Polri: Indonesia Tertinggi Kedua Kejahatan Siber di Dunia

Ramadhan Rizki, CNN Indonesia | Selasa, 17/07/2018 16:26 WIB
Polri: Indonesia Tertinggi Kedua Kejahatan Siber di Dunia Wakapolri menyebut negara tertinggi di dunia dengan kejahatan siber adalah Jepang. Setelah itu Indonesia dengan serangan dunia maya mencapai 90 juta kali. (CNN Indonesia/Martahan Sohuturon).
Jakarta, CNN Indonesia -- Wakil Kepala Kepolisian RI Komisaris Jenderal Syafruddin mengatakan bahwa Indonesia masuk dalam jajaran dua besar negara di dunia dengan kejahatan di dunia maya atau cyber crime.

Syafruddin mengatakan bahwa data yang dihimpun pihaknya mendapati 90 juta kali serangan siber terjadi di Indonesia selama Januari hingga akhir Juni 2016.

"Cyber crime di Indonesia tertinggi ke dua di dunia setelah Jepang. Total serangan cyber ini ada 90 juta," ujar Syafruddin saat memberikan pidatonya di acara yang diselenggarakan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Selasa (17/7).


Mantan Kapolda Kalimantan Selatan itu mengatakan data tersebut telah menunjukkan dampak negatif dari perkembangan dan kecanggihan teknologi informasi yang berkembang di Indonesia saat ini.

Tak hanya itu, ia juga membeberkan data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) yang merinci terdapat 800 ribu situs penyebar hoaks di internet yang telah diblokir sepanjang tahun 2015 hingga saat ini.

"Ada juga data dari cyber crime Bareskrim Polri sejak tahun 2015 mencatat ada 100 ribu akun di Medsos yang menyebarkan hate speech," ungkapnya.

Ia mengatakan bahwa perkembangan teknologi informasi saat ini justru menjadi 'pedang bermata dua' bagi pihak aparat keamanan. Di satu sisi dapat berdampak positif bagi kemudahan manusia, namun di sisi lain dapat menimbulkan berbagai ancaman bagi pertahanan negara.

Terlebih lagi, ancaman terorisme global saat ini tengah mengancam kedaulatan Indonesia karena bergerak melalui medium dunia maya dalam melakukan strategi penyerangan untuk menebar ancaman teror di masyarakat.

"Mereka memanfaatkan aplikasi media sosial seperti telegram, whatsApp untuk menyebarkan radikalisme, merekrut dan mengajarkan membuat bom, ini bahaya sekali," ungkapnya.

Melihat persoalan itu, Syafruddin meminta pemerintah dan masyarakat bersama-sama dapat mengembangkan teknologi bagi negeri sendiri agar tak ketinggalan zaman dengan negara lain.

Ia juga mengimbau agar pengembangan teknologi lokal dalam negeri dapat diprioritaskan oleh pemerintah agar tak melulu mengimpor teknologi dari negara lain yang justru banyak merugikan.

"Indonesia harus menguatkan teknologi kita, dan sumber daya kita dorong untuk penguasan teknologi tapi buatan Indonesia sendiri," pungkasnya (osc)