Jejak Retak dan Luka Lama Hubungan SBY-Megawati

Prima Gumilang, CNN Indonesia | Kamis, 26/07/2018 20:14 WIB
Jejak Retak dan Luka Lama Hubungan SBY-Megawati Hubungan kedua pimpinan partai mulai dingin saat SBY memutuskan maju untuk bersaing dengan Megawati pada pilpres 2004. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengakui hubungannya dengan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri belum membaik. Luka lama kembali diungkit jelang pilpres 2019.

Usai bertemu dengan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan kemarin malam, SBY secara gamblang menjelaskan bahwa usahanya selama ini dalam memperbaiki hubungan tak pernah berhasil.

"Hubungan saya dengan Ibu Megawati, saya harus jujur, memang belum pulih, masih ada jarak," kata SBY di kediamannya kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (25/7).


"Ikhtiar untuk saya bisa menjalin komunikasi mungkin saya lakukan selama sepuluh tahun," ujarnya menambahkan.


'Perang dingin' di antara kedua pemimpin partai politik ini mulai tercium pada akhir 2003 ketika SBY memutuskan maju untuk bersaing dengan Megawati dalam pemilihan presiden 2004.

Saat itu SBY masih menjabat Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan (Menkopolkam) di era Presiden Megawati. Dia pun sering tampil di televisi untuk sosialisasi pemilu.

Megawati kecewa karena SBY seharusnya mundur dari jabatan Menkopolkam. Di tengah memanasnya situasi, Sekretaris Menkopolkam Sudi Silalahi mengungkapkan keluhan SBY yang tak diajak rapat kabinet dan merasa dikucilkan dari pihak istana.

Suami Megawati, Taufiq Kiemas, kemudian angkat suara kala itu. Dia menyebut SBY sebagai 'anak kecil' karena dianggap tak berani bicara langsung dengan Megawati ketika tidak diajak rapat kabinet. SBY justru berkoar di media massa.


Pernyataan Taufiq itu memunculkan simpati banyak orang kepada SBY sebagai pihak yang 'terzalimi'. Nama SBY terus meroket hingga bersama Jusuf Kalla memenangkan pemilu, mengalahkan Megawati yang juga maju sebagai capres petahana bersama Hasyim Muzadi.

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan bertemu di Kuningan, Jakarta. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Megawati sempat meneteskan air mata saat menyampaikan pesan agar semua pihak legowo menerima hasil pilpres 2004. Dia menolak hadir saat SBY-Jusuf Kalla membacakan sumpah presiden dan wakil presiden.

Perseteruan berlanjut hingga usai pemilu. Megawati enggan datang setiap undangan dari SBY, termasuk saat Indonesia menjadi tuan rumah Peringatan 50 Tahun Konferensi Asia Afrika pada 2005.

Pada pemilu 2009, Megawati kembali maju sebagai capres didampingi Prabowo Subianto. Pemimpin PDIP itu lagi-lagi kalah saat bersaing dengan SBY-Budiono.


Hubungan antara SBY dan Megawati makin merenggang. Mereka tak pernah berkomunikasi atau bertemu. Namun tidak dengan Taufiq Kiemas.

Taufiq mendukung SBY usai terpilih sebagai presiden untuk kedua kalinya. Begitu pula SBY di kemudian hari menginstruksikan kadernya di kursi parlemen untuk memilih Taufiq sebagai ketua MPR secara aklamasi.

Pada 2013 saat Taufiq wafat, SBY selaku presiden memimpin langsung upacara pemakaman di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Pada momen itu, SBY menggenggam erat tangan kanan Megawati dengan kedua tangannya.

"Mendiang Taufiq Kiemas, sahabat saya, juga berusaha untuk memulihkan silaturahmi kami berdua (dengan Megawati), jadi bukannya tidak ada kehendak dari banyak pihak tapi Allah belum menakdirkan," kata SBY, kemarin.

Jejak Retak Hubungan SBY-MegawatiPresiden Joko Widodo kembali mengadakan pertemuan dengan Ketua Umum PDIP Megawati Sukarnoputri di Istana Batu Tulis, Bogor. (Dok. Istimewa)
Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyebut pernyataan SBY tentang Megawati sebagai keluhan musiman jelang pilpres. Hasti mengatakan pergerakan politik SBY tersebut sengaja ditujukan untuk anaknya.

Hasto menuturkan jelang pilpres 2014 lalu, ada salah satu ketua umum partai yang mendesak Megawati agar bertemu SBY untuk memastikan kemenangan Jokowi. Namun Megawati menolak dan menegaskan Jokowi menang karena dukungan rakyat.

"Sekiranya pertemuan saya (Megawati) dengan Pak SBY dianggap sebagai faktor utama kemenangan Pak Jokowi, maka kasihan rakyat yang telah berjuang. Banyak rakyat kecil yang iuran 20-50 ribuan untuk Pak Jokowi. Masak dukungan rakyat yang begitu besar untuk kemenangan Pak Jokowi kemudian dinihilkan hanya karena pertemuan saya," kata Hasto dalam keterangan tertulis, menirukan ucapan Megawati kala itu.

SBY mengatakan selama ini dirinya selalu berusaha memperbaiki hubungan dan bergabung dalam kubu koalisi Jokowi. Namun kata SBY, ada hambatan bagi Demokrat untuk bisa bergabung dalam koalisi tersebut.

"Memang tidak terbuka jalan bagi Demokrat untuk berada dalam koalisi beliau (Jokowi)," katanya.


SBY menegaskan hambatan itu bukan datang dari Jokowi. Dia menilai Jokowi memiliki kesungguhan dan ketulusan untuk mengajak Demokrat bergabung dalam koalisi.

Namun menurutnya, sikap pemimpin partai koalisi yang membuat Demokrat sulit bergabung dengan kubu Jokowi. SBY pun memutuskan untuk mengambil jalannya sendiri.

"Tanpa meninggalkan luka apapun saya dengan Pak Jokowi, saya menghormati beliau, pernah mengajak bersama-sama di dalam pemerintahan, tetapi jalan itu tidak terbuka dengan baik, kami mengerti. Kami harus menentukan jalan lain yang sekarang sedang berproses," ujar SBY. (pmg)