ANALISIS

Di balik Sikap 'Malu-malu Kucing' Anies Menatap Pilpres 2019

Christie Stefanie, CNN Indonesia | Selasa, 17/07/2018 10:06 WIB
Di balik Sikap 'Malu-malu Kucing' Anies Menatap Pilpres 2019 Gubernur DKI Anies Baswedan belum bersikap tegas terkait kemungkinan dirinya maju sebagai capres atau cawapres di Pilpres 2019. (CNN Indonesia/Patricia Diah Ayu Saraswati)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dinilai masih malu-malu kucing tentang sikapnya untuk maju dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Padahal, namanya sering disebut-sebut sejumlah lembaga survei dalam bursa calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres).

Malu-malu kucing merupakan peribahasa yang diartikan, sebenarnya mau tetapi pura-pura tidak mau.

Sikap Anies menjelang pemilihan presiden 2019 belum jelas. Di satu sisi, Anies dalam sejumlah kesempatan menyatakan berkomitmen untuk mengurus Ibu Kota karena hal itu sesuai mandat yang diberikan 57,9 persen warga Jakarta. Tapi di sisi lain, ia juga tak pernah secara tegas menolak maju di Pilpres 2019. 


Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada Wawan Masudi menilai wajar Anies bersikap malu-malu mengenai Pilpres. Ia menyebut sikap itu lantaran Anies tak memiliki basis politik seperti partai politik atau organisasi kemasyarakatan (ormas) yang kuat.

"Anies ini, kan, tokoh yang hadir karena menjadi simbolisasi dan titik temu antarkepentingan yang tidak setuju dengan Ahok. Dia tidak pernah menyatakan diri sebagai anggota partai atau menjadi bagian organisasi terbesar di Indonesia," kata Wawan kepada CNNIndonesia.com.

Bungkamnya Anies diperkirakan juga karena masih menunggu komunikasi politik Partai Gerindra, PKS, Partai Demokrat, PAN, dan PKB yang belum menentukan pilihan.

Wawan menyebut Anies bukannya tanpa agenda politik. Sebagai seorang politikus, Anies diyakini memiliki agenda politik yang lebih dari sekadar menduduki kursi DKI1.

Wawan berpendapat ambisi seperti itu wajar dimiliki dan menjadi pembawaan politikus. Dan untuk momentum Pilpres, Wawan menduga Anies masih menunggu perkembangan negosiasi antara Gerindra, PKS, dan PAN yang sedang berembuk menentukan capres atau cawapres yang bakal diusung di Pilpres mendatang.

"Saya kira Anies sedang menunggu momentum tidak bisa bertemunya kesepakatan [antarpartai koalisi], dan nanti harapannya dia menjadi jalan keluar kemandekan negosiasi politik," tutur Wawan.

Tiru Jejak Jokowi

Kursi DKI1 sendiri memiliki nilai strategis. Berkaca dari pengalaman Joko Widodo, kursi DKI1 bisa menjadi batu pijakan bagi seseorang untuk bertarung di tingkat nasional yakni pemilihan presiden. 

Wawan menyebut skenario politik itu bisa terulang di era Anies. Namun, ujung ceritanya kemungkinan berbeda dengan yang dialami Jokowi.

Meski pernah menang di Jakarta, Wawan tak yakin kemenangan yang sama akan diperoleh Anies apabila maju dalam Pilpres 2019.

Menurutnya, langkah Jokowi saat 2014 tak dapat diikuti Anies. Jokowi, kata Wawan, telah membangun kepercayaan publik sejak 2005 ketika menjadi Wali Kota Solo. Ia mampu memindahkan pedagang kaki lima di sana tanpa penggusuran, menjadikan Surakarta anggota Organisasi kota-kota Warisan Dunia pada 2006.

Jokowi juga pernah menjadi wali kota terbaik ketiga saat di Solo berdasarkan penilaian The City Mayors Foundation pada 2012. Atas dasar itu, ia mampu meningkatkan kapasitasnya dengan menjabat Gubernur DKI Jakarta.

Sementara di Jakarta, Wawan menilai Jokowi menunjukkan kapasitasnya melalui penataan kampung, pasar, rumah susun, memberikan layanan kesehatan gratis, serta dana bantuan pendidikan bagi warga kurang mampu.

Sejumlah kinerja Jokowi terdahulu diyakini Wawan sebagai salah satu dasar masyarakat nasional memercayakan Indonesia kepadanya meski tak sempat menyelesaikan masa jabatannya di Jakarta.

"Harus dipahami Pak Jokowi tidak tiba-tiba muncul sebagai politikus. Dia memiliki portofolio sebagai pemimpin lokal yang bagus masa itu," ujarnya.

Hal semacam itu, kata Wawan, yang tidak dimiliki Anies. Sebelum menjadi Gubernur, ia seorang rektor Universitas Paramadina delapan tahun dan menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kurang dari dua tahun.

"Pak Anies kan tidak memiliki track record politik semacam itu, beliau sebelum menjadi gubernur tidak pernah menjadi pemimpin pada level tertentu yang bisa menunjukkan dia memiliki kapabilitas atau kapasitas kuat mengelola pemerintahan," ucap Wawan.

Wawan berpendapat akan lebih elok apabila Anies dapat menunjukkan prestasinya terlebih dahulu sebelum memenuhi ambisinya dalam pertarungan pimpinan nasional.

"Kecuali Pak Anies bisa menunjukkan kepemimpinan berbeda, kinerja yang luar biasa. Tapi itu, kan, tidak bisa tiba-tiba. Tunjukkan dulu Anies pemimpin yang bisa menyelesaikan banyak masalah baru. Kalau cuma simbol pertemuan emosionalitas saya kira tidak akan laku keras tahun depan," tuturnya. (wis)