SBY Ingatkan Reformasi Bisa Kembali Terjadi di Masa Depan

Yugo Hindarto, CNN Indonesia | Senin, 21/05/2018 10:48 WIB
SBY Ingatkan Reformasi Bisa Kembali Terjadi di Masa Depan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan bahwa reformasi bisa kembali terjadi di masa depan bila amanah reformasi tidak dijalankan dan diwujudkan oleh generasi sekarang dan mendatang.

"Generasi sekarang dan mendatang wajib jalankan dan wujudkan amanah reformasi tersebut. Kalau tidak, bisa ada reformasi lagi di masa depan," tulis SBY lewat akun twitter @SBYudhoyono, Minggu (21/5).

Kicauan SBY tersebut merupakan bagian dari pernyataan SBY terkait Hari Kebangkitan Nasional. Cuitan SBY ditulis sendiri oleh SBY, karena setiap cuitan diberi tanda * yang menandakan twit tersebut langsung dari Ketua Umum Partai Demokrat itu.
Menurut SBY, tahun 2018 memiliki makna sejarah yang tinggi. "Tahun 1908 - Kebangkitan Nasional. Tahun 1928 - Sumpah Pemuda. Tahun 1998 tonggak Reformasi," katanya.


Semangat Kebangkitan Nasional 1908, 110 tahun lalu, kata SBY memiliki makna bahwa  Indonesia menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat. "Bebas dari belenggu para penjajah," katanya.

Kata SBY, generasi sekarang dan mendatang bertugas untuk menjadikan Indonesia sebagai Negara Maju (Developed Country) di abad 21. Sedangkan semangat Sumpah Pemuda 1928, 90 tahun lalu, merupakan tonggak bersatunya pemuda-pemudi Indonesia di seluruh Tanah Air, yang amat majemuk identitasnya.

"Jangan sampai generasi sekarang kurang rukun dan kurang bersatu. Berdosa kita kepada para pendahulu. Malu pula kepada generasi mendatang," tulis SBY.

Sementara semangat dan agenda Reformasi 1998, 20 tahun lalu, menurut SBY merupakan koreksi besar dan mendasar atas kehidupan bangsa yang kurang adil dan berimbang bagi rakyat.

Dia mengatakan inti dari Reformasi mengingatkan agar Kekuasaan tak boleh terlalu absolut. Selain itu, reformasi juga mengamanatkan agar kebebasan rakyat dan demokrasi hidup. "Hukum tegak dan tak tebang pilih.

Selain itu, ekonomi adil dan menyejahterakan seluruh rakyat. "Dalam politik praktis (termasuk pemilu), negara (termasuk TNI, Polri & BIN) netral & tak berpihak," kicau SBY.

Sebab itu, SBY mengingatkan masyarakat agar tidak melupakan sejarah.

"Keledai tak tersandung batu yang sama. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, bukan keledai dan ingat sejarahnya," kata SBY.
(ugo)