Malu-malu kucing merupakan peribahasa yang diartikan, sebenarnya mau tetapi pura-pura tidak mau.
Sikap Anies menjelang pemilihan presiden 2019 belum jelas. Di satu sisi, Anies dalam sejumlah kesempatan menyatakan berkomitmen untuk mengurus Ibu Kota karena hal itu sesuai mandat yang diberikan 57,9 persen warga Jakarta. Tapi di sisi lain, ia juga tak pernah secara tegas menolak maju di Pilpres 2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wawan menyebut Anies bukannya tanpa agenda politik. Sebagai seorang politikus, Anies diyakini memiliki agenda politik yang lebih dari sekadar menduduki kursi DKI1.
Wawan berpendapat ambisi seperti itu wajar dimiliki dan menjadi pembawaan politikus. Dan untuk momentum Pilpres, Wawan menduga Anies masih menunggu perkembangan negosiasi antara Gerindra, PKS, dan PAN yang sedang berembuk menentukan capres atau cawapres yang bakal diusung di Pilpres mendatang.
Tiru Jejak Jokowi
Kursi DKI1 sendiri memiliki nilai strategis. Berkaca dari pengalaman Joko Widodo, kursi DKI1 bisa menjadi batu pijakan bagi seseorang untuk bertarung di tingkat nasional yakni pemilihan presiden.
Wawan menyebut skenario politik itu bisa terulang di era Anies. Namun, ujung ceritanya kemungkinan berbeda dengan yang dialami Jokowi.
Meski pernah menang di Jakarta, Wawan tak yakin kemenangan yang sama akan diperoleh Anies apabila maju dalam Pilpres 2019.
Menurutnya, langkah Jokowi saat 2014 tak dapat diikuti Anies. Jokowi, kata Wawan, telah membangun kepercayaan publik sejak 2005 ketika menjadi Wali Kota Solo. Ia mampu memindahkan pedagang kaki lima di sana tanpa penggusuran, menjadikan Surakarta anggota Organisasi kota-kota Warisan Dunia pada 2006.
Sementara di Jakarta, Wawan menilai Jokowi menunjukkan kapasitasnya melalui penataan kampung, pasar, rumah susun, memberikan layanan kesehatan gratis, serta dana bantuan pendidikan bagi warga kurang mampu.
Sejumlah kinerja Jokowi terdahulu diyakini Wawan sebagai salah satu dasar masyarakat nasional memercayakan Indonesia kepadanya meski tak sempat menyelesaikan masa jabatannya di Jakarta.
"Harus dipahami Pak Jokowi tidak tiba-tiba muncul sebagai politikus. Dia memiliki portofolio sebagai pemimpin lokal yang bagus masa itu," ujarnya.
"Pak Anies kan tidak memiliki track record politik semacam itu, beliau sebelum menjadi gubernur tidak pernah menjadi pemimpin pada level tertentu yang bisa menunjukkan dia memiliki kapabilitas atau kapasitas kuat mengelola pemerintahan," ucap Wawan.
Wawan berpendapat akan lebih elok apabila Anies dapat menunjukkan prestasinya terlebih dahulu sebelum memenuhi ambisinya dalam pertarungan pimpinan nasional.
"Kecuali Pak Anies bisa menunjukkan kepemimpinan berbeda, kinerja yang luar biasa. Tapi itu, kan, tidak bisa tiba-tiba. Tunjukkan dulu Anies pemimpin yang bisa menyelesaikan banyak masalah baru. Kalau cuma simbol pertemuan emosionalitas saya kira tidak akan laku keras tahun depan," tuturnya. (wis/ugo)