Dinas LH Sebut Debu Pembangunan MRT Cemarkan Udara Jakarta

Dias Saraswati, CNN Indonesia | Rabu, 13/06/2018 16:11 WIB
Dinas LH Sebut Debu Pembangunan MRT Cemarkan Udara Jakarta Sejumlah kendaraan terjebak macet di kawasan jalan KH Abdullah Syafei Tebet, Jakarta. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Isnawa Adji mengatakan pencemaran udara di Jakarta tak hanya disebabkan oleh kendaraan bermotor namun juga debu pembangunan Mass Rapid Transport (MRT).

Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menyebut kualitas udara di Jakarta membaik selama libur lebaran 2018. Hal itu disebabkan karena jumlah kendaraan yang melintas di jalan Ibu Kota berkurang drastis.

Isnawa juga menyebut hujan yang sempat turun pada Selasa (12/6) malam juga berimbas semakin menurunnya tingkat polusi udara di Jakarta. Sebab, air hujan mampu meluruhkan kandungan polutan yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor.



Berdasarkan hasil monitoring kualitas udara di Stasiun DKI 1 Bundaran Hotel Indonesia tercatat penurunan konsentrasi gas SO2 atau sulfur dioksida sebesar 27,36 persen, penurunan konsentrasi gas CO atau karbon monoksida sebesar 66,91 persen, dan penurunan konsentrasi gas NO2 atau nitrogen oksida sebesar 70,81 persen.

"Namun, dari monitoring itu juga tercatat parameter PM 10 terjadi sedikit peningkatan konsentrasi sebesar 9,34 persen, yang disebabkan oleh debu dari kegiatan pembangunan MRT," kata Isnawa dalam keterangan tertulisnya, Rabu (13/6).

Sebelumnya, PT Mass Rapid Transit Jakarta (MRT) optimistis jalur MRT fase 1 antara Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia bisa beroperasi Maret 2019. Hingga awal Juni, progres pengerjaan proyek tersebut sudah mencapai 94,19 persen.

Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar mengatakan bahwa saat ini pengerjaan MRT fase 1 menyisakan pekerjaan detail seperti penyelesaian jalur masuk dan penataan interior stasiun. Sebagian pekerjaan utama sendiri sudah selesai dan progres konstruksi bisa mencapai 100 persen pada Agustus mendatang.

Di sisi lain, hasil monitoring Dinas Lingkungan Hidup di Stasiun DKI 4 Lubang Buaya juga mencatat terjadinya penurunan konsentrasi polutan. Namun, penurunan itu tidak sebesar di wilayah Bundaran HI.

"Kualitas udara pada lokasi ini [Stasiun DKI 4 Lubang Buaya] dipengaruhi oleh adanya jalan tol Cikampek dan Jagorawi yang menjadi akses warga ibu kota untuk mudik, sehingga lalu lintas malah bertambah padat," tutur Isnawa.


Isnawa menyampaikan dari hasil monitoring tersebut menunjukkan jika pengurangan volumen kendaraan bermotor bisa berdampak pada peningkatan kualitas udara.

"Membaiknya kualitas udara dapat dirasakan, antara lain dengan lebih nyamannya udara ketika dihirup di alam terbuka," katanya.

Lebih dari itu, Isnawa mengimbau kepada masyarakat Jakarta untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan beralih ke kendaraan umum. Tujuannya, untuk menjaga kualitas udara Jakarta tetap baik dalam rangka menyambut gelaran Asian Games 2018.

Dinas Lingkungan Hidup DKI, kata Isnawa juga akan rutin melakukan uji emisi kendaraan bermotor untuk memastikan kendaraan bermotor tersebut memenuhi ambang batas gas buang.

"Sehingga dengan kondisi banyaknya kendaraan yang ada tidak akan mencemari udara di DKI Jakarta," ujarnya.

(ugo/asa)