Aksi Joni Disamakan dengan Insiden Perobekan Bendera Belanda

Mesha Mediani, CNN Indonesia | Senin, 20/08/2018 15:34 WIB
Aksi Joni Disamakan dengan Insiden Perobekan Bendera Belanda Mendikbud Muhadji Effendy mengapresiasi aksi Joni saat HUT RI ke-73. Dia menyamakan aksi tersebut dengan insiden perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, Surabaya, 10 November 1945. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menerima Yohanis Gama Marschal Lau alias Joni, bocah pemanjat tiang bendera dalam upacara HUT Ke-73 RI di Desa Silawan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Joni, ibunda, serta perwakilan Pemprov NTT diterima oleh Muhadjir di Gedung Kemendikbud, Senin (20/8) pagi.

Saat melihat video Joni memanjat tiang bendera yang viral di media sosial, Muhadjir mengaku meyakini aksi tersebut bakal ramai diberitakan. Muhadjir pun langsung memerintahkan stafnya untuk mengontak keluarga Joni dan mengundangnya ke Jakarta. Terlebih, Joni juga diundang ke Istana oleh Presiden Joko Widodo.

"Saya sangat mengapresiasi tindakan nekat Joni. Nekat dalam arti yang positif. Secara simbolik itu kan bentuk patriotisme zaman now," kata Muhadjir saat konferensi pers di kantornya, Senin (20/8).


Aksi patriotik itu lantaran Joni berani mengambil risiko ketika tali bendera yang hendak dikibarkan putus. Muhadjir pun menyamakan aksi Joni dengan peristiwa perobekan bendera Merah-Putih-Biru (Belanda) menjadi bendera Merah-Putih (Indonesia) di Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit), Surabaya pada 19 September 1945.

Setelah kejadian itu, terjadi sejumlah perang pasukan Indonesia melawan pasukan Belanda dan sekutu, dimulai dari perang pertama dengan tentara Inggris pada 27 Oktober 1945 hingga pertempuran 10 November 1945.

"Secara simbolik itu maknanya hampir sama dengan Peristiwa 10 November, ketika ada anak muda yang inisiatif memanjat bendera merah-putih-biru. Kemudian dia sobek birunya, jadi dikibarkan merah-putihnya," kata Muhadjir.

Jika insiden Hotel Yamato dalam upaya merebut kemerdekaan, aksi Joni pun disebut Muhadjir sebagai simbol mempertahankan kemerdekaan.

Muhadjir pun berharap aksi Joni mampu menjadi contoh penguatan pendidikan karakter (PPK) yang berhasil di sekolah. Terdapat lima pendidikan karakter yang Kemendikbud tekankan. Pertama, religiusitas yakni aspek cara-cara beragama yang benar termasuk toleransi beragama.

Kedua, nasionalisme patriotisme. Ketiga, integritas. Keempat, kemandirian. Kelima, gotong royong.

"Jadi sekolah-sekolah kita dengan program PPK itu kita harapkan suasana kehidupannya sehari-hari diwarnai dengan lima nilai itu," kata Muhadjir.

Kepada Joni, Kemendikbud pun memberikan bantuan antara lain berupa beasiswa sampai tingkat SMA, alat belajar, dan satu unit laptop. (osc)