah tidak berbeda jauh. Baik dari segi persenjataan mau pun pengalaman tempur.


"Sampai dengan awal tahun 1960, hampi semua jalan raya penghubung kota-kota di Jawa Barat tidak aman," katanya.

Iskandar pun mengatakan bahwa DI/TII kala itu sudah mampu menciptakan bom rakitan. Meski tidak terlalu modern, namun tetap mujarab untuk mensukseskan misi teror di sejumlah wilayah di Jawa Barat.

"Yang disebut bom batok itu adalah bom rakitan," ucapnya.

Pemerintah Indonesia pun kala itu cenderung lamban menumpas DI/TII di Jawa Barat hingga ke akarnya. Padahal, aksi teror mereka sudah begitu sering dan membuat cemas masyarakat.


Sejarawan M.C Ricklefs dalam bukunya Sejarah Indonesia Modern menuliskan, lambatnya penumpasan DI/TII tak lepas dari banyaknya pemberontakan di daerah lain. Misalnya, PRRI/Permesta di Sumatera Selatan, Sumatera Utara dan Sulawesi Utara, Darul Islam pimpinan Daud Beureuh di Aceh, serta Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan. Oleh karena itu, tentara Indonesia tidak dapat memusatkan perhatiannya kepada DI/TII di Jawa Barat saja.

Presiden Soekarno, yang kala itu menjabat sebagai kepala negara, turut dibuat gemas dengan sepak terjang DI/TII. Soekarno sempat menginstruksikan aparat untuk pertegas tindakan terhadap DI/TII saat berpidato di Istana Negara pada 17 Agustus 1953.

"Sekali lagi, hai, tentara dan polisi dan rakyat, perlipatgandakanlah usahamu membasmi pengacau-pengacau itu. Segala jalan harus dilalui. Kalau kata-kata saja tak dapat menyehatkan jiwa yang kebingungan, apa boleh buat. Suruhlah senjata berbicara satu bahasa yang lebih hebat lagi," imbuh Soekarno seperti dikutip dari Harian Merdeka, 18 Agustus 1953.


DI/TII pimpinan Kartosoewirjo baru benar-benar bisa dipadamkan pada 1962 melalui Operasi Barata Yudha atau Operasi Pagar Betis. Kala itu, Kartosoewirjo ditangkap di Gunung Beber, Majalaya lalu dieksekusi mati di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara.

NII Kini dan Hubungannya dengan JAD

Pengamat terorisme Universitas Malikussaleh Lhokseumawe, Aceh, Al Chaidar mengatakan kelompok NII masih ada dan tersebar di seluruh Indonesia. NII yang kini ada, lanjutnya, merupakan kelanjutan dari NII yang diproklamirkan oleh Kartosoewirjo 1949 silam.

Tidak tanggung-tanggung, Chaidar mengatakan NII memiliki sekitar 15 ribu anggota. Semuanya terbagi menjadi 14 faksi dan tersebar di seluruh Indonesia.

"Ada 14 faksi, pimpinannya berarti ada 14 imam," ucap Chaidar.

Selain itu, Chaidar membeberkan bahwa sejumlah anggota NII juga mampu merakit bom.

"Dengan ledakan yang besar. High explosive. NII juga pernah terlibat teror di bom buku, dan lain-lain," ucap Chaidar.


Mengenai prinsip, NII memiliki perbedaan dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Menurut Chaidar, kelompok NII tidak pernah mengkafirkan orang lain. Mereka juga tidak pernah menghukum orang yang dianggap kafir karena melakukan dosa besar. Berbeda halnya dengan JAD yang senantiasa melakukan kedua hal tersebut.

"ISIS dan JAD bahkan sering mencela NII," kata Chaidar.

Sebelumnya, Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto mengatakan kelompok terduga teroris di Riau merupakan anggota NII. Pernyataan itu lalu dibantah oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang menyatakan bahwa terduga teroris tersebut masih berkaitan dengan JAD atau bukan NII seperti yang diutarakan Setyo.

Menurut Chaidar, tidak menutup kemungkinan jika saat ini kelompok NII turut bergabung bersama JAD. Mereka pun bergabung bersama JAD tidak perorangan, melainkan secara berkelompok. Misalnya, Chaidar mengatakan ada 3 dari 14 faksi kelompok NII yang saat ini sudah berbaiat kepada ISIS. Pernah pula 15 anggota kelompok NII yang berangkat ke Suriah untuk berperang bersama ISIS sejak 2014 lalu.


Namun, Chaidar ragu seluruh atau keempat belas faksi NII yang berjumlah 15 ribu secara eksodus bergabung semua ke JAD.

"Beda ideologinya jauh banget," kata Chaidar.

Potensi Polisi Memperbanyak Target Operasi

Pernyataan tak sama dua petinggi polisi mengenai pelaku penyerangan Mapolda Riau ditanggapi serius oleh Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya. Dia tidak mengaku tidak punya kapasitas untuk bicara perihal riwayat NII dan hubungannya dengan JAD.

Harits justru melihat ada upaya dari polisi untuk memperbanyak target operasi.

"Saya lihat ada upaya untuk melebarkan dan menjangkaukan soal siapa kelompok teror. Padahal kuncinya adalah ISIS," ucap Harits.


Harits mengatakan bahwa anggota JAD memang ada yang berasal dari kelompok NII. Ada pula yang mulanya bergumul dengan kelompok Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), Majelis Indonesia Barat (MIB), Majelis Indonesia Timur (MIT) serta kelompok lainya. Akan tetapi, walau bagaimanapun, NII tidak bisa disamakan dengan JAD begitu saja meski ada anggotanya yang bergabung bersama JAD.

"NII masih ada tapi tidak semua individunya bergabung dengan ISIS," ucapnya.

Harits juga melihat ada kejanggalan dari pernyataan petinggi polisi. Dia merujuk dari pernyataan Setyo yang mengatakan terduga teroris penyerang Mapolda Riau merupakan kelompok ISIS atau JAD Dumai, Riau.

Menurut Harits, JAD tidak mengenal istilah cabang. JAD, katanya, tidak seperti Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) yang memiliki cabang.

[Gambas:Video CNN]

Harits berasumsi ada upaya memperbanyak target operasi berdasarkan kejanggalan gelagat polisi yang dia lihat sejauh ini.

"Sepertinya polisi mau nambah jumlah kelompok musuh lebih banyak dari kelompok lama. Pelaku Riau, jadi apa korelasinya dengan jaringan ISIS? Kok tiba-tiba mereka menyerang markas polisi? Terus kenapa disebutkan NII seara mandiri sebagai label dari perilaku? Apa besok-besok disebut Jamaah Islamiyah dan kelompok-kelompok lainnya?" kata Harits. (nat)