Politik Taktis Jokowi Versus Prabowo Pilih Cawapres

, CNN Indonesia | Sabtu, 11/08/2018 02:34 WIB
Politik Taktis Jokowi Versus Prabowo Pilih Cawapres Jokowi dan Prabowo dinilai lebih kepada pada kebutuhan politik taktis dalam memilih Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno sebagai cawapres. (CNN Indonesia/Christie Stefanie).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemilihan bakal calon wakil presiden oleh Joko Widodo dan Prabowo Subianto untuk Pilpres 2019 terbilang mengejutkan. Jokowi memilih Ma'ruf Amin, sementara Prabowo menunjuk Sandiaga Uno.

Pemilihan kedua nama cawapres itu tak banyak diprediksi sebelumnya. Sebab, di kubu Jokowi nama Mahfud MD justru yang makin kencang berhembus hingga detik-detik terakhir. Sedangkan Sandi sejak awal justru akan diplot sebagai juru kampanye Prabowo.

Pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Gun Gun Heryanto menilai Ma'ruf dan Sandi bukan cawapres yang idel bagi Jokowi dan Prabowo sendiri. Kedua nama itu justru tak lebih dari sekadar kebutuhan taktis politik Jokowi dan Prabowo dalam mengarungi Pilpres 2019.


"Saya melihat memang tidak ada yang benar-benar ideal, tapi kalau melihat kebutuhan taktis dan strategis dari keduanya, itulah yang terbaik yang bisa mereka dapatkan," ujarnya saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (10/8).

Gun Gun mengatakan kepentingan strategis Jokowi dengan memilih Ma'ruf adalah sebagai tokoh simbolik yang dapat menjadi solusi atas serangan isu berbasis agama. Sebab Ma'ruf merupakan representasi Nahdlatul Ulama karena menjadi Rais Aam organisasi Islam terbesar tersebut, di sisi lain dia juga merupakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Sehingga, Gun Gun menilai keberadaan Ma'ruf digunakan sebagai titik simpul keseimbangan politik. Maksudnya, sebagai upaya pencarian figur yang bisa diterima oleh semua partai penyokong.

Di samping itu, Ma'ruf bisa lebih diterima oleh banyak partai karena tentu terkait dengan kepentingan strategis parpol di 2024. Maka itu, Gun Gun berkeyakinan pemilihan Ma'ruf bukan terletak pada masalah elektabilitas.

"Jadi ada efek domino dari satu strategi politik jangka panjang masing-masing parpol yaitu di 2024 yang memengaruhi keputusan pilihan figur di 2019, itulah yang kemudian menyebabkan Kiai Ma'ruf dianggap solusi dibanding Mahfud MD," ucapnya.

Pun demikian dengan anggapan bahwa salah satu alasan Jokowi memilih Ma'ruf juga karena dia dianggap sebagai pakar ekonomi syariah membuat Gun Gun ragu. Dia mengeaskan, bahwa Ma'ruf dipilih lebih pada pertimbangan politik taktis.

"Saya melihat sebenarnya narasi itu narasi yang minor maksudnya kalau kerja teknokratis sepertinya memang bukan di Pak Ma'ruf. Jadi saya lihat lebih pada politik ke dibanding teknokratis," kata dia.

"Di ekonomi meskipun punya pengalaman di akademik ekonomi syariah tapi saya yakin pergulatan keseharian Kiai Ma'ruf bukan di situ. Oleh karena itu saya tidak yakin benar pertimbangannya karena kompetensi di wilayah ekonomi," ucapnya.

Sebesal Dua Belas

Sementara untuk Sandi, Gun Gun juga menilai bukan pilihan yang ideal bagi Prabowo. Hal tersebut karena Sandi juga berasal dari Partai Gerindra.

Kondisi itu, kata Gun Gun, akan membuat Prabowo-Sandi sulit untuk merangkul ke basis pemilih baru. Meski Sandi sudah mengajukan surat pengunduran diri dari Gerindra.

"Karena kalau kita bicara landscape politik biasanya pasangan itu adalah merangkul atau penetrasi ke basis pemilih baru. Sementara kalau Prabowo Gerindra, Sandiaga Gerindra sebenarnya kan pasangan ini punya potensi untuk tidak dapat penetrasi ke basis pemilih baru," tuturnya.

Di balik kekurangan Sandi itu, Gun Gun melihat ada kelebihan. Gaya dan pembawaan Wagub DKI itu dapat menarik suara kaum milenial. Apalagi kaum milenial merupakan potensi pasar suara yang bisa dikeruk pada tahun depan.

"Sandi tipikal anak muda yang memiliki potensi pasar di milenial. Kenapa? Karena Sandiaga adalah sosok yang komunikasinya jauh lebih fleksibel, penggunaan media cukup masif, lifestyle agak cocok untuk anak milenial, yang sebenarnya kurang lebih 43 persen pemilih kita besok ada di milenial," kata dia.

Meski demikian, Gun Gun belum dapat menyimpulkan siapa sosok yang lebih unggul untuk menggaet suara massa untuk masing-masing capresnya. Bagi dia masih terlalu dini untuk menilai siapa yang lebih unggul, Ma'ruf atau Sandi.

Satu hal jelas, bahwa kedua pasangan harus benar-benar bisa memanfaatkan masa kampanye yang akan dimulai 23 September mendatang untuk merebut hati pemilih. (osc/osc)