Bunyi Batuk dan Sandal Berdebu di Reruntuhan Masjid Pemenang

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Kamis, 09/08/2018 06:35 WIB
Bunyi Batuk dan Sandal Berdebu di Reruntuhan Masjid Pemenang Sebuah alat berat membongkar bangunan Masjid Nurul Iman yang rusak akibat gempa bumi di Pemenang, Lombok Utara, NTB, Selasa (7/8). (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Jakarta, CNN Indonesia -- Masjid Jamiul Jamaah, Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) ambruk kala gempa berkekuatan 7,0 Skala Richter (SR) mengguncang Pulau Lombok. Diduga, banyak yang tertimbun karena ada suara-suara lirih dan batuk di balik reruntuhan.

Pada Minggu (5/8) malam, masjid itu menggelar salat isya berjamaah. Rumah ibadah itu tak jauh dari kediaman Lalu Muhammad Zohri, juara dunia U-20 lari jarak 100 meter.

Tak lama setelah salat selesai, gempa mengguncang selama beberapa detik. Beberapa jamaah sempat berlari menyelamatkan diri keluar bangunan. Nahas, beberapa jamaah lainnya masih di dalam saat dua lantai masjid itu runtuh sekaligus.


Gelap, aliran listrik terputus. Selang beberapa menit pascagempa, permintaan tolong dari belasan jemaah di balik reruntuhan mulai bersahutan; suara lirih, samar, namun tetap terdengar. Warga bahu-membahu mulai mencari asal suara.

Hudri (32), salah satu saksi mata mengatakan, bersama beberapa orang lain berhasil menyelamatkan tujuh orang dari dalam runtuhan.

"Tapi satu nyawa, seorang yang kami kenal betul, Pak Ahmad, wafat ketika kami evakuasi ke posko pengungsian," kata Hudri, dikutip dari rilis Aksi Cepat Tanggap (ACT), Rabu (8/8).

Sejumlah anggota Basarnas berusaha mengevakuasi jenazah korban yang meninggal akibat tertimbun reruntuhan Masjid Jabal Nur yang rusak akibat gempa bumi di Tanjung, Lombok Utara, NTB, Selasa (7/8).Sejumlah anggota Basarnas berusaha mengevakuasi korban yang meninggal akibat tertimbun reruntuhan Masjid Jabal Nur yang rusak akibat gempa bumi di Tanjung, Lombok Utara, NTB, Selasa (7/8). (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Namun, tak seorang pun yang tahu pasti berapa jamaah yang masih tertimbun reruntuhan masjid. Hanya sandal-sandal berdebu yang ditinggalkan pemiliknya menjadi bukti bahwa masjid itu berisi banyak jemaah malam itu.

Setidaknya, Hudri mengingat pasti bahwa seorang warga yang dikenalnya, Inak Salmah (60), diduga kuat masih tertimbun di dalam masjid dan dalam keadaan hidup. Posisinya ada di sisi depan masjid dekat pintu masuk sebelah kanan.

Saksi lain menyebut setidaknya ada lima orang yang masih tertimbun puing.

Fathul Azim, anggota Tim Emergency Response Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang membantu evakuasi di lokasi itu, mengaku masih mendengar bunyi lirih dan batuk.

"Kami di atas runtuhan memanggil nama, dibalas dengan suara lirih dan batuk. Suara batuk ini membuktikan laporan masyarakat yang masih mendengar ada suara 'minta tolong' di dalam runtuhan sejak Senin dan Selasa kemarin," ujar Azim.

Proses evakuasi dikebut dengan menggunakan beko atau ekskavator dari siang hingga petang. Sumber suara batuk menjadi patokan proses pencarian. Runtuhan beton dua lantai dipinggirkan satu persatu, namun penggalian itu tidak gampang.

Menara sebuah bangunan di Lombok Utara roboh akibat gempa, Selasa, 7 Agustus. Menara sebuah masjid di Lombok Utara roboh akibat gempa, Selasa, 7 Agustus. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
"Sangat sulit. Masjid dua lantai ini makin padat ke bawah. Satu-satunya cara, lubang bekas kubah kita gali. kita lakukan pemotongan besi. Kita menembus titik diduga posisi terakhir korban, kemungkinan adalah perempuan berusia sekitar 40-60 tahun," ujar Azim.

Pencarian hari kedua berhenti saat gelap. Namun posisi korban yang batuk dan minta tolong itu masih belum ditemukan.

"Kami sudah berusaha sampai menjelang gelap. Tapi posisi korban terdekat yang masih terdengar suara batuk tetap tidak ditemukan. Kami akan melanjutkan evakuasi penuh Rabu (8/8) pagi hingga sore," papar Azim, yang juga menjadi korban gempa setelah rumahnya di Sengiggi, Lombok, rata dengan tanah.

(arh/sur)