Erupsi Anak Krakatau Dinilai Biasa dan Tak Membahayakan

Suriyanto, CNN Indonesia | Senin, 25/06/2018 21:05 WIB
Erupsi Anak Krakatau Dinilai Biasa dan Tak Membahayakan Erupsi Gunung Anak Krakatau dinilai tak membahayakan penerbangan dan pelayaran. (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda erupsi setinggi 1.000 meter, Senin (25/6). Dalam keterangan tertulisnya, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho mengatakan erupsi terjadi sekitar pukul 07.14 WIB.

"Gunung Anak Krakatau erupsi dengan tinggi kolom abu 1.000 meter di atas puncak kawah atau pada ketinggian 1.305 meter di atas permukaan laut," kata Sutopo.

Erupsi melontarkan abu vulkanik dan pasir namun tidak membahayakan penerbangan dan pelayaran di Selat Sunda. "Erupsi tidak berbahaya selama berada di luar radius 1 km dari puncak kawah," ujar Sutopo

Saat ini status Gunung Anak Krakatau tetap waspada atau Level 2. Status ini, kata Sutopo ditetapkan sejak Januari 2012. Menurutnya, status waspada ini berarti aktivitas vulkanik di atas normal sehingga terjadinya erupsi dapat terjadi kapan saja.


"Tidak membahayakan selama masyarakat tidak melakukan aktivitasnya di dalam radius 1 km," katanya.
Erupsi Anak Krakatau Dinilai Tak MembahayakanGunung Anak Krakatau di Selat Sunda. (AFP PHOTO / JEWEL SAMAD)

Erupsi Gunung Anak Krakatau menurutnya hal biasa karena gunung ini masih aktif untuk tumbuh besar dan tinggi.

Gunung Anak Krakatau muncul dari permukaan laut tahun 1927 setelah Gunung Krakatau meletus pada 1883. Setiap tahunnya, gunung ini bertambah tinggi rata-rata 4-6 meter.

"Energi erupsi yang dikeluarkan juga tidak besar. Sangat kecil sekali peluang terjadi letusan besar seperti letusan Gunung Krakatau pada 1883. Bahkan beberapa ahli mengatakan tidak mungkin untuk saat ini. Jadi tidak perlu dikhawatirkan," katanya.

Karena itu masyarakat dihimbau tetap tenang.

Sementara itu Kepala Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau di Lampung, Andi Suandi mengatakan saat erupsi yang terlihat adalah asap putih tipis.

Erupsi ini terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 30 mm dan durasi ± 45 detik. 

Masyarakat baik nelayan maupun wisatawan dilarang mendekat. "Masyarakat, nelayan dan wisatawan, dilarang mendekati Krakatau dalam radius satu kilometer," kata Andi. (yan/sur)