KPK Duga Jual Beli Fasilitas Lapas Sukamiskin Tersistematis

Joko Panji Sasongko, CNN Indonesia | Senin, 23/07/2018 12:36 WIB
KPK Duga Jual Beli Fasilitas Lapas Sukamiskin Tersistematis Ketua KPK Agus Rahardjo meminta Kemenkumham mereformasi tata kelola lapas. Sebab dugaan praktik jual beli fasilitas di Lapas Sukamiskin dilakukan sistematis. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A).
Jakarta, CNN Indonesia -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan jual beli fasilitas dan izin luar biasa bagi narapidana di Lapas Sukamiskin terjadi secara sistematis.

Ketua KPK Agus Rahardjo menilai masalah penyalahgunaan kewenangan di Lapas Sukamiskin tidak hanya dilakukan oleh Kalapas Sukamiskin Wahin Husen semata, tetapi sudah sistematik.

"Kami menganggapnya bukan oknum lagi, itu sudah sistematik," ujar Agus di Gedung DPR, Jakarta, Senin (23/7).


Atas masalah sistematik itu, Agus mendesak pihak terkait, dalam hal ini Kementerian Hukum dan HAM, melakukan reformasi tata kelola lapas. Hal itu dianggap penting agar pembinaan narapidana di lapas berjalan optimal.

"Kalau pengelolaannya banyak korupsi itu sangat memprihatinkan," ujarnya.

Di sisi lain, Agus juga menduga masalah jual beli fasilitas dan izin bukan hanya terjadi di Lapas Sukamiskin. Ia mengatakan beberapa lapas lain terindikasi praktik serupa dengan Lapas Sukamiskin sebagaimana laporan masyarakat.

"Kalau kami lihat di banyak tempat, suara itu sering muncul. Dan suara itu terbukti dengan OTT KPK. Jadi bukan hanya di Sukamiskin, tapi di banyak tempat," ujar Agus.

Sebelumnya, KPK melakukan operasi tangkap tangan di Lapas Sukamiskin, Sabtu (21/7). KPK mengamankan sejumlah orang, termasuk Kalapas Sukamiskin, Wahid husen.

Dalam OTT itu, KPK turut menyita uang sejumlah Rp279 juta dan US$1.410, serta dua unit mobil yakni Mitsubishi Triton Exceed dan Mitsubishi Pajero Sport Dakkar.

Setelah pemeriksaan, empat orang dijadikan tersangka dugaan suap jual beli fasilitas mewah sel dan izin keluar masuk lapas untuk narapidana.

Keempatnya, yakni Wahid Husen, narapidana kasus korupsi Badan Keamanan Laut (Bakamla) Fahmi Darmawansyah, pegawai Lapas Sukamiskin Hendry Saputra, serta seorang narapidana kasus pidana umum Andri Rahmat.

Fahmi diduga memberikan sejumlah uang dan dua unit mobil kepada Wahid lewat Hendry dan Andri. Pemberian tersebut dilakukan Fahmi agar mendapat sejumlah fasilitas di dalam sel dan kemudahan keluar masuk Lapas Sukamiskin. (osc)