Analisis

Kemeja Putih Jokowi dan Pudarnya Nostalgia dengan Ahok

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Jumat, 10/08/2018 18:20 WIB
Kemeja Putih Jokowi dan Pudarnya Nostalgia dengan Ahok Bakal capres petahana Jokowi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden petahana Joko Widodo dan Ma'ruf Amin kompak mengenakan busana atasan putih saat mendaftarkan diri sebagai capres-cawapres ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jakarta Pusat, Jumat (10/8) pagi.

Jokowi mengenakan kemeja lengan panjang putih dengan lengan terlipat hingga atas pergelangan. Kemeja putih Jokowi tak polos karena ada sablon yang menggambarkan siluet sosok dirinya yang tengah melangkah seraya melipat lengan kemeja panjang, ditambah tulisan 'Bersih, Merakyat, Kerja Nyata'.

Sementara itu, Ma'ruf mengenakan kemeja putih berbalut jas putih dan selendang putih mengalungi lehernya.


Soal seragam jelang Pilpres 2019 itu sudah diungkap politikus senior PDIP Eva Kusuma Sundari pada 6 Agustus lalu.


Eva mengatakan Jokowi kembali akan melepas kemeja bermotif kotak yang sempat menjadi ciri khasnya kala mengikuti Pilgub DKI 2012 saat berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Kala itu, pendukung Jokowi-Ahok identik menggunakan baju kotak-kotak berwarna biru, merah, dan putih.

Pengamat komunikasi politik Universitas Bunda Mulia Silvanus Alvin menilai kemeja putih dipilih Jokowi karena ingin memberikan batasan dengan Ahok. Sebab selama ini, mantan Wali Kota Solo itu seringkali diserang isu politik identitas karena kedekatannya dengan Ahok.

Kemeja itu juga jadi cara Jokowi ingin memberi kesan ke publik bahwa dia sudah melupakan kenangan bersama Ahok.

"Terlihat Jokowi ingin memberikan batasan antara dirinya dan Ahok. Sebab selama ini ia kerap diserang politik identitas. Ibaratnya, Jokowi sudah move on. Kini ia punya pasangan baru," kata Silvanus kepada CNNIndonesia.com pada Jumat (10/8).

Namun menurut Silvanus, hal itu tak berarti Jokowi telah melepaskan tali silahturahminya dengan Ahok. Jokowi dinilainya bukan tipe yang melupakan teman lama.
Kemeja Putih Jokowi dan Pudarnya Nostalgia dengan AhokJokowi saat bersama Ahok di Pilgub DKI 2012. (Detikcom/Hasan Alhabshy).
Selain itu, kemeja putih yang tergulung setengah pun memperkuat citra diri Jokowi dengan pasangan barunya. Itu menandakan dirinya adalah sosok pemimpin yang mau bekerja keras dan bersih sehingga dapat dipercaya.

Lagi pula, kemeja putih juga sudah identik dengan Jokowi bahkan sejak menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Selain itu, saat bertarung bersama Jusuf Kalla pada Pilpres 2014, Jokowi pun menggunakan kemeja dengan motif sama sementara JK kemeja putih, dan keduanya dengan lengan terlipat.

Untuk saat ini Silvanus menilai pilihan warna itu untuk pilpres tahu depan dinilai sebagai hal yang tak mengejutkan.

"Lebih lanjut, agak kurang elok bila seorang Kyai menggunakan baju kotak-kotak," lanjut Silvanus.

Di tubuh Ma'ruf Amin yang merupakan seorang ulama, kemeja putih dinilai Silvanus menjadi simbol bersih dan kedamaian. Seragam putih itu mengukuhkan slogan 'bersih, merakyat, kerja nyata' yang terpampang di kemeja Jokowi.

"Citra seorang ulama yang dipandang bersih oleh umat ditegaskan melalui baju berwarna putih. Putih itu menandakan tidak bercela juga, memberikan makna bahwa pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin, bila terpilih, akan berjalan dengan bersih," imbuhnya.

Saat mendaftar ke KPU, Jumat (10/8), warna yang membedakan dari seragam Jokowi-Ma'ruf ada pada busana bawahan. Jokowi mengenakan celana panjang berwarna hitam dan bersepatu sneaker. Sementara itu, Ma'ruf Amin mengenakan sarung berwarna hijau yang diperketat dengan sabuk, serta menggunakan sandal tali sebagai alas kaki.
Kemeja Putih Jokowi dan Pudarnya Nostalgia dengan AhokKemeja putih Jokowi saat daftar ke KPU bersama Ma'ruf Amin. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari).


Berharap Kampanye yang Kondusif

Selain itu, Silvanus berharap pada pilpres tahun depan tak akan ada kampanye berbau SARA, terutama agama, yang berisiko menimbulkan konflik horizontal.

Dengan digandengnya Ketua Umum MUI tersebut oleh Jokowi, Silvanus menilai proses kampanye Pilpres mendatang akan lebih kondusif. Pasalnya, isu-isu Jokowi tidak pro-Islam akan mereda.

"Hal ini memang menimbulkan konotasi bahwa Jokowi bertamengkan atau menggunakan perlindungan Ma'ruf Amin. (Tapi) implikasinya, pihak-pihak lawan yang mau menyerang dengan politik identitas juga akan segan karena background dari Ma'ruf Amin. Masa menyerang ulama yang terhormat," tutupnya.

Sebelumnya, pada Pilkada DKI kemudian Pilpres 2014 kemeja kotak-kotak dipilih Jokowi sebagai simbol kekayaan perbedaan suku, ras, etnis, dan golongan di Indonesia yang bisa hidup berdampingan. Kemeja itu juga setengah digulung sebagai tanda bahwa sebagai pejabat Jokowi siap terjun ke lapangan.

(kid)