"Akibat dua problem ini jelang pilpres, elektabilitas Jokowi tak beranjak di angka 35,7 persen," kata Direktur Riset Median Sudarto di bilangan Cikini, Jakarta, Senin (23/7).
Elektabilitas itu berdasarkan pertanyaan: jika pemilihan presiden dilakukan saat ini, siapakah yang Anda pilih menjadi Presiden RI?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu perihal menguatnya politik identitas belakangan ini, Sudarto melihat Jokowi menderita akibatnya.
Dalam survei Median mayoritas responden mengaku lebih lekat dengan identitas keagamaan dibanding identitas lain seperti identitas suku, nasional, dan identitas regional.
Sidarto memperkirakan identitas politik agama ini bakal terus menguat sampai pemilu tahun depan. Pasalnya dalam survei mereka, responden yang ingin politik dan agama tak dipisahkan sebesar 43 persen, sedangkan mereka yang ingin agama dan politik dipisah hanya 33,9 persen saja.
"Maka dari itu pertimbangan utama cawapres dari Jokowi harus yang menguasai dua isu tadi sehingga persepsi negatif Pak Jokowi bisa berkurang," tutur Sudarto.
Median melaksanakan survei ini pada 6-15 Juli 2018 dengan tujuan memetakan kompetisi Pilpres 2019.
Survei Median tak berbeda jauh dengan survei terbaru Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dalam survei LIPI, elektabilitas Jokowi juga masih di bawah angka 50 persen berdasarkan versi pertanyaan terbuka.
LIPI membuat dua versi pertanyaan terkait preferensi capres kepada 2.100 responden.
Pada versi pertanyaan terbuka, Jokowi dipilih oleh 45 persen responden, Prabowo 17 persen, dan Gatot Nurmantyo hanya 1 persen.
Lihat juga:Survei LSI: Posisi Jokowi Belum Aman |
Survei LIPI ini dilakukan dengan metode multistage random sampling di 34 provinsi, pada 19 April-5 Mei 2018. Margin of error-nya mencapai 2,14 persen. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap dan kuesioner. (wis)