Nama TGB di Kantong Jokowi, Upaya Bendung Politik Identitas

Gloria Safira Taylor, CNN Indonesia | Jumat, 13/07/2018 10:39 WIB
Nama TGB di Kantong Jokowi, Upaya Bendung Politik Identitas Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi dinilai bisa membendung politik identitas jika mendampingi Jokowi sebagai cawapres 2019. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang (TGB) masuk dalam bursa calon wakil presiden untuk Joko Widodo di Pilpres 2019. Politik identitas jadi pertimbangan sebelum memilih cawapres.

Pengamat politik Universitas Indonesia Cecep Hidayat menilai politik identitas jelang pilpres 2019 masih terbilang tinggi. Menurutnya, TGB bisa saja membendung politik identitas tersebut dengan latar belakangnya sebagai tokoh bagi umat Islam meskipun popularitasnya dianggap masih rendah.

"Bisa saja, tapi enggak keseluruhan membendung itu, semuanya harus bekerja juga memperkenalkan TGB ke wilayah lain. Orang-orang yang berpendidikan mungkin tahu dia kepala daerah cukup berhasil, tapi, kan masyarakat Indonesia yang masih belum mendapatkan pendidikan dengan baik belum mengenal juga," kata Cecep kepada CNNIndonesia.com.


Jika dibandingkan dengan Ketum PKB Muhaimin Iskandar dan Ketum PPP Muhammad Romahurmuziy, popularitas TGB dinilai belum cukup tinggi. Selain faktor ketokohan, mesin partai pun dinilai akan cukup berpengaruh.

"Kombinasi antara figur cawapres dan capresnya dengan mesin partai yang dukung, jadi butuh dua itu. Figurnya baik apalagi dibantu dengan dukungan mesin," ucapnya.

Nama TGB sebagai cawapres semakin menguat setelah dirinya menyatakan dukungan ke Jokowi dua periode menjadi presiden. Dukungan TGB terkait dengan kelangsungan program Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika.

Wakil Sekjen PDIP Ahmad Basarah menilai masuknya nama TBG dalam bursa cawapres memperlihatkan Jokowi dekat dengan tokoh Muslim. Jokowi diklaim memperhitungkan ulama seperti TGB untuk menjadi pemimpin bangsa.

"TGB adalah salah satu kandidat cawapres yang sekarang namanya ikut mengerucut dengan nama-nama lainnya," ujar Basarah di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (11/7).

TGB sendiri merupakan kader Partai Demokrat yang tak termasuk partai pendukung Jokowi. 

"Dengan dia berikan dukungan kepada Jokowi bisa dipastikan tidak sesuai dengan pendapat Demokrat, (Demokrat) ini kan berusaha membangun poros baru dan tetap mengedepankan AHY (Agus Harimurti Yudhoyono)," kata Cecep.

Politik Identitas TGB Masuk Bursa Cawapres JokowiPresiden Joko Widodo (kiri) didampingi Gubernur NTB TGB Zainul Majdi berziarah ke Lombok. (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)
Sebagai kader Demokrat yang mendukung Jokowi, Cecep menduga TGB akan memilih untuk keluar partai. Atau hal yang paling memungkinkan adalah dengan pindah ke partai politik lainnya yang merupakan koalisi dengan PDIP.

"Bisa saja dia (keluar dari Demokrat) atau pindah ke partai lain," ucapnya.

Cecep menilai untuk menjadi cawapres, Jokowi dan TGB memiliki kombinasi yang terpenuhi yaitu Jokowi yang nasionalis dengan TGB yang besar di kelompok agama. Namun untuk jadi seorang cawapres, Cecep mengatakan kombinasi tidak hanya soal nasionalis dan agamais tetapi juga masuk ke sektor lain misalnya ekonomi.

TGB pun memilki sisi negatif dan positif. Menurut Cecep, TGB sebagai contoh kepala daerah yang sukses dapat membantu Jokowi di pemerintahan ke depan, TGB termasuk generasi muda yang dinilai lebih visioner, dia juga termasuk keturunan dan pemimpin organisasi Islam terbesar di NTB.

Sedangkan sisi negatif dari TGB adalah isu yang menyebut TGB sedang mencari perlindungan dari Jokowi atas dugaan kasusnya di KPK. Sisi lain, meskipun dia ketua dari organisasi Islam terbesar di NTB tetapi bukanlah kelompok Islam yang mencakup sebagian besar Indonesia.

Meski banyak negatif positif yang terdapat dalam TGB jika menjadi cawapres, Cecep menilai dukungan dari partai koalisi Jokowi bisa saja didapatkannya.




(pmg)