Skandal Korupsi di Tengah Selisih Tipis Suara Ganjar-Sudirman

DZA, CNN Indonesia | Kamis, 28/06/2018 08:14 WIB
Selain faktor dugaan keterlibatan korupsi e-KTP oleh Ganjar Pranowo, PDIP juga dinilai terlalu percaya diri menganggap calon yang diusungnya akan menang telak. Selain faktor dugaan keterlibatan korupsi e-KTP oleh Ganjar Pranowo, PDIP juga dinilai terlalu percaya diri menganggap calonnya akan menang telak. (CNN Indonesia/Damar Sinuko)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pasangan calon gubernur Jawa Tengah nomor urut 1, Ganjar Pranowo-Taj Yasin Maimoen memenangi perolehan suara sementara pilgub Jateng 2018. Skandal korupsi diduga jadi penyebab suara Ganjar hanya beda tipis dengan penantangnya, Sudirman Said.

Hal itu berdasarkan hasil penghitungan cepat atau quick count dua lembaga survei, Indo Barometer dan Saiful Mujani Research Center (SMRC). Hingga Rabu malam, posisi Ganjar unggul dari pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah.

Lembaga survei Indo Barometer menyebut pasangan Ganjar-Yasin memperoleh dukungan suara sebesar 56,74 persen. Untuk pasangan Sudirman-Ida suara yang masuk sebesar 43,26 persen.



Sedangkan lembaga SMRC menunjukkan pasangan Ganjar-Yasin juga unggul meraih suara masuk sebesar 58,58 persen. Sementara pasangan nomor urut 2 memperoleh 41,42 persen suara.

Hasil hitung cepat kedua pasangan calon kepala daerah Jawa Tengah hanya berselisih suara 10 persen.

Perolehan ini berbeda dengan perkiraan hasil survei beberapa lembaga sebelum pemungutan suara. Pasangan Ganjar-Yasin diperkirakan akan memenangkan pilgub Jateng secara mutlak.

Pengamat politik Universitas Diponegoro Triyono Lukmantoro mengaku terkejut dengan perolehan ini. Sebab Ganjar sempat diprediksi menang 70 persen sedangkan Sudirman 30 persen.


Triyono menilai selisih suara tidak terpaut jauh karena Sudirman berhasil mendapatkan dukungan dari kantong suara di daerah pesisir utara Jawa Tengah, seperti Brebes dan Tegal.

Selain itu, dukungan suara dari golongan petani dan nelayan juga turut mengalirkan suaranya kepada Sudirman.

"Ya, karena Ganjar dianggap tidak pro dengan petani dan lingkungan. Seperti kasus pembangunan pabrik semen di Kendeng, selain itu juga kebijakan yang dikeluarkan Ganjar untuk petani cukup menyusahkan mereka," ujarnya.

Skandal Korupsi, Suara Ganjar Selisih Tipis dengan SudirmanAksi menolak pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Di masa pemerintahannya, Ganjar mengeluarkan kebijakan kartu tani bagi petani. Namun justru dengan kartu ini, petani susah mendapatkan pupuk subsidi dari pengecer.

Pengamat politik dari Universitas Soedirman Indaru Setyo Nurprojo juga mengatakan suara hasil quick count berbanding terbalik dengan hasil survei.

Menurutnya hal ini dikarenakan dugaan keterlibatan Ganjar dalam proyek kasus korupsi proyek kartu tanda penduduk elektronik (e-ktp).

"Walaupun belum menjadi tersangka, tapi Ganjar sudah berulang kali dipanggil oleh KPK. Dan Ganjar juga menghadiri persidangan dalam kasus tersebut, ini menjadi pertimbangan bagi masyarakat Jawa Tengah," kata Indaru Setyo Nurprojo melalui sambungan suara dengan CNNIndonesia.com, Rabu (27/6).


Berbeda dengan Ganjar, Sudirman Said dianggap sebagai sosok yang cerdas dan kritis terhadap korupsi. Pada debat pilkada, Sudirman selalu menyampaikan ide dan gagasanya untuk membuat Jawa Tengah lepas dari korupsi.

"Sebenarnya Sudirman merupakan sosok yang cerdas, ide dan gagasanya bagus ingin membuat Jateng bebas korupsi. Namun sentimen program tidak terlalu mencuat dalam pilkada ini," kata Indaru.

Terlepas dari figur kedua calon gubernur, kedua pengamat ini juga mengatakan PDIP terlalu percaya diri menganggap calon yang diusungnya, Ganjar Pranowo akan menang. Triyono berpendapat, seharusnya PDIP menggunakan langkah-langkah strategis agar maksimal meraup suara.

"PDIP tidak bekerja dengan baik dugaan saya, dia terlalu percaya diri makanya pelaksanaan pencoblosan tidak maksimal. Misal saja mobilisasi Ganjar ke TPS (tempat pemungutan suara) tidak dilakukan dengan baik," kata Triyono.

Indaru juga menambahkan bahwa turunnya kepercayaan masyarakat Jawa Tengah terhadap partai berlambang banteng itu dikarenakan banyak kadernya yang terkena operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK. Salah satunya adalah Bupati Purbalingga yang ditangkap oleh KPK awal Juni 2018.

"Pemberitaan PDIP yg kena OTT cukup sangat signifikan. Misalnya Purbalingga, istrinya Ganjar dari sana tapi di sini selisih suaranya sangat tipis dengan Sudirman Said hanya tipis 5 persen, karena bupatinya habis kena OTT," kata Indaru.

Pada pilgub Jateng 2018, pasangan Ganjar-Yasin diusung lima partai, yakni PDIP, Demokrat, Nasdem, PPP, serta Golkar. Koalisi partai itu mendapatkan total jumlah kursi DPRD 58 kursi.

Sementara pasangan nomor urut 2, Sudirman-Ida diusung oleh Partai Gerindra, PKS, PAN, dan PKB yang memiliki total 42 kursi di DPRD Jateng.

(pmg/gil)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK