Kemerdekaan dari Asing dan Aseng dalam Khotbah Al Khathath

Bintoro Agung, CNN Indonesia | Jumat, 15/06/2018 10:03 WIB
Kemerdekaan dari Asing dan Aseng dalam Khotbah Al Khathath Muhammad Al Khathath (kedua dari kanan) berpose dengan para rekannya usai menjadi khatib salat Idulfitri di Perumahan Chandra Baru, Jatirahayu, Pondok Melati Bekasi. (CNN Indonesia/Bintoro Agung)
Jakarta, CNN Indonesia -- Muhammad Al Khathath menyinggung soal asing dan aseng, kriminalisasi ulama dan aktivis Islam, serta pemimpin zalim dalam khotbah Idulfitri yang ia sampaikan di Perumahan Chandra Baru, Jatirahayu, Bekasi, Jumat (14/6).

Sekjen Forum Umat Islam (FUI) tersebut mengatakan rakyat Indonesia mengalami banyak masalah saat ini dan dia meminta umat muslim berkonsolidasi dalam berbagai bentuk.

Salah satu bentuk konsolidasi adalah gerakan salat subuh berjamaah, penguatan gerakan infak, dan mengarahkan pemuda Islam agar sering menghabiskan malam di masjid.

Bentuk lain yang diusulkan oleh Al Khathath adalah penguatan ekonomi. Bidang ekonominya bermacam-macam, mulai dari usaha sablon, membuat sabun deterjen, berlatih teknik periklanan, atau mampu mengiklankan produk secara online.


"Anak-anak muda sudah harus dilibatkan dalam penguatan ekonomi umat untuk membebaskan ekonomi umat dari ketergantungan asing dan aseng."

Lalu yang menjadi perhatian Al Khathath berikutnya adalah kondisi ulama dan aktivis yang selama ini menurutnya masih rentan kriminalisasi. Ia merujuk pada kasus Alfian Tanjung saat ini.

Menurutnya umat Islam sejauh ini masih diremehkan dan sejumlah aspirasi dan haknya kerap diabaikan. Ia juga menganggap terus terjadi kriminalisasi setelah eks Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mendekam di penjara.

"Ulama dan aktivis dikriminalisasi dan pada saat tertentu dibasmi bak serangga seperti hama," Al Khathath berseru.

Poin terakhir yang ia sampaikan adalah respons pemerintah yang menurutnya menjauhi umat Islam. Semenjak tim perwakilan ulama Persaudaraan Alumni 212 di Istana Bogor menemui Presiden Joko Widodo, Al Khathath menilai hingga saat ini tidak ada arahan menghentikan kriminalisasi ulama dan aktivis Islam.

"Meskipun tim sebelas ulama 212 sudah ke Istana bertemu presiden dan mendesak agar kriminalisasi ulama dihentikan namun tidak terlihat perubahan yang signifikan," ujarnya lagi.

Tak lama kemudian pria yang bernama Muhammad Gatot Saptono itu menutup ceramahnya di hadapan jemaah dengan doa penutup majelis. Rangkaian salat Idulfitri akhirnya usai pada pukul 07.50 WIB.
(vws)