Kapolri Tito Sebut Masyarakat Mudah Terpengaruh Tokoh Agama

Tiara Sutari, CNN Indonesia | Selasa, 17/07/2018 14:26 WIB
Selain mudah dipengaruhi tokoh agama, Kapolri Tito Karnavian juga menyebut masyarakat Indonesia berpotensi terpecah karena keadaannya yang belum sejahtera. Kapolri Tito Karnavian singgung kondiri masyarakat Indonesia saat ini. (REUTERS/Beawiharta)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengatakan masyarakat Indonesia masih banyak yang mudah dipengaruhi oleh pemikiran tokoh melalui isi cermah atau perdebatan.

Tak hanya tokoh agama, tetapi kata Tito tokoh budaya, adat, seni, aktivis, wanita maupun pemuda, hingga tokoh aktivis sosial.

"Mudah sekali terpengaruh. Apalagi tokoh-tokoh keagamaan. Secara realistis, de facto, tokoh agama itu paling didengar nomor satu oleh publik," kata Tito saat menghadiri acara Halal Bihalal dan silaturahmi Da'i Kamtibnas di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Selasa (17/7).



Maka dari itu, kata Tito, para Da'i tentunya memiliki peran penting dalam kehidupan bangsa dan negara. Mengingat sikap masyarakat yang tidak kritis dan nudah menyerap informasi ini.

"Masyarakat kita selain patrilinealistik dan low class, yang mungkin belum cukup secara ekonomi atau kurang secara pendidikan, sehingga, apa yang disampaikan tokoh-tokoh agama dianggap kebenaran dan tidak dikritik oleh masyarakat," jelas Tito.

Sebagai negara yang cukup besar, dan menyandang status sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, para dai di Indonesia ini kata Tito, memiliki peranan penting, mengingat hampir 85 persen di antaranya adalag warga muslim.

"Apalagi Da'i Polri, tentu sangat penting," katanya.


Para dai, lanjut dia, khususnya dai Kamtibnas yang merupakan mitra dari kepolisian tersebut tentu memiliki posisi strategis untuk menyebarkan kebenaran dalam setiap ceramahnya.

"Posisinya mirip sekali dengan tugas polri, kalau polri mengamankan maka dai harus memyebarkan kebaikan, bukan kebencian," katanya.

Berpotensi Terpecah Belah

Lebih dari itu, Tito menyebut negara Indonesia memiliki potensi terpecah belah. Hal ini disebabkan karena bangsa Indonesia hingga saat ini belum mampu membangun warga kelas menengah yang besar.

"Pecahnya di mana? ada dua, dari dalam internal, dan dari eksternal. Internalnya di mana, yang paling rawan adalah kita belum mampu membangun kelas menengah," kata Tito.

Perpecahan bangsa Indonesia dikatakan Tito bisa terjadi karena keadaan yang belum sejahtera. Kata dia, jika selama ini banyak yang mengira permasalahan agama, ras, suku bisa memicu perpecahan justru itu salah besar.

"Bukan masalah suku, ras, agama, No. masalah yang penting bagi bangsa ini yang bisa memecah belah justru kesejahteraan," kata dia.


Lebih lanjut Tito juga mengungkapkan permasalahan kesejahteraan ini telah terjadi sejak lama, bukan hanya saat ini. Masalah itu bahkan kata dia telah dimulai sejak era kepemimpinan Soekarno.

Untuk menghindari terjadinya perpecahan dan konflik yang berlarut-larut, Tito mengatakan cara mengatasinya dengan cara meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) dan ekonomi.

Hal tersebut pun kata dia bisa dilakukan dengan menciptakan warga kelas menengah yang lebih besar.

"Negara yang kuat adalah negara yang mampu ciptakan warga kelas menengah yang besar. Mereka (warga kelas menengah) mereka yang cukup secara ekonomi, terdidik, terlatih, memiliki daya nalar dan rasionalitas yang bagus," katanya.

(DAL/DAL)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK