Puncak Arus Balik Gelombang Kedua Diproyeksi Akhir Pekan Ini

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Kamis, 21/06/2018 19:24 WIB
Kementerian Perhubungan memproyeksi puncak arus balik Lebaran 2018 gelombang kedua akan terjadi pada akhir pekan ini, 23-24 Juni 2018. Kementerian Perhubungan memproyeksi puncak arus balik Lebaran 2018 gelombang kedua akan terjadi pada akhir pekan ini, 23-24 Juni 2018. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar).
Jakarta, CNN Indonesia -- Puncak arus balik Lebaran 2018 diprediksi akan terjadi dua kali. Gelombang pertama terjadi pada 19-20 Juni lalu, dan gelombang kedua diproyeksi terjadi pada 23-24 Juni atawa pada akhir pekan nanti.

"Nanti saya perediksi pada Sabtu dan Minggu akan jadi ramai kembali," kata Kepala Posko Mudik 2018 Kemenhub Wahju Adji di kantor Kemenhub, Jakarta, Kamis (21/6).

Menurut dia, Kemenhub masih akan mengantisipasi lonjakan pemudik balik seperti sebelumnya, khususnya untuk mengurai kepadatan kendaraan di jalur darat.



Salah satu antisipasinya adalah melalui contra flow di beberapa titik tol yang memungkinkan macet. "Sehingga Kemenhub dan jajaran terkait persiapannya sama karena masih cukup banyak 54,85 persen yang belum kembali," terang Wahju.

Tapi, ia mengaku optimis arus balik gelombang kedua nanti tidak akan terlalu ramai. Hal itu dikatakannya setelah melihat pergerakan kendaraan pada gelombang pertama arus balik yang tidak mengalami kemacetan berarti.

Terlebih, hingga hari ini juga tidak terpantau kepadatan kendaraan di arus balik.


"Kemarin saya monitoring dari Jatim ke Jateng, kembalinya ke sini (Jakarta) pas tanggal 19, lagi puncaknya cukup lancar. Selama yang saya alami baru ini terlancar. Walau ada kenaikan jumlah penumpang, tapi khusus kembali lancar," ungkap dia.

Kembali One Way

Selain contra flow, Wahju melanjutkan bahwa pihaknya juga akan menerapkan sistem satu arah jika kepadatan sudah tidak dapat terurai.

Sistem itu sendiri sebelumnya sudah sempat diterapkan di ruas Tol Cipali hingga GT Cikarang Utama. Setelah GT Cikarang Utama hingga Cawang, petugas hanya memberlakukan sistem contraflow.


Pengendara dari Jakarta pun akhirnya dialihkan menuju jalan arteri lantaran berlakunya sistem itu.

"One way kalau ini padat, sesuai instruksi pimpinan ya kami one way. Karena yang diperhitungkan puncak arus balik belum tahu di hari apa mereka kembali. Tapi harapan kami itu tidak menumpuk di hari yang sama," jelasnya.

Kemenhub sendiri memprediksi selama musim mudik Lebaran tahun ini jumlah pemudik mencapai 19,5 juta yang menggunakan angkutan umum, antara lain 8,09 juta pemudik menggunakan bus, 4,63 juta pemudik kereta api, dan 5,75 juta pemudik pesawat.


Sedangkan untuk kendaraan pribadi angkanya mencapai 12,42 juta, yang terdiri dari 3,72 juta pemudik memakai roda empat dan 8,52 juta dari roda dua.

Namun, dalam realisasi terhitung sejak H-8 (7 Juni) sampai dengan H+2 Lebaran jumlah pemudik tercatat hanya berjumlah 10.881.089 orang. (bir)